Membedah Blueprint Strategi Al-Qaidah Kalahkan Amerika

Saat Al-Qaidah memutuskan untuk berhadapan dengan penguasa tatanan internasional yang dipresentasikan Amerika sekitar dua dekade yang lalu, banyak yang sinis—bahkan dari kalangan pergerakan Islam—bahwa Usamah bin Ladin dan Al-Qaidah telah memilih untuk hancur secepat mungkin. Karena mereka melihat bahwa kekuatan meteri yang dimiliki Al-Qaidah sangat jauh dibanding dengan apa yang dimiliki Amerika. Tetapi menurut Hussam Umawi, justru saat itu, Al-Qaidah sudah jauh ke depan.

Al-Qaidah sudah menyiapkan langkah-langkah strategis. Baginya, gerak dan langkah srtategi Al-Qaidah diselaraskan dan disinkronkan dengan dua jalur perlawanan utama, yaitu: (1) jalur militer dan politik, dan (2) jalur media.

Jalur Perlawanan Militer dan Politik

Lewat perlawanan militer dan politik, Al-Qaidah berusaha merancang strategi yang tepat untuk mendefinisikan musuh, menetapkan prioritas musuh, menetralisir sebagian musuh, dan membuat cara perlawanan yang tepat untuk setiap musuh secara detiil. Al-Qaidah memang memasukkan  Yahudi, Amerika, Barat-Eropa, dan tatanan-tatanan penguasa Arab beserta perangkat militer dan keamanannya sebagai musuh. Tetapi Al-Qaidah meletakkan Amerika sebagai target utamanya, sementara terhadap yang lain, Al-Qaidah berusaha semaksimal mungkin menetralisirnya.

Hussam menilai bahwa dalam pandangan Al-Qaidah, mendefinisikan musuh-musuh bukan berarti bertempur melawan semua musuh tersebut. Namun urgensi hal itu merupakan tahapan untuk mengetahui berbagai musuh beserta berbagai macam dan jenisnya, lalu dari sana ditetapkan skala prioritas terhadap setiap irisan lapisan musuh. Sementara tidak adanya langkah-langkah untuk menetralisir sebagian musuh dapat menyebabkan terjerumus ke dalam berbagai kesalahan-kesalahan, selain juga menyibukkan dan mengalihkan dari target utama.

Baca juga: Al-Qaeda Sang Pengubah Wajah Amerika

Menetralisir musuh merupakan di antara poin strategis penting dalam perjalanan Al-Qaidah, dan dapat dikatakan sebagai poin pembeda yang menyebabkan Al-Qaidah mengerahkan berbagai usaha, ide, kemampuan, dan aksinya untuk merealisasikannya. Al-Qaidah pada fase ini menetralisir setiap kelompok atau negara yang tidak sepakat dengan mereka namun tidak memerangi mereka.

Menurut Hussam, paradigma politik Al-Qaidah juga lebih luas, di mana ia memasukkan perang menjadi salah satu sarana politik, selain perundingan dan negoisasi. Al-Qaidah menggunakan perang gerilya yang panjang untuk memaksa musuh tunduk, atau terpojok dan terisolasi. Bahkan tujuan utama perang gerilya bukanlah untuk menjatuhkan suatu penguasa, namun untuk menguras energinya dan mendorongnya untuk mendengar dan menyetujui berbagai tuntutan jihadi.

Perundingan dan negoisasi digunakan Al-Qaidah dengan berpijak pada ketentuan syariat atau maslahat jihad. Al-Qaidah Semenanjuang Arab (AQAP) pernah berunding dan bernegoisasi dengan Presiden Yaman Abdurabbihi Manshur pada 2012, yang mensyaratkan agar melarang pesawat Amerika beroperasi di Yaman, dan membiarkan mereka tahkimusy syariah. Perundingan dan negoisasi itu akhirnya digagalkan sendiri oleh Manshur. Menurut Hussam, tidak benar bahwa Al-Qaidah hanya mengerti perang, namun tidak perhatian sama sekali terhadap persoalan politik.

Berdasarkan pandangan militer dan politik inilah al-Qaidah berkeyakinan bahwa sebuah Daulah Islam tidak akan bisa tegak selama Amerika masih kuat. Untuk itu, dari pandangan politik tersebut, Al-Qaidah berpandangan bahwa langkah pertama untuk mendirikan Daulah Islam adalah dengan melemahkan Amerika secara ekonomi dan militer. Manakala Amerika sudah lemah dan jatuh, tatanan internasional juga akan ikut berguguran, sehingga umat Islam bisa mendirikan negaranya tanpa ada halangan berarti.

 

Baca halaman selanjutnya: Blueprint Perlawanan Media