Sekjen PBB: Amerika dan Saudi, Penyebab Wabah Kolera di Yaman

Yaman, negara miskin tetangga Arab Saudi yang telah dilanda perang dan berada di ambang kelaparan. Dua tahun konflik mengerikan telah menewaskan lebih dari 10.000 orang, melukai 45.000 lainnya. Konflik itu pun telah menjadikan lebih dari 11 persen dari 26 juta penduduk negara tersebut mengungsi.

Yaman sekarang menghadapi wabah kolera terburuk di dunia, menurut otoritas kesehatan internasional.

Wabah tersebut telah menembus di atas 200.000 kasus, dan jumlah tersebut meningkat 5.000 per hari.

“Hanya dalam dua bulan, kolera telah menyebar ke hampir setiap bagian negara yang dilanda perang ini,” kata Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan dan Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake dalam sebuah pernyataan bersama.

Lebih dari 1.300 orang telah meninggal – seperempatnya anak-anak dan jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat.

Kolera disebabkan karena menelan makanan atau air yang terkontaminasi bakteri Vibrio cholerae. Jika tidak diobati, bisa menyebabkan dehidrasi berat dan akhirnya mati.

(BACA JUGA: Setiap 35 Detik, Satu Anak Terjangkit Kolera di Yaman)

Kolera dapat dicegah dan mudah diobati dengan sumber daya yang tepat, kata Kurt Tjossem, direktur regional Komite Penyelamatan Internasional untuk Afrika Timur. Di Yaman, bagaimanapun, infrastruktur yang ambruk telah memotong sekitar 14,5 juta orang (sekitar setengah dari populasi negara tersebut) dari akses ke air bersih, meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit ini.

Krisis itu “buatan manusia,” kata Stephen O’Brien, sekretaris jenderal PBB untuk koordinasi kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat, dalam sebuah pernyataan pekan lalu. Selama dua tahun terakhir, Yaman telah terlibat dalam perang sipil antara pemberontak Houthi dari utara negara tersebut dan sebuah koalisi negara-negara Arab, yang dipimpin oleh Arab Saudi dan didukung oleh Amerika Serikat.

“Epidemi kolera sebagian disebabkan oleh pemboman pasokan air di Sana’a”, Senator Chris Murphy, D-Conn mengatakan. “Ada jejak AS tentang setiap kematian warga sipil di Yaman.”

Masalah di Yaman lebih buruk lagi mengingat isu kerawanan pangan dan gizi buruk yang semakin melebar, di mana 2,2 juta anak-anak menderita kekurangan gizi akut.

Saat malnutrisi meningkat, kekebalan anak-anak menurun yang membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit seperti kolera.

(BACA JUGA: PBB: Yaman, Krisis Kemanusiaan Terbesar di Dunia)

Perekonomian Yaman hancur dan petugas layanan kesehatan terus bekerja tanpa upah. Menurut UNICEF dan WHO, sekitar 30.000 petugas kesehatan setempat belum membayar gaji mereka selama hampir 10 bulan.

Hampir separuh fasilitas medis negara tersebut telah hancur. Seorang anak Yaman meninggal setiap 10 menit akibat efek kelaparan dan kurangnya fasilitas medis.

Yaman telah hancur berkeping-keping. Perang yang dipimpin Saudi dan didorong oleh ambisi Amerika Serikat, telah membuat jutaan orang menjadi korban penyakit mematikan seperti Cholera. Kemiskinan telah merenggut populasi di Yaman. Para ibu bingung saat melihat anak-anak mereka sekarat tanpa daya, tidak tahu kemana dan dari mana makanan dan air akan mereka dapatkan.

Pasukan yang dipimpin Saudi telah menargetkan pertanian, fasilitas makanan, infrastruktur air, pasar, dan bahkan pelabuhan Hudaidah, di mana sebagian besar bantuan kemanusiaan memasuki negara tersebut. Termasuk kejahatan ke sipil adalah pemboman Arab Saudi yang menarget prosesi pemakaman pada bulan Oktober 2016 yang mengakibatkan 150 kematian.

Meski begitu brutalnya perang di Yaman, Trump tetap mendapatkan kesepakatan senilai $ 110 miliar selama perjalanannya ke kerajaan Saudi pada bulan Mei, yang akan digunakan untuk mengebom dan membunuh lebih banyak orang di Yaman. Keluarga Saud berjanji pada Trump bahwa militer mereka akan menjalani pelatihan AS yang ketat untuk mengurangi korban sipil, menandatangani program pelatihan senilai $ 750 juta.

 

Disadur dari: www.hizb.org.uk