Membaca Strategi Jihad Global Al-Qaeda Pasca Melemahnya ISIS

Al-Qaeda Anak-Benua India (AQIS) atau al-Qaeda Asia Selatan, baru-baru ini merilis sebuah dokumen setebal 20 halaman yang berisi sebuah kode etik baru bagi jihadis di seluruh dunia. Naskah itu ditujukan tidak hanya untuk anggota al-Qaeda tetapi juga jihadis lainnya di semua lapisan organisasi, baik yang berafiliasi dengan al-Qaeda atau berjuang terpisah.

Dokumen tersebut terus diteliti oleh para analis dan pakar agar semakin jelas tujuan dan konsekuensi dari kode etik baru tersebut. Mayoritas analis telah menggambarkan dokumen tersebut sebagai pengulangan kesetiaan al-Qaeda ke Taliban, dilengkapi dengan daftar kelayakan pemimpin untuk para jihadis. Dokumen tersebut juga berisi dorongan baru bagi AQIS untuk memperluas jangkauan kerjanyadi Asia Selatan, sebuah wilayah yang menampung hampir 530 juta umat Islam.

Namun, sebuah analisa mengungkapkan hal lain yang jauh lebih penting. Inti dari pesan tersebut merupakan pesan nyata Al-Qaeda untuk mendapatkan kembali kepemimpinan jihad global yang selama ini diambil ISIS. Pengungkapan visi masa depan Al Qaida melalui AQIS juga menunjukkan bahwa AQIS barangkali adalah satu-satunya afiliasi regional yang menjadi pusat kontrol al-Qaeda secara langsung.

Lokasi geografik dari pusat al-Qaeda dan AQIS juga menambah fenomena ini. Dokumen AQIS mau tidak mau harus dilihat lebih sebagai pesan dari pusat al-Qaeda (bukan pesan cabang Al-Qaeda -red).

Dokumen yang dibuat bersamaan dengan berhasil dikalahkannya ISIS dari Irak perlu dipahami sebagai manuver strategis yang signifikan oleh al-Qaeda. Kode etik yang baru tersebut pada dasarnya merupakan pengulangan dokumen 2013 Zawahiri, yang pada awalnya merupakan peraturan yang harus dipatuhi jihadis saat bertempur di medan jihad. “Kami menghindari menarget musuh yang non-pejuang… seperti wanita dan anak-anak,” kata dokumen tersebut.

(BACA JUGA: Komando Al-Qaeda Pusat: Darah Kaum Muslimin Haram Ditumpahkan)

Pesan tersebut dikeluarkan Al-Qaeda di saat para jihadis terombang-ambing oleh tindakan ISIS (yang menarget sipil non-kombatan) yang akhirnya mengalihkan sumpeh setianya dari Al-Qaeda ke ISIS. Pesan tersebut juga semacam pengulangan pesan kepada para jihadis yang sebagian telah mengabaikan wasiat pendiri Al-Qaeda, Usamah bin Laden.

“Surat-surat dari Abbottabad” yang ditemukan pada tahun 2011 dan dokumen al-Qaeda berikutnya mengungkapkan bahwa bin Laden dan Al-Qaeda prihatin tentang penggunaan kekerasan tanpa pandang bulu oleh kelompok-kelompok seperti Tehreek-e- Taliban Pakistan, al-Qaeda di Irak, dan ISIS.

Al-Qaeda meyakini bahwa taktik brutal ISIS yang ditimpakan ke umat Islam hanya karena tidak sejalan dengan ISIS akan menyebabkan umat Islam jijik terhadap ISIS dan taktik jihadnya. Sejalan dengan kekhawatiran ini, dokumen yang baru tersebut mengatakan bahwa al-Qaeda melarang memukul atau membunuh sasaran (meski diperbolehkan secara syariat) jika aksi tersebut malah memperburuk sttrategi  gerakan jihad.

Keberhasilan ISIS pada tahun 2014 dan deklarasi khilafah, berfungsi sebagai penolakan terhadap norma dan pedoman yang ditetapkan oleh al-Qaeda. Padahal norma yang diserukan Al-Qaeda dipakai oleh para jihadis lintas benua.

Keberhasilan ISIS atas al-Qaeda waktu itu tampak sebagai hasil dari kebiadaban tanpa pamrih (berkebalikan dengan anjuran Al-Qaeda -pent) yang dilakukan oleh Negara Islam. Selama dua tahun setelahnya, ISIS mampu meminggirkan al-Qaeda. ISIS mampu mengambil rekrutmen, uang, dan budak. Wacana dalam komunitas jihadi waktu itu mengisyaratkan bahwa al-Qaeda telah tenggelam.

(BACA JUGA: Membaca Blueprint Strategi Jitu Al-Qaeda Kalahkan Amerika)

ISIS terbukti menjadi antitesis taktis dan ideologis bagi kelompok-kelompok seperti al-Qaeda hampir di semua peraturan dan strategi yang dipraktikkan dan dipromosikan al-Qaeda. Bin Laden ingin para jihadis untuk menargetkan “musuh jauh” (Amerika Serikat dan sekutunya yang Barat), yang ia yakini sebagai akar penyebab semua kejahatan. Sebaliknya, ISIS berfokus pada penargetan musuh dekat, rezim Muslim domestik yang murtad yang mereka sebut taghuut.

Al-Qaeda menolak Muslim membunuh orang Syi’ah dan sufi di Irak dan tempat lain (non-kombatan -red), karena percaya bahwa tindakan tersebut malah menjauhkan Muslim dari jihad. ISIS, di sisi lain malah melakukan sebaliknya, menarget Syiah secara brutal, tempat-tempat keagamaan mereka dan target sufi lainnya, yang diyakini berada di luar pucuk iman (iman).

Agenda anti-Syiah memungkinkan ISIS untuk menarik banyak rekrutan dari penduduk Sunni di Irak barat, yang telah mengalami penyiksaan yang memalukan di tangan rezim Syiah dan milisi Syiah yang berkuasa.

Sejumlah kelompok Sunni dan Naqshbandiya berperan dalam mengalahkan al-Qaeda di Irak dengan dukungan serangan Amerika. Kelompok-kelompok yang tergerus ini akhirnya bergabung dengan ISIS dan mengubahnya menjadi kekuatan utama.

 

Baca halaman selanjutnya: Antara Taliban, Al-Qaeda dan ISIS