Perjuangan Bangsa Indonesia Melawan Penjajah Dalam Pandangan Media kuno Belanda

Saat membahas tentang kolonialisme Belanda di Indonesia, banyak terjadi ketidaksepakatan dalam buku sejarah Indonesia dan Belanda. Sebagian besar buku sejarah  di Belanda menggambarkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia sangat senang dengan kekuasaan Belanda di Indonesia. Mereka juga menceritakan bahwa memang ada beberapa perlawanan terhadap kolonialisme Belanda, namun perlawanan tersebut tidak ada kaitannya dengan hal-hal semacam penindasan atau eksploitasi Belanda terhadap Indonesia, tapi lebih karena keinginan beberapa warga Indonesia untuk merdeka.

Di sisi lain, buku sejarah di Indonesia mengklaim bahwa terjadi banyak perlawanan terhadap kolonialisme Belanda karena penindasan dan eksploitasi yang dilakukan oleh Belanda. Tapi mereka sepakat, bahwa hal yang paling diinginkan pertama kali dalam perlawanan tersebut adalah KEMERDEKAAN. Perlawan rakyat Indonesia tidak ada kaitannya dengan Islam atau Khilafah, begitu klaim buku sejarah di Indonesia. Benarkah demikian?

Untungnya, bagi kita yang ingin menemukan kebenaran, Perpustakaan Kerajaan Belanda telah merilis di internet surat kabar lama Belanda tahun 1618-1995. Surat kabar lama tersebut bisa memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa bersejarah yang ditulis pada saat peristiwa tersebut terjadi, sebelum ada pihak yang sempat duduk dan memikirkan bagaimana peristiwa tersebut ingin diingat oleh sejarah.

Karenanya, dengan menggunakan surat kabar tersebut, masa penjajahan Belanda di Indonesia bisa diuji secara independen, dan informasi serta sudut pandang yang disajikan dalam buku sejarah hari ini bisa diverifikasi atau bahkan didiskreditkan.

Baca juga: Kekuatan Ramalan; Jihad Diponegoro Menegakkan Negara Islam di Jawa

Perjuangan Melawan Penjajahan di Indonesia

Siapapun yang mencari di surat kabar lama Belanda dalam periode tahun 1850-1930 dengan menggunakan kata kunci seperti “pemberontakan”, “kerusuhan”, akan mendapati begitu banyak peristiwa yang dilaporkan. Beberapa dari kejadian tersebut diberitakan dalam jangka waktu lama.

Sebagai contoh, pemberontakan di Banjarmasin pada tahun 1850. Salah satu surat kabar menyebutkan:

“Pada awal bulan Januari, Provinsi bagian barat Borneo melaporkan kepada Gubernur bahwa di Banjarmasin (…) sebuah pemberontakan terjadi.” Pemberontakan ini terjadi dalam waktu yang lama, karena surat kabar-surat kabar Belanda terus melaporkannya selama berminggu-minggu.

Satu dekade berikutnya, mulai tahun 1868 surat kabar-surat kabar Belanda melaporkan tentang pemberontakan di pulau Bali:

“Di Bali, situasinya sangat menyedihkan. Pemberontak Ida Madeh Rahi bukan saja tidak mau mengikuti delegasi kita, ia juga terus berkeliling dengan ribuan pengikut. (…) Bantuan militer sudah kami minta dan sangat dibutuhkan. Tapi, jika ia belum juga datang, pemerintah (Hindia Belanda) tidak akan mampu mempertahankan kekuasaannya.”

Pemberontakan tidak hanya terjadi di pulau Bali, tapi juga pulau Celebes (sekarang Sulawesi):

“Menurut Telegram yang diterima  dari Makassar, kraeng tertentu, Bonto-Bonto, … melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kita yang sah, karenanya dukungan militer sangat diperlukan.”

Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1885, satu surat kabar Belanda menyebutkan tentang Indonesia: “Mengenai situasi di Indonesia sedikit yang bisa dikatakan bahwa situasinya menyenangkan. Pemberontakan orang-orang Cina di provinsi barat Borneo mengancam…untuk meluas ke daerah lain. Di Kepulauan Toba pemberontakan juga kembali pecah”. Nada yang muncul dari artikel ini mengungkapkan bahwa pada saat itu pemberontakan merupakan fenomena yang terus berulang. Dan memang begitulah adanya.

Di Aceh misalnya, Belanda telah melakukan perang sejak tahun 1873. Pada tahun 1888 pemberontakan ini masih berlangsung, surat kabar Belanda mulai membahas apa yang mereka sebut sebagai “isu Aceh”. “Isu yang paling menyebalkan, isu Aceh ini”, tajuk dalam salah satu surat kabar.


Artinya: “Suara peringatan dari Indonesia” adalah tajuk berita utama di surat kabar Algemeen Handelsblad, 6 Agustus 1859

 

Di tempat lain, pemberontakan daerah melawan pemerintahan kolonial juga terjadi. Pada tahun 1888 surat kabar juga membahas apa yang mereka sebut “Pemberontakan di Bantan”, yang berada di sisi barat Pulau Jawa.

Beberapa tahun kemudian, masalah bagi Belanda di Pulau Lombok begitu besar, hingga mereka membuat keputusan untuk mengirim tentara dalam jumlah besar untuk menekan penduduk setempat. “Sebuah keputusan telah dibuat untuk mengirim tentara ke Lombok”, tulis surat kabar pada tahun 1894.

Aceh masih dalam pemberontakan saat itu: “Sekali lagi, selama beberapa hari terakhir, kerusuhan di Aceh dilaporkan,” tulis seorang wartawan dari satu surat kabar. Saat ia memulai kalimatnya dengan kata “sekali lagi” menunjukkan bahwa orang sudah terbiasa dengan kejadian perlawanan Indonesia melawan penjajahan Belanda.

Selama masa penjajahan Belanda di Indonesia, pemberontakan terus berlangsung di seluruh daerah. Pada tahun 1902 surat kabar Belanda melaporkan tentang “Pemberontakan di Sukabumi”. Pada tahun 1907 topik utamanya adalah “Pemberontakan di Kota Waringin”. Pada tahun 1910 topiknya adalah “Pemberontakan di Makassar. Pada tahun 1916, berita hari itu adalah Djambi, Jawa Tengah: Dari Surabaya kami menerima kabar: situasi di Djambi masih kritis”. Dan pada tahun 1927, ada masalah besar bagi Belanda di sekitar Jakarta: “Kerusuhan di Tangerang”, tulis surat kabar.

Ini hanyalah gambaran yang terbatas, tentang kejadian perlawanan paling penting dan terbesar melawan penjajahan Belanda di Indonesia selama periode 1850 – 1930. Ini adalah gambaran yang jauh dari gambaran lengkap dari semua kejadian perlawanan.

Tapi itu semua sudah cukup untuk memperjelas bahwa apa yang diklaim oleh buku-buku sejarah Belanda, yaitu sebagian besar orang Indonesia merasa puas dan bahagia dengan peraturan Belanda, tidak pernah ada, sebagaimana yang dijelaskan dari semua kasus perlawanan yang dilaporkan oleh surat kabar Belanda. Sebaliknya, selama periode tersebut Belanda menghadapi perlawanan secara terus menerus.

 

Baca artikel lanjutan di:

 

Sumber: www.newcivilisation.com