Azh-Zhawahiri Serukan Umat Islam Bersatu Melawan Musuh Meski Berbeda Front

Devisi Media Al Qaeda, As-Sahab, kembali merilis pesan dari Amir Al Qaeda, Ayman Az-Zawahiri, pada Jumat (09/05) kemarin. Ayman dalam pidatonya yang menjadi serial ke-7 dari ‘Rasa`il Mukhtasharah li Ummah Muntashirah‘ (Pesan-pesan Singkat Buat Umat Pemenang) memulai dengan menegaskan bahwa “umat Islam hari ini sedang berhadapan dengan  perang global yang dilancarkan oleh Salibis, Barat, Timur, Cina, India, Rafidah-Safawi, Nasionalis dan Liberalis.”

Menurut Ayman, barang siapa yang memperhatikan peta dunia Islam mulai dari pesisir Maroko hingga Turkistan Timur maka akan didapatkan bahwa negeri-negeri tersebut sedang dihadapkan dengan agresi, penjajahan, pendudukan,  dihujani roket, dan koalisi-koalisi internasional yang didukung oleh pemerintahan-pemerintahan yang telah keluar dari Islam dan bekerja  secara proxy demi kepentingan para penjahat terbesar.

(Baca juga: Taliban Sangkal Tuduhan Rezim Soal Pemboman Kabul)

Dalam hematnya, bentuk perang tersebut memang agak sedikit berbeda antara satu negeri dengan negeri lainnya, namun semuanya disatukan dalam memerangi Islam dengan mengatasnamakan perang melawan teror. Selain juga disatukan dengan ketundukan kepada tatanan internasional yang dibentuk oleh pemenang Perang Dunia II untuk membagi-bagi dan merampok kekayaan dunia, terkhusus negeri-negeri Islam.

Dalam pandangan Ayman, peran terbesar dalam usaha koalisi tersebut adalah Amerika, sementara lainnya mengambil peran sesuai dengan kemampuan dan kepentingannya masing-masing.

Untuk menghadapi persoalan tersebut, Ayman menyeru kepada umat Islam agar menghadapinya dengan dua pendekatan, yaitu : pendekatan syar’i, dan pendekatan praktis.

Pendekatan syar’i yaitu dengan menggalang persatuan dan kesatuan internal umat Islam, sebagaimana yang diperintah dalam sejumlah ayat dalam Al Quran. Setelah menyebutkan ayat-ayat terkait hal itu, Ayman mengatakan, “Untuk itulah para ahli fikih menetapkan bahwa negeri-negeri Islam ibarat satu kesatuan negara. Mereka—ahli fikih—sepakat bahwa manakala orang kafir menjajah salah satu negeri Islam maka penduduknya wajib untuk mempertahankan negeri tersebut. Dan ketika mereka tidak mampu mempertahankannya, maka kewajiban tersebut mengenai seluruh umat Islam.”

Adapun pendekatan praktis, Ayman menyeru agar umat Islam mempertahakan setiap negeri Islam mana pun tanpa memandang apa pun kewarnegaraan dan suku mereka. Ayman menyebut bahwa hal seperti ini sebetulnya suatu yang lumrah hingga berakhir Daulah Turki Utsmani yang telah berjasa mempertahakan negeri-negeri Islam selama lima abad.

(Baca juga: Ancaman Kebangkitan Kembali Al-Qaeda)

Ayman lalu menyebutkan beberapa ulama dan tokoh kontemporer yang memiliki pemahaman seperti ini, di antaranya: Hasan Al Banna (warga negara Mesir yang membentuk beberapa brigade pejuang untuk membebaskan Palestina), Izzuddin Al Qassam (warga negara Suriah yang berjihad di Palestina), Abdullah Azzam (warga negara Palestina yang membangunkan umat Islam untuk mempertahankan Afghanistan dan menegaskan bahwa jihad hari ini telah menjadi fardhu ‘ain sejak jatuhnya Andalusia ke tangan orang-orang kafir), Usamah bin Laden, Abu Mush’ab As Suri, dan Abu Muhammad At Turkistani (ketiganya berbaiat untuk berjihad kepada Mulla Muhammad Umar yang berkewarnegaraan Afghanistan).

Memang tidak jelas kapan pidato Ayman ini direkam. Tampaknya pidato tersebut lebih ditujukan sebagai tanggapan atas beberapa momen dan peristiwa penting terakhir, seperti pertemuan di Riyadh dan boikot negara-negara Teluk atas Qatar.

 

 

Sumber:

  • Ummah Wahidah fi Harb Wahidah ‘ala Jabahat Muta’ddidah dalam serial ke-7 Rasa`il Mukhtasharah li Ummah Muntashirah di Channel Telegram: jhad_m
  • http://www.risala.io/b7m6