Review Buku: Blood Year, The Unraveling of Western Counterterrorism

 

Blood Year

Buku yang ditulis oleh David Kilcullen dengan judul Blood Year: The Unraveling of Western Counterterrorism ini secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi “Tahun Darah: Membongkar Kontra-Terorisme Barat”. Buku yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 2016 ini mempunyai ketebalan 288 halaman dengan ISBN: 978-0190600549.

Penulis buku ini menyatakan bahwa, ”Ini bukan buku tentang ISIS, namun tentang apa yang dari kemunculan ISIS dapat memberitahu kita tentang War on Terrorism yang lebih luas sejak 2001. Ini memang mengkaitkan dengan kemunculan the Islamic State, namun juga menghubungkan antara Arab Spring, kebangkitan konfrontasi dengan Rusia, kesepakatan nuklir Iran, dan krisis pengungsi di Eropa. Hal-hal ini tampaknya tidak begitu terkait, namun  sebagaimana argumen yang saya narasikan dalam  buku ini, itu semua merupakan gejala/simpton dari masalah yang sama.” (hal. ix).

Sumber untuk menulis buku ini diambil dari informasi terbuka yang bukan berkategori rahasia. Pengalamaan penulis sebagai seorang tentara profesional Australia, sebagai pejabat inteligen sipil dan kemudian sebagai pegawai pemerintahan AS memperkaya isi buku ini.

Penulis juga menyebutkan pengalamannya yang banyak dalam mengabdikan dirinya sebagai penasehat dan konsultan bagi pemerintahan Presiden Bush dan Obama terkait dengan kebijakan luar negeri di Irak, Afghanistan, Pakistan, Tanduk Afrika dan Asia tenggara menjadikan pandangannya adalah profesional bukan politis.

Buku ini disusun dalam 17 bab dan diakhiri dengan sebuah epilog. Buku ini dilengkapi dengan catatan kaki yang cukup banyak yang dikelompokkan per bab yang membutuhkan 25 halaman sendiri untuk mencatatnya.

Berikut adalah ulasan tentang buku ini yang diberikan oleh Thomas C. Greenwood seorang purnawirawan Marinir AS berpangkat kolonel yang menjadi anggota Editorial Board of Joint Force Quarterly. Pengalamannya selama 31 tahun mengabdi sebagai pejabat marinir termasuk di Irak dan Afghanistan dan sebagai staf pada Dewan Keamanan Nasional untuk tiga Presiden, menjadikan ulasannya cukup dapat menyelami buku ini.

Mahasiswa bidang strategi dan kebijakan pertahanan yang telah secara intens mempelajari perang melawan teror sejak peristiwa serangan 9/11 akan menemukan buku baru David Kilcullen ini mencerahkan namun sekaligus mengecilkan hati.

Buku ini mencerahkan karena penulisnya dengan hati-hati menyusun beberapa tahun studi lapangan, penelitian ilmiah, dan analisis mendalam menjadi sebuah karya yang menarik yang kaya akan wawasan dan jujur dalam penilaiannya. Namun buku ini tetap saja mengecilkan hati.

Setelah memberikan pada pembaca perjalanan yang kaya melalui naik turunnya al Qaeda, munculnya  the Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL), analisis terhadap kampanye tidak meyakinkan di Irak dan Afghanistan, runtuhnya tatanan di Timur Tengah, perang saudara yang brutal di Suriah, dan perpindahan terbesar para pengungsi sejak Perang Dunia II, ia menawarkan pada pembaca beberapa rekomendasi kebijakan tentang bagaimana kita bisa menemukan kembali kejelasan strategi dan memajukan kepentingan nasional AS pada perang multigenerasi melawan ekstremisme kekerasan.

Peringatan bagi pembaca: ini bukan buku yang terasa baik bagi para perwira militer, pegawai negeri, atau pejabat pemerintah (dari apapun partainya) yang ingin merasionalisasi Perang Irak dan kontribusi yang diharapkan terhadap kampanye kontraterorisme global yang lebih luas.

 

Baca hal. selanjutnya: Kilcullen: Strategi Perang Irak Tidak Matang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *