Siapa yang Menggusur Hegemoni Amerika?

Artikel berikut merupakan bagian ke-2 dari tiga tulisan tentang analisa runtuhnya Amerika dan tercerai-berainya tatanan dunia yang telah dibentuk karena hegemoni Amerika. Analisa ini bersumber dari laporan pentagon yang didasarkan atas penelitian intensif selama setahun dan melibatkan agen-agen utama di seluruh Departemen Pertahanan dan Angkatan Darat AS. Laporan tersebut meminta pemerintah AS untuk melakukan lebih banyak surveillance (pengawasan/mata-mata), propaganda yang lebih baik melalui “manipulasi strategis” opini publik, dan militer AS dengan pekerjaan yang harus “lebih luas dan lebih fleksibel”.

Laporan tersebut dipublikasikan pada bulan Juni oleh Institut Studi Strategis Angkatan Darat AS untuk mengevaluasi pendekatan Departemen Pertahanan terhadap penilaian risiko di semua tingkat perencanaan kebijakan Pentagon. Studi ini didukung dan disponsori oleh Direktorat Strategi dan Bantuan Angkatan Darat A.S.; Staf Gabungan, J5 (Cabang Strategi dan Kebijakan); Kantor Wakil Menteri Pertahanan untuk Strategi dan Pengembangan Angkatan Darat; Dan Kantor Manajemen Program Studi Angkatan Darat.

(BACA ARTIKEL SEBELUMNYA: Analisa Pentagon: Amerika Segera Kolaps, Tatanan Dunia Tercerai-Berai)

***

Membela “status quo”

Laporan Pentagon menyatakan bahwa kekuatan utama yang telah menggeser AS dari posisi “polisi dunia” adalah Rusia dan China, serta pemain kecil seperti Iran dan Korea Utara.

Dokumen tersebut kurang terbuka dalam menjelaskan mengapa AS melihat negara-negara ini sebagai ancaman – mungkin karena alasan militer atau keamanan. Terutama usaha negara-negara kecil tersebut dalam mengejar kepentingan nasional mereka sendiri, dipandang sebagai usaha meruntuhkan dominasi Amerika.

Rusia dan China digambarkan sebagai “pasukan pembaharu” yang mendapatkan keuntungan dari tatanan internasional yang didominasi oleh AS, namun berani untuk “mencari jalur baru untuk memperoleh kekuasaan dan wewenang yang sepadan dengan kemunculan mereka sebagai saingan yang sah terhadap dominasi AS.” Rusia dan China, kata para analis, “terlibat dalam program yang terencana untuk mengekspos keterbatasan otoritas, kemampuan, jangkauan, pengaruh, dan peran yang dimiliki AS.”

Premis kesimpulan ini adalah bahwa tatanan internasional “status quo” yang didukung AS secara fundamental “menguntungkan” kepentingan AS dan sekutu-sekutunya. Setiap upaya untuk membuat tatanan global juga bekerja “baik” bagi orang lain secara otomatis dipandang sebagai ancaman terhadap kekuatan dan kepentingan AS.

Dengan demikian, Rusia dan China “berusaha untuk menyusun ulang posisi mereka dalam kondisi status quo yang ada dengan cara yang -minimal- menciptakan keadaan yang lebih menguntungkan untuk mencapai tujuan utama mereka.” Sepintas tampaknya tidak ada yang salah dalam hal ini. Jadi para analis menekankan bahwa “dari perspektif yang lebih luas, terlihat bahwa mereka mengejar keuntungan dari segala konsekuensi yang ditimbulkan oleh kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya.”

Tidak banyak bukti dalam laporan tersebut tentang bagaimana Rusia dan China mampu mengancam keamanan nasional Amerika.

Tantangan utama adalah bahwa mereka bertekad untuk mengubah kondisi status quo melalui penggunaan teknik “zona abu-abu”, yang menggunakan sarana dan metode yang jauh dari provokasi dan konflik terbuka.

Bentuk agresi berbasis negara, yang agak samar dan kurang jelas, tetap saja patut dikecam, meskipun tanpa penggunaan kekerasan, namun seolah kemudian kehilangan akal sehat. Studi Pentagon menganjurkan agar AS sendiri “menjadi abu-abu atau pulang” untuk memastikan pengaruh AS.

Laporan tersebut juga menjelaskan alasan sebenarnya AS memusuhi kekuatan revolusioner seperti Iran dan Korea Utara: mereka menimbulkan hambatan mendasar bagi pengaruh imperium AS di wilayah tersebut. ” … mereka bukan produk dari tatanan ini, mereka juga bukan Negara yang puas dengan tatanan kontemporer ini… Paling tidak, mereka berniat menghancurkan tatanan dunia yang dipimpin AS ke dalam apa yang mereka anggap sebagai lingkup pengaruhnya yang sah. Mereka juga berusaha memutus rantai tatanan tersebut untuk mengganti tatanan itu secara lokal dengan seperangkat aturan baru yang telah mereka tentukan.”

Alih-alih bersikap keras, laporan tersebut malah menolak menganggap mereka sebagai masalah untuk perluasan pengaruh Amerika. Berbeda yang nampak di publik yang selalu menjadikan mereka musuh dan sebagai ancaman nuklir.

Kekalahan dalam Perang Propaganda

Di tengah tantangan yang ditimbulkan oleh kekuatan yang saling bersaing ini, studi Pentagon menekankan adanya ancaman dari kekuatan non-negara yang merongrong tatanan internasional pimpinan AS dengan berbagai cara, terutama melalui informasi.

Tim peneliti mengamati bahwa berlebihnya konektivitas dan persenjataan berupa informasi, disinformasi, dan ketidakpuasan mengarah pada penyebaran informasi yang tidak terkendali. Hasilnya, Pentagon menghadapi penghapusan kerahasiaan dan keamanan operasional yang tak terelakkan.

“Akses teknologi luas yang tidak terkontrol yang sekarang dianggap remeh akan merusak beberapa manfaat awal tindakan, atau operasi diskrit, dan rahasia… Pada akhirnya, pemimpin militer senior harus menganggap bahwa semua kegiatan yang berkaitan dengan pertahanan dari gerakan taktis keci hingga Operasi militer besar akan terjadi sepenuhnya di tempat terbuka sejak saat ini. ”

Revolusi informasi ini, pada gilirannya, mengarah pada “disintegrasi umum struktur otoritas tradisional yang didorong, dan atau dipercepat oleh hyperconnectivity dan kegagalan yang jelas dan potensi kegagalan dari status quo pasca Perang Dingin quo.”

 

sumber: www.medium.com