Membongkar Blokade Qatar; Serangan Terencana dan Sistematis

Sudah jelas bahwa hacking kantor berita Qatar bulan lalu merupakan serangan terencana. Inilah alasannya, mengapa hal itu terjadi dan mengapa harus saat ini.

 

Tak lama setelah “senjata berat” Uni Emirat Arab dan media yang dikendalikan Saudi mengarahkan tembakannya ke Qatar, negara kecil itu akan tersungkur dalam kehancuran. Qatar tidak mampu menampung siapapun atau apapun, apalagi Piala Dunia. Paling tidak, begitulah cara mereka membayangkan alur ceritanya.

Klaim tuduhan terhadap Qatar meningkat secara histeris: Qatar mendanai semua teroris; Qatar tidak boleh dibiarkan “menyabotase wilayah”; Qatar harus menjauhi Iran. Akhirnya, emir Qatar diingatkan akan nasib Mohamed Morsi.

Ancaman untuk menggulingkan kepala negara sesama anggota GCC bahkan dilakukan secara terang-terangan. Hal ini dilakukan oleh orang yang bertugas mewakili kepentingan Saudi di AS. Salman al-Ansari, presiden Komite Urusan Hubungan Masyarakat Saudi Amerika, men-tweet: “Kepada Emir Qatar, mengenai kemesraan Anda dengan pemerintah ekstremis Iran dan penyalahgunaan wewenang atas penjagaan dua masjid suci, saya ingin ingatkan Anda bahwa Mohammed Morsi melakukan hal yang persis sama dan kemudian digulingkan dan dipenjara.”

(Baca juga: Bocoran email UEA, membaca langkah politik balik layar UEA)

Seorang editor yang pantas menerima kenaikan gaji

Kalimat tersebut adalah hal yang menarik untuk dikatakan kepada Qatar, sekutu yang menyediakan banyak pasukan untuk melindungi perbatasan selatan Saudi dengan Yaman. Bahkan Mesir pun tidak. Atau kepada pemerintah yang mengekstradisi seorang pembangkang politik ke Saudi pada hari yang sama saat disebut sebagai pro-Iran. Menarik juga, setelah Raja Salman mengunjungi Qatar dan menari dengan emir.

Tapi mungkin raja tidak lagi sadar akan apa yang dilakukan anaknya yang berusia 31 tahun atas namanya.

Peretasan Kantor Berita Qatar pada 24 Mei hanyalah pelatuk awal. Dalam beberapa menit setelah terkena hack pukul 00:14, Al Arabiya TV dan Sky News Arabia mengutip teks dari berita-berita palsu. Dalam waktu 20 menit, jaringan media tersebut menjalankan analisis, implikasi, kutipan dan tweet.

Menurut pihak berwenang Qatar, antara pukul 00:51 dan 3:28 pagi, jaringan media tersebut berhasil menemukan 11 politisi dan analis untuk diwawancarai. Kerja cepat untuk seorang editor on duty yang “bereaksi hebat” terhadap sebuah momen penting di tengah malam. Dia pantas mendapat kenaikan gaji.

(baca juga: Politik kawasan Arab memanas, reaksi para pemimpin global atas bocornya email UEA)

Kebetulan lainnya yang terkesan janggal: semua ini didahului oleh 14 buah op-ed (opposite the editorial page) yang berbeda di media AS mengenai bahaya yang dibawa Qatar bagi stabilitas regional. Hal ini sangat membingungkan karena sudah bertahun-tahun yang lalu taka ada yang peduli untuk menulis tentang Qatar di media AS.

Jadi sudah jelas apa yang terjadi. Ini adalah serangan terencana untuk Qatar. Yang belum jelas adalah mengapa, dan mengapa sekarang?

Dukungan Qatar terhadap orang-orang buangan politik Mesir, sekuler dan Islamis, sudah lama ada. Qatar telah menampung mantan pemimpin politik Hamas sejak dia meninggalkan Damaskus. Jaringan media Al Jazeera juga merupakan salah satu media yang memberitakan Arab Spring.

Liputan Al Jazeera tentang kunjungan Donald Trump ke Riyadh patut dipuji. Demikian pula cakupan perang di Yaman. Semua itu dengan hati-hati diperiksa agar tidak mengganggu Saudi. Apa yang kemudian mengganggu sarang lebah ini?

 

Baca halaman selanjutnya: Motif Saudi memblokade Qatar