14 Poin Penting Praktik Penyiksaan Era Bush, Obama dan Trump

George W. Bush menyebut praktik torture (penyiksaan) sebagai “interogasi yang diperkeras.” Barack Obama mengatakan itu “brutal” dan “kontraproduktif.” Dan Donald Trump mengatakan bahwa torture “benar-benar berhasil.”

Meski mereka berbeda pendapat namun di ketiga era tersebut penyiksaan masih dilakukan oleh Amerika. Berikut beberapa fakta penting engenai penyiksaan (torture) di ketiga era pemerintahan Amerika terakhir.

  1. Hukum internasional tidak akan mengizinkannya. The Convention Against Torture (Konvensi Menentang Penyiksaan), yang diadopsi oleh PBB pada tahun 1984, menetapkan bahwa “tidak ada negara yang boleh mengizinkan atau membiarkan penyiksaan atau perlakuan kejam dan tidak manusiawi, atau hukuman dan perlakuan yang merendahkan martabat.”Dalam konvensi tersebut juga dinyatakan bahwa “keadaan luar biasa seperti keadaan perang atau ancaman perang, ketidakstabilan politik internal atau keadaan darurat publik lainnya juga tidak dapat digunakan sebagai pembenaran” untuk melakukan torture.
  2. Meskipun AS ikut menandatangani, tetapi AS telah melanggar konvensi tersebut, menggunakan label “Perang Melawan Teror” sebagai pembenaran selama era Bush. Obama mengatakan torture (penyiksaan) adalah hal yang salah. Donald Trump telah secara eksplisit mendukung penggunaan torture di masa lalu.
  3. Pemerintahan Bush menggunakan torture secara massive: Setelah serangan 9/11, pemerintahan George W. Bush menggunakan “teknik interogasi yang ditingkatkan” untuk menggali informasi dari tersangka teroris.
    Kemudian terungkap bahwa teknik yang digambarkan sebagai hal yang legal oleh pemerintahan Bush termasuk waterboarding, walling, pelecehan secara seksual, pemukulan dan pencabutan hak untuk tidur hingga berakibat tahanan mengalami titik halusinasi.
  4. Informasi yang menyelamatkan ( dan juga menghancurkan?) Dalam pidato pada bulan September 2006, Mantan Presiden George W. Bush menyatakan, “Saya dapat mengatakan bahwa dalam menginterogasi tahanan menggunakan program ini [teknik interogasi yang diperkeras] telah memberi kita informasi, yang telah menyelamatkan nyawa tak berdosa, dengan membantu kita menghentikan serangan baru di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. “
  5. Kepala Kantor Penasehat Hukum pada masa Bush, Jay Bybee, menulis memo untuk menggambarkan definisi torture (penyiksaan). “Tindakan yang berbentuk torture (penyiksaan), adalah tindakan yang harus menimbulkan rasa sakit sehingga sulit untuk bertahan. Intensitas sakit secara fisik pada torture harus setara dengan rasa sakit yang mengikuti cedera fisik yang serius, seperti kegagalan fungsi organ tubuh, penurunan fungsi tubuh, atau bahkan kematian. ”
    “Rasa sakit atau penderitaan secara mental yang dikategorikan torture (penyiksaan) adalah harus mengakibatkan cedera psikologis yang serius dengani durasi yang lama, misalnya, berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.”
  6. Dan kemudian John Yoo, Wakil Asisten Jaksa Agung AS di masa Bush, mengukur-ukur. Ia menolak klaim bahwa kebijakan terhadap tahanan “Perang terhadap Terorisme” dan perlakuan yang diterima oleh para tahanan itu melanggar hukum dan melanggar Konvensi Jenewa.
    Dalam memorandum tertanggal 9 Januari 2002, ia menyatakan bahwa Konvensi Jenewa tidak secara spesifik menentukan jenis konflik seperti yang terjadi di Afghanistan; Oleh karena itu, John Yoo menganggap konvensi Jenewa tersebut tidak berlaku untuk situasi ini.
  7. Tapi ada perbedaan pendapat di kalangan pejabat AS: Dalam sebuah memo yang dikeluarkan ke Gedung Putih pada 26 Januari 2002, Menteri Luar Negeri Colin Powell menyatakan bahwa AS menghadapi dugaan melanggar hasil Konvensi Jenewa yang yang berbunyi “memberikan fleksibilitas maksimum”. Hal itu berbahaya untuk kesejahteraan AS karena akan “mundur lebih dari satu abad kebijakan dan praktek AS dalam mendukung Konvensi Jenewa dan merusak perlindungan hukum-hukum perang internasional untuk pasukan kita.”
  8. Secara teknis, Obama melarang torture (penyiksaan) pada tahun 2009: Pada bulan Januari 2009 Obama menandatangani perintah eksekutif melarang penyiksaan oleh pejabat AS, termasuk CIA, dan membawa metode interogasi yang sejalan dengan Buku Petunjuk Lapangan Angkatan Darat yang melarang penggunaan metode penyiksaan brutal.
  9. Obama tampak menyesal. Tapi apakah benar? “Kami menyiksa beberapa orang,” kata Obama saat konferensi pers di Gedung Putih pada bulan Februari tahun 2014.
    “Ketika kita terlibat dalam beberapa teknik interogasi yang diperkeras tersebut, teknik yang saya percaya dan saya pikir setiap orang bijak akan percaya bahwa hal itu adalah penyiksaan, maka kita telah melanggar garis tersebut. Dan hal ini perlu dipahami dan diterima,” kata Obama.
  10. Penggunaan kebijakan torture (penyiksaan) tidak berakhir: upaya Obama untuk mencegah penyiksaan merupakan kemajuan, tetapi pada prakteknya, torture tidak berakhir di bawah pemerintahannya.
    “Penyiksaan berlanjut di bawah pemerintahan Obama sepanjang waktu – misalnya, cara di mana mereka memaksa para tahanan makan yang dilakukan di Teluk Guantanamo jelas-jelas menyiksa,” kata Clive Stafford Smith, seorang pengacara yang telah mewakili lebih dari 100 tahanan Guantanamo bay kepada TRT world.
    Beberapa teknik dalam Buku Pedoman Lapangan Angkatan Darat itu sendiri memungkinkan praktik yang bisa mencapai tahap torture (penyiksaan).
    “Pedoman Tentara Lapangan … tidak secara eksplisit melarang posisi yang penuh tekanan, seperti menempatkan tahanan dalam kurungan berdekatan atau dengan memanipulasi lingkungan (selain hipotermia dan heat injury). Kelalaian ini membuka peluang terjadinya pelanggaran,” tulis Matthew Alexander, mantan perwira AS yang menggunakan nama samaran, di New York Times pada 2010.
  11. Mantan tahanan Guantanamo Shaker Aamer mengatakan kebijakan torture terus berlanjut di bawah pemerintahan Obama. “Di Guantanamo, Aamer ditahan pada sel berukuran 6×8 kaki yang tidak berjendela, yang dipaksakan menjadi sel isolasi, hukumannya karena tidak kooperatif”, tulis Clive Stafford Smith pada 2014. “Dia menjadi korban reguler dari brutalnya pencekokan makan secara paksa, dan dia telah dipukuli oleh tim “ekstraksi sel” lebih dari 300 kali. ”
    “Terutama di bawah Obama, penyiksaan dilakukan dengan cara penahanan – termasuk kamar isolasi dan pemaksaan makan – bukan dengan metode kasar seperti abad pertengahan,” kata Smith kepada TRT World. Ia menambahkan bahwa di bawah pemerintahan Trump, torture ini akan menjadi jauh lebih buruk.
  12. Pernyataan Trump ini telah secara eksplisit mendukung penyiksaan … “Apakah aku menyetujui waterboarding? Jika anda berani bertaruh pantat anda, saya akan menyetujuinya. Dalam sekejap. Saya bahkan akan menyetujui yang lebih buruk dari itu. Torture ini bekerja dengan baik,” kata Donald Trump pada November 2016.
    Penyiksaan, termasuk waterboarding, saat ini dilarang di bawah hukum AS, tetapi Trump dapat membatalkan perintah eksekutif yang melarang hal itu. Presiden mengatakan bahwa memungkinkan, taktik itu akan diaktifkan kembali. Dan ia akan “membawa kembali neraka yang lebih buruk daripada waterboarding“.
    “Kami memiliki musuh yang tidak bermain sesuai dengan hukum. Anda bisa menyodorkan undang-undang, dan mereka akan tertawa. Mereka tertawa pada kami sekarang,” kata Trump, merujuk pada IS, dalam penampilannya di televisi CBS.
  13. Kita belum tahu apakah administrasi Trump akan menyetujui penyiksaan dalam prakteknya. Versi terbaru dari perintah eksekutif Trump mengenai penjara kontroversial AS di teluk Guantanamo, Kuba, telah mengisyaratkan adanya pengkajian ulang apakah Amerika Serikat harus menggunakan kembali torture (penyiksaan) dan membuka kembali “tempat gelap” CIA tersebut. Hal ini tidak menunjukkan pemerintahan Trump tidak akan menggunakan kembali torture (penyiksaan).
    Namun, Presiden AS mengatakan dia akan memberi kewenangan pada Menteri Pertahanan James Mattis, yang tidak harus sependapat dengannya, untuk memutuskan dalam masalah torture.
  14. Sebuah laporan Senat tentang penggunaan torture mengatakan bahwa interogasi dilakukan secara brutal dan tidak efektif: Pada tahun 2014, sebuah laporan komite intelijen senat tentang interogasi di CIA dan program penahanan telah dirilis. Kemudian ketua komite, Dianne Feinstein mengatakan pada laporan itu bahwa penyiksaan akan “menghasilkan informasi palsu.”
    “Selama interogasi brutal, CIA sering tidak menyadari bahwa informasi yang diberikan oleh tahanan adalah direkayasa.” Kata Feinstein, program penyiksaan itu “secara moral, hukum dan administratif sesat” dan “jauh lebih brutal dari yang dibayangkan oleh orang-orang”.
    Dalam salah satu contoh, salah satu makan siang tahanan, yang berisi hummus dan pasta, dan kacang-kacangan itu dimasukkan lewat anus kepada tahanan, kata laporan itu. interogator CIA mengancam akan menyakiti anak-anak tahanan dan melakukan “penyerangan seksual” pada ibu mereka, dan hal itu didokumentasikan.

 

Penulis: Asena Bosnak

Sumber: www.trtworld.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *