Apakah Membunuh Pemimpin Kelompok Teroris Dapat Mengubah Keadaan?

apakah-membunuh-pemimpin-kelompok-teroris-dapat-mengubah-keadaan2

Berbagai macam strategi dilakukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya dalam upaya mengalahkan apa yang mereka sebut sebagai “teroris”. Salah satunya adalah dengan strategi “decapitation”, yaitu membunuh pemimpin, tokoh, atau orang penting yang menduduki posisi tertentu dalam kelompok teroris. Namun, para pakar kontraterorisme masih berdebat, apakah strategi ini memiliki dampak yang signifikan, atau hanya sedikit efeknya bagi kelompok teroris.

Terdapat analisi menarik di situs nytimes.com mengenai seberapa efektif pembunuhan pemimpin teroris (dalam perspektif Amerika -red) yang layak untuk dikaji.

Kelihatannya jelas: membunuh pemimpin teroris seharusnya mampu melemahkan organisasi mereka, menghilangkan arahan strategis dan keterikatan ideologis dari kelompok teroris tersebut. Kematian seseorang seperti Abu Muhammad al-Adnani, tokoh senior Islamic State yang dilaporkan tewas pada Agustus lalu di Suriah, tampaknya seperti pukulan yang signifikan untuk kelompok tersebut.

Tapi para peneliti telah berjuang untuk membuktikan bahwa membunuh pemimpin adalah cara yang efektif untuk menggulung organisasi teroris, alih-alih mencari bukti bahwa hal itu hanya membuat sedikit perbedaan. Penelitian itu tampaknya berlaku bagi Islamic State, yang juga dikenal sebagai ISIS atau ISIL, yang dengan atribut “negara”, membuatnya tahan terhadap kehilangan tokoh utama seperti Al Adnani.

Dua hal yang mampu membuat kelompok teroris bertahan setelah kematian seorang perwira senior, menurut penelitian oleh Jenna Jordan, seorang profesor Georgia Tech dan ahli terkemuka pada kontra-terorisme.

Yang pertama adalah dukungan rakyat. Kelompok teroris membutuhkan aliran rekrutmen dan wadah tampungan bagi calon pemimpin baru yang potensial. Dukungan di kalangan warga sipil di daerah-daerah di tempat kelompok tersebut beroperasi juga membuat mereka lebih stabil, dengan memperluas jaringan dukungan dan membantu mengamankan masyarakat sipil bila diperlukan. Pemimpin kelompok teroris biasanya dibunuh di dalam atau di dekat komunitas masyarakat yang mendukung mereka, sehingga masyarakat bersimpati  pada kelompok teroris dan melawan siapa pun yang melakukan pembunuhan itu.

Meskipun mungkin sulit untuk membayangkan bahwa masyarakat akan mendukung  Islamic State, kontrol kelompok tersbut atas beberapa bagian dari teritori Suriah dan Irak dan banjirnya rekrutan dari luar negeri telah menunjukkan daya tarik yang dimiliki Islamic State. Kelompok militan religius lebih baik dalam menahan serangan, kata Profesor Jordan, karena keterikatan mereka didasarkan pada identitas bersama, yang melampaui ketokohan pemimpin individu.

Hal kedua adalah, biasanya,  bukan sesuatu yang berhubungan dengan kelompok-kelompok teroris seperti Islamic State, yaitu birokrasi. Semakin dekat kelompok teroris menyerupai bagan organisasi perusahaan – berkaitan dengan administrasi, penggajian dan staf logistik – maka kelompok tersebut akan lebih stabil, dan lebih mampu menghadapi kematian seorang pemimpin.

Sama seperti birokrasi lainnya, kelompok-kelompok tersebut memiliki hierarki, aturan internal dan pembagian tanggung jawab. Kejelasan hierarki ini berarti mudah untuk mengganti pemimpin dengan wakilnya. Hal ini juga membuat stabil organisasi: Jika salah satu gigi rontok, mesin masih bisa berfungsi.

Untuk sebuah kelompok besar dan kompleks seperti Islamic State, infrastruktur yang mereka miliki terlalu besar untuk dihancurkan oleh sebab satu orang, bahkan seorang pemimpin puncak.

apakah-membunuh-pemimpin-kelompok-teroris-dapat-mengubah-keadaan
Itulah sebabnya mengapa para pakar terorisme telah berulang kali menyimpulkan bahwa membunuh atau menangkap pemimpin teroris – dikenal sebagai strategi “pemenggalan kepala” – adalah bukan strategi yang efektif.

Robert A. Pape, seorang profesor  dari University of Chicago, menulis dalam sebuah jurnal tahun 2003, yang banyak dikutip, bahwa Israel dan pemerintah lainnya telah menghabiskan lebih dari 20 tahun berfokus pada membunuh atau menangkap pemimpin teroris dan hanya sedikit menemukan kesuksesan.

“Meskipun “pemenggalan kepala” organisasi teroris dapat mengganggu operasi mereka sementara waktu, tetapi jarang menghasilkan keuntungan jangka panjang,” tulis Profesor Pape.

Itulah sebabnya mengapa para pakar terorisme telah berulang kali menyimpulkan bahwa membunuh atau menangkap pemimpin teroris – dikenal sebagai strategi “pemenggalan kepala” – adalah bukan strategi yang efektif.

Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan bisa menjadi bumerang. Pemerintah yang terlibat dalam “targetted killing” beresiko memaksa pemerintah melakukan negosiasi politik. Daniel Byman, seorang analis dari Brookings Institution yang berfokus pada kontraterorisme Israel, telah menulis bahwa kebijakan “decapitation” telah menyebabkan kelompok teroris Palestina untuk melakukan desentralisasi, yang akhirnya membuat mereka memberi ancaman lebih.

Namun, penelitian ini masih bias. Sebagaimana salah satu jurnal menyebutkan, kesimpulan yang pasti bahwa hal itu (decapitation) akan menyebabkan kelompok teroris menyiapkan eksperimen yang tidak diinginkan dan juga tidak disadari.

Sebuah jurnal yang ditulis oleh Patrick B. Johnston, seorang peneliti RAND, lebih mendukung serangan “pemenggalan” tersebut. Namun,  Johnston mendapati bahwa serangan berulang terhadap kelompok teroris, dalam beberapa kasus, dapat meningkatkan kemungkinan kekalahan kelompok teroris tersebut. Tapi serangan seperti itu saja, menurutnya, tidak cukup.

Salah satu hal penting yang disebutkan dalam jurnal ini adalah pengakuan bahwa kelompok teroris, merupakan fenomena politik. Mereka tidak dapat sepenuhnya dikalahkan tanpa mengatasi akar politik mereka, termasuk seluruh dukungan lokal yang mereka nikmati.

Abu Musab Al-Zarqawi, pemimpin cabang Irak Al Qaeda, tewas pada tahun 2006 di kala Sunni Irak dalam jumlah besar berbalik melawan kelompok Al Qaeda. Kematiannya adalah hasil dari kemerosotan kelompoknya. Kematian Osama bin Laden, pada tahun 2011, juga terjadi setelah perang darat selama satu dekade untuk mengusir Al Qaeda dari Afghanistan dan upaya yang menyertainya di Pakistan.

Jika membunuh pemimpin teroris hanya berefek sedikit untuk mengalahkan kelompok-kelompok teroris, maka mengapa negara-negara seperti Amerika Serikat sering memanfaatkan strategi seperti ini? Mempertimbangkan di mana strategi ini telah dikerahkan: Suriah, Somalia, wilayah kesukuan Pakistan dan Yaman.

Ini adalah tempat di mana Amerika Serikat akan percaya memiliki sedikit pilihan. Menargetkan pemimpin teroris mungkin tidak membuat banyak perbedaan, tapi berbiaya murah, dan berisiko rendah untuk Amerika Serikat (meskipun tidak selalu untuk warga sipil di sekitar lokasi serangan), dan membuat para pemimpin Amerika tetap dipercaya dan mengatakan mereka telah melakukan sesuatu. Tapi hanya ada sedikit bukti bahwa kematian pemimpin teroris, apa pun nilai politik mereka di Amerika Serikat, membuat banyak perbedaan di medan perang.