Taliban Tegaskan Tolak Berdamai dengan Amerika Serikat

Taliban tegaskan tolak berdamai dengan Amerika Serikat dan pada saat yang sama menekankan bahwa mereka bersama mujahidin di seluruh dunia, termasuk Al-Qaidah.

Taliban kembali menegaskan penolakannya terhadap “pembicaraan damai” yang dipropagandakan Barat dan mempromosikan kelanjutan aliansi dengan mujahidin, khususnya Al-Qaidah. Pesan tersebut  disampaikan dalam video yang baru dirilis (9/10) dengan judul Bond of Nation with the Mujahideen (Ikatan Keumatan dengan Mujahidin).

Video ini diproduksi oleh Manba ‘ Al-Jihad, sayap media yang sebelumnya berafiliasi dengan simpul Taliban yang dikenal sebagai Jaringan Haqqani. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, ‘rumah produksi’ media tersebut diintegrasikan dengan divisi media Taliban dan dipublikasikan melalui situs resmi Taliban. Publikasi juga dilakukan melalui akun-akun media sosial yang berafiliasi dengan sejumlah juru bicara atau petugas resmi kelompok tersebut.

Rilisan video kali ini juga dikaitkan dengan Komisi Kebudayaan Emirat Islam Afghanistan (EIA). EIA adalah nama resmi yang terus dipakai Taliban sejak invasi militer Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001. Sampai akhir tahun tersebut, Taliban menjalankan pemerintahan yang independen atas sebagian besar wilayah Afghanistan. Nama tersebut tetap dipertahankan sebagai pemupuk cita-cita bagi mujahidin dan umat Islam untuk bisa membangkitkan kembali negara Islam di Afghanistan.

Publikasi video ini awalnya diketahui dari akun Twitter أسد أفغان @asadafghan33 yang berafiliasi kepada Kepala Cabang Multimedia dari Komisi Kebudayaan EIA.[1] Isi video tersebut berupa film dokumenter yang dibuka dengan cuplikan Menteri Luar Negeri John Kerry dan Presiden Barack Obama yang membahas prospek kesepakatan damai dengan Taliban.

taliban-1

Taliban merespons hal tersebut dengan pesan audio lama dari Mulla Akhtar Muhammad Manshur, yang menjabat sebagai Amir Taliban pada tahun 2015 setelah kelompok tersebut mengabarkan secara resmi bahwa Mulla Muhammad Umar Mujahid—pemimpin pertamanya—telah meninggal dua tahun sebelumnya. Kemudian Mulla Akhtar Manshur gugur dalam serangan udara AS pada bulan Mei 2016.[2]

Mulla Akhtar Manshur menggambarkan “perdamaian dan proses rekonsiliasi ” hanyalah “klaim belaka dari musuh”. Menurutnya, para musuh Taliban telah mencoba untuk “melemahkan” jihad dengan “uang, media, dan ulama yang menyimpang”. Mereka juga mencoba “untuk memecah-belah kesatuan Mujahidin,”  dan mereka gagal, katanya. “Kita tidak perlu mendengarkan propaganda ini, tidak pula ‘Pembicaraan Damai’,” kata Mulla Akhtar, “Dan jihad ini akan berlanjut sampai Kalimah Allah dan Syariah diimplementasikan.”

Para pejabat Taliban sering mengklaim bahwa mereka mempertimbangkan negosiasi dengan Barat. Namun, Taliban menggunakan peluang pembicaraan tersebut untuk mengekstrak konsesi, tanpa menggadaikan apa pun yang termasuk prinsip-prinsip dasarnya. Negosiasi ini berbeda dengan isu “pembicaraan damai” yang disinggung dalam video ini karena kepemimpinan senior Taliban dengan tegas menolaknya.

Video ini juga menampilkan kutipan ayat Al-Qur’an yang menekankan ikatan antara bangsa Muslim Afghanistan dan mereka yang berhijrah untuk berjihad di jalan Allah. Dalam visualisasi tampak penekanan hubungan khusus antara Taliban dan Al-Qaidah. Gambar di bawah ini—misalnya—memuat foto-foto figur-figur penting Taliban yang sejajar dengan Usamah bin Ladin dan para tokoh Al-Qaidah, seperti Nashir Al-Wuhaisyi (Amir Al-Qaidah di Jazirah Arab yang gugur tahun lalu).

taliban2

Tampak pula kutipan terjemahan makna surah Al-Anfal ayat ke-74:

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman serta memberikan pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia.”

Video ini juga menampilkan sebuah kutipan pesan suara  yang direkam dari pidato Mulla Sirajuddin Haqqani (lihat di bawah), salah satu dari wakil pemimpin tertinggi Taliban. Haqqani diketahui telah lama berhubungan erat dengan Al-Qaidah. Hubungan ini terdokumentasi dalam kumpulan file Usamah bin Ladin.[3] Dalam rekaman tersebut Haqqani memuji pendirian Emirat Islam Afghanistan oleh Taliban. Ia mengatakan bahwa EIA bukan didirikan untuk “ketenaran” atau karena orang-orang yang menginginkan “kedudukan”. Namun, EIA ada untuk menerapkan syariat Allah “di atas bumi ini”.

taliban3

Haqqani mengatakan bahwa “mungkin saja” terdapat sejumlah perbedaan pendapat di antara mujahidin. Namun, perbedaan ini tidak harus diperuncing “sampai tingkat yang mempengaruhi perjuangan kita secara keseluruhan di jalan ini.” Mulla Haqqani juga menekankan bahwa kaum Muslimin “baik di dalam maupun di luar (Afghanistan ) mengikuti kita dalam klaim (janji) yang telah kita buat,” yaitu usaha mujahidin untuk menegakkan (kembali) emirat Islam, khususnya di Afghanistan. Lebih lanjut, Mulla Haqqani juga menggarisbawahi bahwa “Muslimin, baik di dalam maupun di luar (Afghanistan) telah menerima manhaj (metodologi) kita tanpa keberatan.” Di mata Mulla Haqqani, ini “menunjukkan bahwa para pejabat dan perwakilan kita secara efektif dan efisien telah melaksanakan tugas mereka.”

taliban4

Sebuah klip dari Syekh Khalid Batharfi juga disertakan dalam video ini (tampak di atas). Tokoh yang juga dikenal dengan julukan Abul Miqdad Al-Kindi ini termasuk ulama di jajaran petinggi Al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP). Syekh Batharfi adalah mujahid yang pernah berjuang di Afghanistan pada era 1990-an. The Long War Journal menilai bahwa tokoh ini diduga kuat sebagai bagian dari tim manajemen global Al-Qaidah. Sebelumnya, para petinggi AQAP sebelumnya—seperti Nashir Al-Wuhaisyi dan Syekh Nashir Al-Anisi–juga tercatat memainkan peran ganda, baik sebagai pejabat regional Al-Qaidah di Yaman maupun sebagai deputi atau asisten deputi dari Amir Al-Qaidah Pusat.[4]

“Saudara-saudara Muslimin! Saudara-saudara Afghan kita yang tercinta, yang telah menunjukkan dukungan besar terhadap agama Allah tentu saja merupakan teladan yang sangat baik bagi Anda,” kata Batharfi. “Seluruh dunia melihat bagaimana Amirul Mukminin Mulla Umar, Taliban, dan rakyat Afghan dengan gagah berani berdiri dan masih tetap berdiri di samping saudara-saudara mereka, Mujahidin, dan Muhajirin dari Arab maupun non-Arab.”

Di pucuk para Muhajirin Jihadi ini adalah “Syekh kita dan Imam Mujahid Usamah bin Ladin (semoga Allah menerima kesyahidannya),” kata Syekh Batharfi, yang mengacu pada fakta bahwa Taliban tidak pernah meninggalkan Usamah bin Ladin berjuang sendiri bersama Al-Qaidah, bahkan setelah Peristiwa 11 September. Kemudian Syekh Batharfi mengungkapkan sanjungan kepada pada Taliban dan mengatakan bahwa jihad Afghanistan akan “menghancurkan” AS.

“Kelompok-kelompok dari Mujahidin Afghan telah muncul dari tanah bangsa Afghan, yang akan menghancurkan berhala terbesar dan pemimpin kekufuran zaman kita, Amerika,” kata Syekh Batharfi. Ia melanjutkan, “Emirat Islam Afghanistan telah dikorbankan dan bahkan dihancurkan dalam rangka membela agama kita yang suci, tetapi mereka (Taliban) tidak menukar agamanya.” Syekh Batarfi juga mengatakan bahwa pada akhirnya Mujahidin akan “melihat cahaya kemenangan,” dengan meraih tamkin (memerintah) menurut “aturan Syariah” yang “lebih kuat di Afghanistan daripada sebelumnya.”

taliban5

Adapun dalam klip audio yang lain ditampilkan pesan dari Amirul Mukminin Hibatullah Akhund Zadah, amir Taliban saat ini. Ia menjelaskan bahwa “mujahidin harus sangat lemah lembut terhadap umat Islam dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir.” Amirul Mukminin percaya bahwa umat Islam harus diberi kesempatan untuk bertobat serta melihat kembali kesalahan mereka yang tak terhindarkan dari jalan hidup dan ibadah mereka yang belum baik.

Ideolog lain, yaitu Syekh Neda Muhammad Nadeem, juga berbicara dalam nada yang sama, yang menganjurkan kepada Mujahidin agar menggunakan pendekatan yang populis. “Kita semua, apakah Mujahidin atau kalangan awam, harus memahami bahwa masyarakat umum tidak bisa sukses tanpa bantuan dan dukungan dari para Mujahidin. Demikian pula Mujahidin tidak bisa sukses tanpa bantuan dan dukungan dari masyarakat umum,” kata Syekh Neda. Oleh karena itu, “Mujahidin harus berinteraksi dengan masyarakat umum dengan cinta, perilaku yang baik, dan toleransi.”

Keinginan Taliban untuk memenangkan dukungan publik menunjukkan konsistensi dengan peran mereka sebagai insurgen atau kelompok perlawanan, di mana perjuangan gerilya sering kali membutuhkan dukungan kuat dari warga untuk mencapai tujuan mereka. Pendekatan inilah yang kini ditempuh oleh Taliban, Al-Qaidah, dan kelompok Mujahidin lain yang sejalan, dengan pendekatan yang lemah lembut dalam memperkenalkan syariat Islam daripada mengalienasi masyarakat dan memaksakan hukum hudud atau pidana dengan gambaran yang kejam.

Penggambaran secara positif bagaimana Taliban menerapkan Syariat mewarnai film dokumenter ini. Termasuk adegan ketika anggota Taliban membagi-bagikan permen kepada anak-anak, memberikan jaminan keamanan di daerah pedesaan, serta bagaimana dengan lembut Taliban menghukum seorang pemilik toko yang menjual CD dan barang dagangan yang melanggar standar moral Islam. Dalam video tampak pemilik toko dengan segera menyetujui untuk menyerahkan material yang menyinggung, yang kemudian dibakar dengan diiringi ungkapan “Matilah Amerika!” Salah satu pembicara dalam video juga mengungkapkan, “Mujahidin ingin sepenuhnya menyingkirkan demokrasi.”

Pada saat bersosialisasi, Taliban juga menampakkan dirinya sebagai kekuatan yang ramah. Dalam video salah satu anggota Taliban mengkritik warga Afghanistan yang tidak ikut berjihad. Ia berargumen, jika wanita Barat saja dapat diajak berperang maka apa lagi alasan para pemuda Muslim untuk tidak berjuang?!

Sikap anti-Amerika ditunjukkan secara penuh oleh Taliban dalam video ini. Meskipun kelompok ini sering digambarkan dalam konteks lokal atau nasionalis, beberapa cuplikan dalam video in membawa ide-ide global yang cukup jelas. Taliban berbicara tentang umat, yaitu Muslimin di seluruh dunia Islam, dan keinginan jihadi untuk membebaskan kembali semua negeri Islam yang “hilang”.

Salah satu teks di bagian bawah cuplikan di video berbunyi: “Mujahidin adalah harapan umat Islam untuk menghidupkan kembali kehormatan umat Islam!…Sebuah harapan untuk merebut kembali negeri-negeri Islam! Sebuah harapan untuk tidak mengulangi kekalahan dan tragedi abad terakhir!”

Amerika tampak berdiri menghalangi jalan mereka. Taliban menuding bahwa AS ingin menciptakan jarak antara kaum Muslimin dengan agama mereka. Taliban menegaskan, Mujahidin akan membuat Amerika membayarnya. “Allah akan menjadikan Gedung Putih berguncang karena semangat keagamaan Mujahidin, dengan izin Allah,” demikan Taliban mengancam.

Taliban juga menyampaikan argumen yang sangat mirip dengan yang disampaikan Al-Qaidah pada era ’90-an. Dahulu Al-Qaidah sering mengungkapkan bahwa AS telah menopang para diktator yang berdiri menghalangi jalan jihad di negeri-negeri kaum Muslimin.

“Sementara sosok-sosok murahan dan rendahan memerintah negeri-negeri kaum Muslimin dengan paksa dan secara tirani, umat Islam tidak menyandarkan harapan mereka kepada para perampok tersebut. Mereka dipaksakan berkuasa di negeri-negeri kaum Muslimin oleh Eropa dan Amerika,” bunyi narasi Taliban mengatakan. Pada saat yang sama ditampilkan video Menteri Luar Negeri John Kerry dan Presiden Obama. “Para penguasa yang bodoh ini kurang percaya diri dan krisis kepercayaan (di antara umat Muslim).” Inilah sebabnya, menurut Taliban, “Muslimin yang ikhlas menganggap jihad menjadi kemuliaan sejarah Islam terbesar dan segenap harapan mereka tertuju kepada Mujahidin.”

Dalam konteks jika ada keraguan atau kesimpang-siuran terkait ideologi Taliban, video ini telah memperjelas bagaimana akidah dan sikap politiknya. Tampak bahwa Emirat Islam Afghanistan memiliki pandangan yang sejalan dengan Tanzhim Al-Qaidah.  Terakhir, salah satu pembicara menegaskan, “Islam bukan hanya agamanya Taliban. Bukan pula Al-Qaidah! Namun, Islam adalah agama seluruh kaum Muslimin!”

 

Sumber video: http://www.shahamat-video.com/archives/1333

https://www.youtube.com/channel/UCMpxVct9CeZDq71MRrWlw8g

[1] https://twitter.com/asadafghan33/status/807223038496358400 (Diakses pada 10/12, 14.10).

[2] http://www.longwarjournal.org/archives/2016/05/us-targeted-taliban-emir-mullah-mansour-in-drone-strike-in-pakistan.php (Diakses pada 10/12, 14.15).

[3] http://www.dni.gov/index.php/resources/bin-laden-bookshelf?start=1 (Diakses pada 10/12, 14.58).

[4] http://www.longwarjournal.org/archives/2016/12/taliban-rejects-peace-talks-emphasizes-alliance-with-al-qaeda-in-new-video.php (Diakses pada 10/12, 15.53).

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *