Penindasan Brutal Militer Myanmar Paksa Muslimin Rohingya Mengungsi ke Bangladesh

penindasan-brutal-militer-myanmar-paksa-muslimin-rohingnya-mengungsi-ke-bangladesh2

Gelombang kekerasan militer Myanmar terhadap muslimin Rohingya terjadi akibat lemahnya pengawasan militer di bawah tujuh bulan pemerintahan  Aung San Suu Kyi. 

 

Jumlah muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh karena tindakan keras militer di Myanmar barat mengalami peningkatan signifikan, menurut warga dan pejabat militer Bangladesh. Beberapa muslim Rohingya ditembak ketika mereka mencoba menyeberangi Sungai Naaf yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh. Sedang yang berpindah dengan perahu diusir oleh penjaga perbatasan Bangladesh, ungkap warga Bangladesh seperti dikutip kantor berita Reuters pada Rabu (16/11).

Sebanyak 130 orang meninggal dunia dalam gelombang kekerasan terakhir di negara itu, menurut tentara Myanmar.

Pembantaian oleh militer Myanmar ini  merupakan kekerasan terparah setelah gelombang kekerasan di Myanmar barat, Rakhine, pada tahun 2012 yang menelan ratusan warga tak bersalah.

Kurangnya pengawasan militer oleh pemerintahan Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian Dunia, sejak tujuh bulan yang lalu menjadi penyebab tindak kekerasan massal tersebut.

Tentara Myanmar telah memenuhi wilayah di sepanjang perbatasan Myanmar dengan Bangladesh guna menanggapi serangan terkoordinasi di tiga pos perbatasan pada tanggal 9 Oktober yang menewaskan sembilan polisi.

Distrik yang sebagian besar dihuni penduduk Rohingya tesebut ditutup oleh militer Myanmar. Akses bantuan kemanusiaan dan pengamat independen juga mereka hambat hingga tidak bisa masuk. 

Tentara Myanmar mengintensifkan serangan ke penduduk sipil dalam operasi di tujuh hari terakhir dengan menggunakan senjata dan helikopter hingga puluhan orang dilaporkan tewas.

Pekerja bantuan, penghuni kamp dan pihak berwenang di Bangladesh memperkirakan bahwa sedikitnya 500 Rohingya telah melarikan diri dari Myanmar sejak Oktober.

penindasan-brutal-militer-myanmar-paksa-muslimin-rohingnya-mengungsi-ke-bangladesh3

Derita Pengungsi, Diusir di Perbatasan Bangladesh

Penjaga perbatasan Bangladesh memaksa sekelompok besar Rohingya yang mencoba untuk menyeberang pada hari Selasa untuk kembali ke Rohingya.

“Selasa dini hari, 86 Rohingya termasuk 40 perempuan dan 25 anak-anak dipaksa kembali oleh BGB [Bangladesh Rifles] dari titik perbatasan Teknaf,” kata Letnan Kolonel Anwarul Azim, komandan dari sektor Cox Bazar di Bangladesh timur.

Sumber Reuters mengatakan bahwa kelompok Rohingya tidak mungkin telah kembali ke desa-desa meeka di Myanmar, meeka kemungkinan terdampar di laut.

Tokoh masyarakat Rohingya yang dikonfirmasi kantor berita AFP pada Selasa (15/11) mengatakan bahwa sekitar 200 Muslim Rohingya terdampar di perbatasan Bangladesh.

PBB telah mengatakan bahwa pengungsi  Rohingya sebagai salah satu kaum yang paling teraniaya di dunia.

Mereka dicap sebagai imigran ilegal oleh Bangladesh. Pemerintah Bangladesh menolak menerima ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di sisi perbatasannya.

Sedang oleh pemerintahan Myanmar, mereka diperlakukan secara tidak manusiawi hingga ditolak kewarganegaraannya meskipun memiliki akar sejarah kuat di sana. 

sumber: Aljazeera