Doktor Jihadisme: Azh-Zhawahiri Bukanlah Pecundang Seperti yang Sebagian Orang Pikirkan

Tore Hamming, Ph.D, doktor di bidang kajian jihadisme sunni dari the European University Institute (EUI), menulis sebuah artikel tentang Al-Qaidah di bawah kepemimpinan Dr. Aiman Azh-Zawahiri. Tulisan tersebut dimuat di blog Jihadica, yang sejak lama memuat tulisan para pengamat dan analisis Barat di bidang jihad dan terorisme.[1]

Menurut Hamming, Azh-Zawahiri tidak akan pernah menjadi sosok yang memiliki karisma dan wibawa seperti halnya Usamah bin Ladin. Tetapi, ia mampu mengambil sikap di saat tidak banyak pilihan tindakan yang dapat dilakukan pada masa cobaan besar bagi Al-Qaidah, yaitu ketika the Islamic State (IS) menyalip posisinya sebagai gerakan jihad utama. Sejak 2015, Azh-Zawahiri telah terbukti mampu memerintah dan menjadi pemimpin yang dihormati setelah masa ketika sebagian kalangan di tubuh Al-Qaidah sendiri mulai meragukan dan mengkritiknya.

Di mata Hamming, Bin Ladin sendiri tidak selalu kebal terhadap kritik. Namun, kritik terhadap Azh-Zhawahiri tetap penting bagi pemimpin sepuh tersebut. Akhirnya amanat untuk memimpin Al-Qaidah jatuh ke pundak Dr. Aiman setelah sebelumnya Usamah memimpin pergerakan tersebut selama lebih dari satu dekade. Hanya saja, kata Hamming, beberapa kritik terhadap Azh-Zhawahiri salah tempat atau tidak lagi berlaku.

(Baca juga: Siapa pemenang sementara; Amerika atau Al-Qaeda?)

Sebagai contoh, seperti penilaian tokoh asal Yordania, Hasan Abu Haniyyah, yang berpendapat bahwa Azh-Zawahiri tidak mengontrol afiliasinya sedekat apa yang pernah dilakuakan Al-Qaidah Pusat sebelumnya. Mungkin ini benar, tetapi sekali lagi, tetapi afiliasi Al-Qaidah selalu memiliki sejumlah kebebasan manuver, sehingga sangat cocok dengan ide orisinal pergerakan tersebut; untuk lebih menjadi pelopor (vanguard) daripada sebuah organisasi yang sebenarnya (dalam arti konvensional).

Hal tersebut diketahui bersama dari propaganda publik, yang mana afiliasi Al-Qaidah yang berbeda-beda masih melihat Azh-Zawahiri sebagai otoritas (amir) yang memerintah. Afiliasi di Yaman, Somalia, dan Afrika Utara terus mengungkapkan pujian kepada Azh-Zawahiri. Termasuk baru-baru ini, ketika didirikan Jamaah Nushrah Al-Islam wa Al-Muslimin (Jamaah Penolong Islam dan Muslimin), yang merupakan hasil merger dari kelompok-kelompok jihadis, seperti Ansharuddin dan Front Pembebasan Masina (Mali) serta Emirat Al-Qaidah di Sahara (Maghrib Islami).[2]

Ketika deklarasi para pemimpinnya menyatakan kesetiaan kepada Azh-Zawahiri. Dalam pidato pengumuman penggabungan tersebut, pemimpin Nushratul Islam Iyad ag Ghaly mengatakan “Pada saat yang diberkati ini, kami membaiat para amir dan syekh kami yang terhormat; Syekh Abu Mush’ab Abdul Wadud (Amir Al-Qaidah di Maghrib Islami/AQIM—edt) dan syekh kami yang bijaksana Aiman Azh-Zhawahiri.”

Korespondensi internal Al-Qaidah antara anggota senior juga menunjukkan bahwa Azh-Zawahiri tetap menjadi pemimpin yang dihormati. Ketika pemimpin Ansharusy Syariah Tunisia (AST)[3] bercerita kepada Azh-Zawahiri bahwa ia mungkin akan bergabung dengan IS dan akan berusaha memperbaikinya dari dalam, ia mengembalikan keputusan sampai dengan al-Zawahiri dan para ulama jihadi lainnya yang dihormati (Abu Muhammad Al-Maqdisi dan Abu Qatadah Al-Filastini).

Sikap hormat yang sama untuk Azh-Zhawahiri juga tampak jelas dalam surat yang dikirim oleh agen senior Al-Qaidah Muhsin Al-Fadhli—yang terdengar belakangan di Suriah—kepada Nashir Al-Wuhaisyi (Amir Al-Qaidah di Jazirah Arab/AQAP—edt).

Mungkin contoh terbaik, bagaimanapun juga, adalah penjelasan pemimpin Jabhatun Nushrah[4] Abu Muhammad Al-Jaulani dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh Al Jazeera pada 27 Mei 2015.[5] Al-Jaulani menjelaskan bahwa ia telah menerima perintah dari qiyadah (kepemimpinan) Al-Qaidah Pusat untuk tidak menarget Barat dan agar fokus di arena Suriah. Meskipun ketika itu kelompok Al-Jaulani berubah nama (menjadi Jabhah Fath Asy-Syam) dan menyatakan independen dari Al-Qaidah, tampak jelas bahwa ia masih tetap berada di bawah lipatan (pengaruh) Azh-Zawahiri.

(Baca juga: Membedah Blueprint Al-Qaeda kalahkan Amerika)

Upaya lebih lanjut untuk memperkokoh posisi Azh-Zhawahiri sebagai sosok nomor satu dalam hierarki berupa penghormatan yang kontinu. Pujian juga ia terima dari ideolog senior yang berafiliasi dengan Al-Qaidah, yang sangat berpengaruh pada massa jihadi yang lebih luas. Hal ini terkonfirmasi dalam sebuah wawancara yang baru-baru ini dilakukan oleh Hamming dengan Abu Qatadah Al-Filasthini, yang membenarkan bahwa Azh-Zhawahiri adalah syekh yang (perlu) diikuti.

Dalam wawancara lain dengan seorang murid Abu Qatadah, Hamming juga diberitahu bahwa Abu Qatadah pernah menyatakan bahwa “jika semua orang di bumi pergi ke satu arah dan Aiman Azh-Zhawahiri pergi ke arah lain, saya akan mengikuti Syekh (Aiman).”

Di bagian akhir tulisannya, Hamming menyimpulkan bahwa sikap pasif awal dari Azh-Zawahiri dalam menyikapi kemunculnya ISIS bukanlah sikap yang disangaja. Menurutnya, itu menjadi tanda putus asa ketika pemimpin Al-Qaidah tersebut tidak tahu apa yang harus dilakukan. Namun, seiring perkembangan, Azh-Zhawahiri menemukan jawabannya.

Jawabannya adalah mengikuti visi stratejik yang berfokus pada upaya meraih dukungan masyarakat, yang telah diadopsi oleh Al-Qaidah sejak sebelum konflik dengan IS dimulai (dan disebut-sebut sejak awal 2001 oleh Azh-Zawahiri sendiri). Intinya, mengikuti pendekatan kekerasan yang brutal, tapi tetap sukses, seperti yang ditempuh oleh Amir IS Al-Baghdadi dan para pengikutnya bukanlah solusi. Dalam penilaian Hamming, inilah keputusan cerdas yang diambil Azh-Zawahiri sebagaimana halnya sekarang. Terbukti, setelah beberapa tahun berjalan, kini ia memimpin Al-Qaidah yang mungkin belum pernah sekuat seperti yang sekarang.

 

[1] http://www.jihadica.com/zawahiri-is-not-the-loser-people-think-he-is/

[2] http://www.reuters.com/article/us-mali-security-idUSKBN16O2E1

[3] Sepertinya yang dimaksud oleh Hamming adalah Abu Iyadh At-Tunusi. Dokumentasi korespondensi antara At-Tunusi dan Azh-Zhawahiri terdokumentasi di blog Jihadology: http://jihadology.net/2016/01/06/new-release-from-abu-iya%e1%b8%8d-al-tunisi-answer-to-the-essay-of-abu-maysarah-al-shami-letter-to-dr-ayman-al-%e1%ba%93awahiri/

[4] Sekarang berada di bawah payung Hai’ah Tahrir Asy-Sham (HTS) yang dipimpin oleh mantan Amir Ahrarusy Syam Abu Jabir Asy-Syaikh.

[5] http://www.aljazeera.com/news/2015/05/nusra-front-golani-assad-syria-hezbollah-isil-150528044857528.html

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *