Analisa Barat: Kontra Terorisme Tanpa Peran Perempuan Akan Gagal 

Amerika dan sekutunya telah menghabiskan miliaran dolar dalam Global War on Terrorism. Strategi yang sukses tidak hanya melibatkan keseluruhan pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah, yang memanfaatkan berbagai kemampuan dan keahlian di dalam seluruh aspek pemerintahan, tetapi juga diperlukan keterlibatan aktor non-pemerintah.

Aktor non-pemerintah tersebut seperti pemimpin agama, keluarga, LSM dan pelaku bisnis yang dapat memainkan peran penting dalam strategi pemberdayaan masyarakat yang lebih luas. Namun, kita tidak bisa berharap mendapatkan sukses dalam strategi tersebut sedangkan kita mengabaikan kontribusi dan kemampuan unik dari para perempuan, yang merupakan separuh dari populasi kita.

Sangat rugi bila potensi dan keterampilan perempuan diabaikan dalam memerangi terorisme. Melibatkan perempuan dalam memerangi terorisme bukanlah “isu soal perempuan”, tetapi ini adalah masalah keamanan.

Ada apresiasi yang berkembang bahwa perempuan dapat berkontribusi dalam sejumlah cara yang tepat dalam strategi melawan terorisme (Counter Terrorism). Di saat para ahli CT semakin mengakui peran penting wanita dalam memerangi terorisme dan ekstremisme, yang kurang dipahami justru adalah bagaimana cara menerapkannya.

Meskipun belum ada model “teoritis” yang benar dari seseorang yang benar-benar ahli mengenai bagaimana melibatkan wanita secara lebih efektif untuk melawan terorisme, tetapi ada pengalaman dari para praktisi terorisme global yang bisa diterapkan. Interaksi profesional penulis dengan ratusan praktisi anti terorisme global dari berbagai negara dan budaya sambil mengarahkan Program Terorisme dan Keamanan George C. Marshall Center menunjukkan bahwa ada peran dalam CT yang penting dan sangat sesuai bagi perempuan.

 

Baca halaman selanjutnya: Wanita adalah Garis Pertama Pertahanan Melawan Radikalisasi dan Rekrutmen

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *