Review Buku Islamic Exceptionalism: Islam Menata Ulang Dunia

 

shadi hamid islamic exceptionalism

Buku yang berjudul Islamic Exceptionalism: How The Struggle Over Islam Is Reshaping The World yang ditulis oleh Shadi Hamid secara harfiyah dapat diterjemahkan sebagai “Pengecualian Islam: Bagaimana Perjuangan atas Islam sedang Membentuk Ulang Dunia”. Buku yang diterbitkan oleh St. Martin’s Press pertama kali pada bulan Mei 2016 ini mempunyai ketebalan 320 halaman.

Shadi Hamid merupakan anggota senior pada Brookings Center for Middle East Policy. Hamid saat ini juga sebagai penulis kontributor bagi The Atlantic. Bukunya terdahulu yang berjudul Temptations of Power: Islamists and Illiberal Democracy in a New Middle East mendapat penghargaan sebagai Foreign Affairs Best Book of 2014. Sebagai pakar pada bidang Islam dan politik, Hamid pernah bertugas sebagai direktur riset pada Brookings Doha Center sampai Januari 2014.

Artikel-artikel Hamid banyak dimuat di media-media terkemuka seperti The New York Times, The Washington Post, Foreign Affairs, Foreign Policy, dan The National Interest. Ia juga sering diundang sebagai tamu pada program televisi seperti the PBS NewsHour, The Charlie Rose Show, NBC Nightly News, “Morning Joe” di MSNBC, CNN GPS bersama Fareed Zakaria, dan Amanpour di CNN. Ia memperoleh gelar Ph.D. dari Oxford University dalam bidang ilmu politik.

Buku yang menggambarkan sejarah perseteruan antara Islamis dengan orang-orang sekuler dalam peristiwa Arab Spring di Timur Tengah ini disusun dalam 8 bab. Buku ini mencantumkan catatan kaki yang cukup banyak dituliskan dalam 33 halaman yang dikelompokkan per bab. Buku ini juga dilengkapi dengan daftar indeks.

Sebagaimana dijelaskan oleh penulisnya buku ini didasarkan pada satu dekade riset termasuk enam tahun lebih tinggal, melakukan perjalanan dan belajar di Timur Tengah. Buku ini adalah suatu usaha untuk memahami tidak hanya peristiwa yang menyedihkan dan menakutkan namun juga kekuatan ide-ide dan peran mereka dalam pertempuran eksistensial yang telah mengguncang fondasi tatanan di Timur Tengah.

Ada dua argumen terkait yang membentuk inti setengah bagian pertama dari buku ini. Pertama, Islam, faktanya adalah berbeda dalam hal bagaimana ia berhubungan dengan politik. Perbedaan ini mempunyai implikasi yang besar bagi masa depan Timur Tengah dan selanjutnya untuk seluruh dunia.

Kedua, karena hubungan antara Islam dan politik adalah unik, penggunaan ulang model Barat –Reformasi Protestan yang diikuti dengan pencerahan yang mana agama secara perlahan didorong dalam ranah pribadi- adalah tidak mungkin. Bahwa Islam –sebagai agama yang sungguh berbeda dalam hal kelahiran dan evolusinya- harus mengikuti perjalanan yang sama seperti Kristen merupakan asumsi yang ganjil.

Setengah bagian kedua buku ini adalah tentang perbedaan dan pembandingan model-model yang digunakan untuk memecahkan dilema bentuk hubungan antara Islam dan negara saat ini dan masa depan. Dalam pencarian solusi tersebut pergerakan-pergerakan Islamis mainstream (afiliasi dan turunan dari Ikhwanul Muslimin) mengadopsi pendekatan dan strategi dengan variasi yang luas, yang mungkin tampaknya menjanjikan, namun semuanya hanya berlangsung sebentar.

 

Baca halaman selanjutnya: Islam Itu “Luar Biasa” Dalam Mengelola Pemerintahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *