Dampak Perang, Satu Anak Terinfeksi Kolera Setiap 35 Detik di Yaman

Seorang ibu dan bayi di sebuah rumah sakit di Sanaa, di mana badan-badan bantuan mengatakan satu anak terkena kolera setiap 35 detik (Mohammed Awadh / Save the Children)

Save the Children mengungkapkan bahwa wabah kolera menyebar dengan sangat cepat sehingga satu anak terinfeksi hampir setiap 35 detik di Yaman. Penyakit menular, yang disebarkan melalui makanan dan air yang terkontaminasi bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat, dan sudah membunuh sekitar 30 orang setiap hari.

Sekitar 942 kematian terkait kolera telah didaftarkan, dan tingkat infeksinya lebih dari tiga kali lipat dalam dua minggu terakhir.

Dr Mariam, dokter  di Hodeida, merespon laporan Save the Children mengatakan bahwa situasinya sangat penting. “Anda bisa melihat ketakutan di mata para ibu, mereka takut kehilangan anak, suami, kerabat mereka,” katanya kepada MEE.

Anak-anak telah terbukti paling rentan katanya, karena sebagian besar sudah menderita kekurangan gizi, sehingga kekebalannya rendah.

Dan penyakit menular ini menyebar dengan sangat cepat karena kurangnya air minum bersih. “Lebih dari 60 persen orang Yaman tidak memiliki akses terhadap air bersih, jika begitu seberapa parahkah menurut  situasinya menurut Anda?”

Meski pengobatan kolera sederhana, banyak pasien tidak berhasil mendapatkan bantuan pada waktunya, katanya.

“Ada banyak orang yang tidak dapat Anda dukung … terkadang saya merasa sangat marah dan depresi sehingga saya tidak dapat menolong orang-orang ini. Saya seorang dokter medis,” uangkapnya dengan nada jengkel.

“Perang harus dihentikan. Kita membutuhkan kedamaian. Kami butuh bantuan,” tambahnya.

“Anak-anak bukanlah orang yang menyebabkan perang ini.”

Meski pengobatan kolera mudah dan murah, banyak pasien tidak dapat mengakses bantuan yang mereka butuhkan. Hal itu terkait  serangan yang dipimpin Saudi yang menurut pengakuannya  setidaknya berdampak 8.000 nyawa sejak serangan Maret 2015, menurut PBB.

Ribuan lagi kematian terkait kolera diperkirakan terjadi, Save the Children mengatakan, dengan 300.000 kasus baru diprediksi dalam beberapa bulan mendatang.

Selama minggu lalu, ada sekitar 5.470 kasus baru setiap hari, dan wabah tersebut secara tidak proporsional mempengaruhi anak-anak, kata LSM tersebut.

Kasus kolera menyebar 46% ke anak di bawah usia 15 tahun. Secara total, hampir 70% penduduknya membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk sekitar 10 juta anak-anak.

Yaman, negara paling miskin di kawasan ini bahkan sebelum perang pecah, kini berada di ambang “keruntuhan total,” kata Grant Pritchard, direktur negara Yaman Save the Children.

“Penyakit, kelaparan dan perang menyebabkan badai bencana yang sempurna bagi masyarakat Yaman. Negara termiskin di wilayah ini hampir kehancuran total, dan anak-anak sekarat karena mereka tidak dapat mengakses layanan kesehatan dasar,” katanya.

“Wabah kolera menjadi biang masalah kesehatan akibat konflik yang bertubi-tubi di Yaman. Rumah sakit dan pusat perawatan berjuang untuk mengatasi sejumlah besar pasien yang datang dari seluruh negeri. Obat-obatan dan cairan intravena cepat habis. “

Rumah sakit kewalahan dan kekurangan pasokan obat-obatan. Save the Children mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Karena infrastruktur yang lumpuh, kerawanan pangan, ekonomi yang gagal dan perang yang sedang berlangsung yang berarti banyak orang tidak dapat memperoleh bantuan pada waktunya.”

“Situasinya sangat buruk di daerah terpencil di negara ini dengan sedikit atau bahkan tidak memiliki akses terhadap layanan kesehatan. Perang, kondisi kelaparan dan kerusakan total dalam layanan sosial dasar, termasuk transportasi yang terjangkau dan akses terhadap air bersih, membuat wabah itu menjadi lebih buruk. “

UNICEF memperingatkan bahwa jika petugas kesehatan tidak dibayar segera, lebih banyak anak akan meninggal. Negara belum membayar banyak pegawai negeri untuk beberapa bulan, dengan alasan kondisi perang.

“Jika tidak segera membayar pekerja kesehatan, akan ada lebih banyak lagi anak-anak yang akan meninggal – tidak peduli berapa banyak bantuan kemanusiaan dikirim ke negara tersebut,” Meritxell Relano, perwakilan UNICEF di Yaman mengatakan pada hari Selasa.

Lebih dari 30 orang per hari sudah sekarat karena kolera, banyak di antaranya adalah anak-anak (Mohammed Awadh / Save the Children)

“Jika melihat konflik yang tiada akhir ini, wabah kolera – dan penyakit berpotensi lainnya – akan terus menusuk kehidupan anak-anak.”

Kepala bantuan PBB, Stephen O’Brien, memperingatkan akhir bulan lalu bahwa Yaman melonjak menuju “keruntuhan sosial, ekonomi dan institusional total”.

 

sumber: www.middleeasteye.net