PBB: Yaman, Krisis Kemanusiaan Terbesar di Dunia

 

Yaman, negara termiskin di kawasan Arab, sekarang telah menjadi ajang tindak kekerasan kekuatan regional maupun internasional

 

“Krisis kemanusiaan terbesar di dunia bukanlah di Suriah, tapi di Yaman.” Demikian kata Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyoroti konsekuensi serius dari konflik yang terus berkecamuk di Yaman. Konflik berkepanjangan tersebut telah menyebabkan 18,8 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan atau perlindungan. Sebanyak 10,3 juta memerlukan bantuan segera untuk menyelamatkan atau mempertahankan kehidupan mereka.

Perang dan dampak perekonomin Yaman menyeret negara miskin tersebut ke keadaan darurat keamanan pangan terbesar di dunia. Data menunjukkan bahwa lebih dari 17 juta orang di Yaman saat ini merasa tidak aman terhadap makanan yang mereka makan. Bahkan, dari jumlah tersebut, 6,8 juta orang sangat tidak aman dan membutuhkan bantuan segera.

Konflik Yaman telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi konflik panas pada bulan Maret 2015 setelah keterlibatan koalisi pimpinan-Saudi ikut memasuki wilayah Yaman.

(BACA JUGA: Dampak Perang, Satu Anak Terinfeksi Kolera Tiap 35 Detik di Yaman)

Lebih dari 10.000 orang terbunuh dan tiga juta orang mengungsi dari rumah mereka sejak Februari 2014, menurut PBB .

Pada tanggal 2 Juli, Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa wabah kolera di negara tersebut telah menewaskan 1.500 orang, memperingatkan bahwa hal itu dapat menginfeksi sebanyak 300.000 orang pada akhir Agustus.

Menurut LSM Save The Children kasus kolera menyebar 46% ke anak di bawah usia 15 tahun. Secara total, hampir 70% penduduk Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk sekitar 10 juta anak-anak.

Yaman, negara paling miskin di kawasan ini bahkan sebelum perang pecah, kini berada di ambang “keruntuhan total,” kata Grant Pritchard, direktur negara Yaman Save the Children.

Dengan tidak adanya tanda-tanda konflik mereda, kemungkinan bahwa krisis kemanusiaan di negara paling miskin di dunia Arab hanya akan memburuk.

 

sumber: www.aljazeera.com; www.middleeasteye.net