Ingin Mengurangi Terorisme, Mister Trump? Berhentilah Menindas Umat Islam

Banyak ironi dan kemunafikan dalam pidato yang disampaikan Trump di Arab Saudi akhir Mei kemarin. Dalam forum tersebut, di hadapan 55 pemimpin dan perwakilan negara mayoritas Muslim,  Trump menceramahi tentang bagaimana cara memerangi ekstremis Islam.

Tidak ada yang suka diceramahi, terutama oleh seseorang yang secara konsisten membuat pernyataan rasis tentang agama orang-orang yang dia ceramahi. Pernyataan Islamofobia yang tidak masuk akal telah menjadi ciri khas retorika Trump. Sungguh ironis bahwa Trump pergi ke Arab Saudi, untuk berbicara kepada umat Islam, tapi mengabaikan kaum Muslimin di negerinya sendiri, bahkan mengutuk mereka dan berusaha untuk memberlakukan undang-undang yang merugikan mereka.

Bahkan di Arab Saudi, Trump tidak dapat menahan diri untuk tidak menggunakan kata-kata seperti “teror Islam.” Kebanyakan orang tidak mengerti mengapa ini adalah istilah yang bermasalah. “Terorisme Islam” adalah sebuah oxymoron, karena ini berarti bahwa terorisme itu Islami.

Mengapa mereka terus membutuhkan istilah seperti “terorisme Islam”? Tapi tidak pernah menyebut penyerang klinik aborsi sebagai “teroris”, apalagi “teroris Kristen” atau “teroris Kristianis”. Bahkan Milisi Kristen Hutaree di Michigan atau Lord’s Resistance Army di Afrika tidak disebut “teroris Kristen”.

Bila teroris non Muslim diberitakan, agama mereka bahkan tidak disebutkan, meski mereka bertindak atas motivasi agama sekalipun. Mengapa saat ini seringkali menyebut agama jika pelaku teror adalah seorang Muslim? Ini adalah standar ganda, yang menggambarkan jika Muslim melakukan kejahatan maka mereka dianggap melakukannya karena agamanya, dan jika non-Muslim melakukan kejahatan, maka ia hanyalah orang biasa yang melakukan kejahatan.

Selain itu, dalam beberapa penelitan akademis, agama bukanlah yang memotivasi mayoritas teroris Muslim. Mereka sendiri berulang kali menegaskan bahwa mereka bertindak karena keluhan politik, bukan agama. Dan Marc Sageman, mantan pejabat CIA, menegaskan bahwa terorisme muncul dari “kemarahan moral dan emosional” saat melihat apa yang terjadi pada saudara Muslim mereka di seluruh dunia.

Trump mendesak umat Islam dengan paksa, dalam sambutannya, untuk mengusir para teroris. Jika mereka diusir, bukankah mereka bisa membentuk kantong perlindungan yang dengannya mereka bisa terus menyerang Amerika?

Trump tidak sekalipun menyinggung masalah mendasar kenapa orang yang dituduh sebagai teroris ini melakukan perbuatannya? ISIS dibentuk karena represi kekerasan terhadap muslim Sunni yang dilakukan oleh pemerintah Irak yang didukung AS saat ini. Beberapa pemimpin ISIS adalah mantan pejabat Saddam Hussein yang diusir, dipermalukan, dan tidak memiliki sarana untuk mendukung keluarga mereka.

Ada satu hal pokok yang hilang dalam pidato Trump,  yaitu ia berusaha melepaskan tanggung jawab “Dunia Kristen” atas lahirnya para teroris Muslim. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya telah mendukung diktator Muslim selama beberapa dekade, bahkan menggulingkan pemerintah yang terpilih secara demokratis, sistem yang selama ini mereka agung-agungkan.

Faktanya, Amerika Serikat telah membantu menggulingkan pemerintah demokratis di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. ISIS lahir dari kekacauan yang diakibatkan oleh Amerika Serikat di Irak. Al Qaeda dan ISIS menargetkan Amerika Serikat karena mereka membenci kebijakan luar negeri AS: Dukungan AS terhadap pemerintah otoriter di negara mereka, pangkalan militer AS di negara mereka, perlakuan terhadap orang-orang Palestina, dan demonisasi Muslim tanpa henti  yang dilakukan oleh Barat.

Jadi, Anda ingin mengurangi terorisme, Presiden Trump? Maka selesaikanlah masalah politik tersebut. Tekan pemerintah Irak untuk menghentikan penindasan terhadap Muslim Sunni. Tekan Israel untuk menghentikan pembangunan permukiman ilegal. Berhentilah mendukung pemerintahan yang represif, seperti di Mesir. Dan berhentilah menjelek-jelekkan umat Islam.

 

sumber: www.huffingtonpost.com