Bagaimana Al-Qaeda Bertahan dari Serangan Drone, Tumbuh, dan Menghadapi IS?

Beberapa saat yang lalu, yaitu pada bulan Juni 2017, the Washington Institute, lembaga think tank di Amerika Serikat, menyelenggarakan lokakarya (workshop) tentang Al-Qaeda. Hasilnya dipublikasikan dalam laporan setebal 124 halaman.

 

Pada tanggal 1 MARET 2017, the Washington Institute for Near East Policy mengadakan sebuah lokakarya mengenai status terkini Al-Qaeda. Lokakarya ini merupakan yang ketiga dari serangkaian lokakarya yang diselenggarakan di bawah payung Program Stein tentang Kontraterorisme dan Intelijen yang dikelola oleh pihak institut selama beberapa tahun terakhir. Dua lokakarya sebelumnya membahas tentang bagaimana melawan the Islamic State (IS); yang pertama berfokus pada lima upaya khusus dan yang kedua berfokus pada bagiamana menyikapi provinsi-provinsi IS di luar Suriah dan Irak.

Lokakarya satu hari ini melibatkan para ilmuwan dan praktisi yang berfokus pada Al-Qaeda dan cabang-cabangnya, yang diselengarakan sesuai dengan aturan Chatham House. Acara tersebut terselenggara dengan membahas empat topik tematis seputar:

(1) kekuatan Al-Qaeda dari perspektif internasional dan domestik;
(2) cabang terkuat Al-Qaeda di Suriah dan Hai’ah Tahrir al-Sham (yang dahulu bernama Jabhah al-Nusra dan Jabhah Fateh al-Sham);
(3) cabang utama Al-Qaeda di luar Suriah (AQAP, AQIM, Al-Shabab, dan AQIS); dan
(4) struktur keuangan Al-Qaeda.

Hasil lokakarya tersebut dipublikasikan oleh the Washington Institute di situs resminya di bawah kolom Policy Focus. Laporan tertulis tersebut kemudian diedit oleh Aaron Y. Zelin, peneliti sekaligus pengamat jihad yang juga mengelola blog Jihadology.net. Tulisan tersebut menghimpun studi-studi kasus yang menunjukkan bagaimana setiap bagian dari jaringan Al-Qaeda beradaptasi dan bertahan dari berbagai tantangan yang dihadapinya sejak awal pemerintahan Obama.

Laporan ini ditulis oleh para ilmuwan terkemuka, praktisi, dan pejabat pemerintah dari Amerika Serikat maupun luar negeri. Bab-bab yang tertuang dalam laporan tersebut disampaikan dalam sebuah lokakarya di mana para peserta memberikan penilaian off-the-record yang jujur atas berbagai isu penting, termasuk tentang pandangan stratejik Al-Qaeda saat ini, hasil pengamatan dekat terhadap cabangnya di Suriah, cabang-cabangnya di luar Suriah (AQAP, AQIM, Asy-Syabab, dan AQIS), serta analisis situasi keuangan kelompok tersebut saat ini.

(BACA JUGA: Assassination Complex, Program Pembantaian Terselubung Drone)

Yang bertugas sebagai editor laporan tersebut adalah Aaron Y. Zelin adalah Richard Borow Fellow di The Washington Institute, di mana dia berfokus pada kelompok jihad Sunni Arab di Afrika Utara dan Suriah. Zelin adalah pendiri situs Jihadology yang terkenal dan dikutip oleh JihadPod. Dia juga penulis beberapa studi, terakhir pada tahun 2016 untuk Washington Institute tentang Metodologi Teritorial Negara Islam.

Adapun para kontributor tulisan dalam laporan tersebut merupakan sosok-sosok yang dikenal sebagai para ilmuwan pakar kontraterorisme yang dekat dengan pemerintahan Amerika Serikat. Terdapat nama-nama seperti Charles Lister dari Brookings Institute, Daveed Gartenstein-Ross dari Foundation for Defense of Democracies, Samuel Heller dari the Century Foundation, Katherine Zimmerman dari the American Enterprise Institute, Andrew Lebovich dari European Council on Foreign Relations, serta beberapa nama lainnya.

Selama delapan tahun terakhir, keberuntungan Al-Qaeda mengalami pasang maupun surut. Serangan drone (pesawat nirawak), gejolak di berbagai kawasan, dan tantangan dari the Islamic State(IS) telah memaksa induk organisasi Al-Qaeda—yang memiliki basis historis di wilayah Af-Pak (Afghanistan  dan  Pakistan) serta berbagai cabang organisasinya untuk beradaptasi dan bermigrasi ke luar.

Ini memberikan potret kaya akan perawakan Al-Qaeda saat ini dan sifat ancaman yang ditimbulkannya kelompok tersebut terhadap  kepentingan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, baik di Timur Tengah maupun dalam skala yang lebih luas.

Selain diskusi panel mengenai topik-topik di atas ini, lokakarya tersebut menampilkan sambutan pembuka dan penutup oleh pejabat federal AS dari Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional (NCC) dan Biro Investigasi Federal (FBI). Pengantar, yang merupakan latar belakang konten dan ringkasan dari setiap kesimpulan lokakarya, diikuti oleh pernyataan mendalam yang penting untuk dicatat (misalnya, transkrip yang diedit).

Karena beberapa presenter yang berpartisipasi memahami bahwa pernyataan mereka tidak akan dipublikasikan, beberapa topik yang dibahas dalam pendahuluan tidak dimasukkan ke dalam kompilasi materi presentasi dalam lokakarya tersebut.

(BACA JUGA: Amerika, Sejak Beridiri 94% Waktunya Digunakan Untuk PErang)

Pada bagian awal Policy Focus tersebut, editor laporan mengutip sambutan Nicholas Rasmussen, Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCC) dalam lokakarya tersebut:

“Al-Qaeda dan organisasi afiliasinya tidak pernah berhenti menjadi perhatian utama terorisme bagi saya, bagi komunitas intelijen AS, dan untuk komunitas kontraterorisme yang lebih luas. Tidak satu hari pun berlalu di seluruh masa kerja saya di NCTC di mana penekanan kita pada Al-Qaeda telah menjadi sesuatu yang kurang dari prioritas utama. Itulah keindahan bekerja pada isu-isu terorisme. Anda mendapatkan hak istimewa untuk memiliki banyak prioritas utama.”

Sejak Juni 2014, Al-Qaeda sedikit jauh dari perhatian analisis pakar pemerintah dan pakar independen, yang mana mereka lebih berfokus kepada IS (alias ISIS, ISIL, atau Daisy). Sebenarnya, mereka tidak benar-benar melupakan Al-Qaeda. Hanya saja, penilaian konvensional setelah wafatnya Usamah bin Ladin pada Mei 2011 adalah bahwa nasib kelompok tersebut terkatung-katung, atau intinya melemah.

Persepsi ini, sebagian besar didasarkan pada pandangan yang muncul terhadap kelompok tersebut sebelum Arab Spring. Melihat latar belakang pemerintahan Trump yang relatif baru, pihak Washington Institute menganggap bahwa inilah saatnya untuk memeriksa kembali status Al-Qaeda sebagai organisasi, jaringan, maupun gagasan.

Pernyataan Pemimpin Al-Qaeda Dr. Aiman Azh-Zhawahiri belum lama ini sepertinya membangunkan mereka. Di dalam seri ke-5 Risalah untuk Umat yang Dimenangkan, ia menyatakan:

“Kita beradaptasi dengan kenyataan praktis di manapun berada. Selama kita mematuhi perintah Syariat dan menahan diri dari larangannya … Kita mengundang umat mujahid kita untuk berjihad melawan berhala palsu zaman modern Amerika dan sekutunya sebagai prioritas utama mereka sejauh mungkin yang mereka bisa untuk dilakukan. (Upaya semacam itu akan) memperhitungkan keadaan masing-masing arena jihad dan maslahat apa yang bisa diraih.”

 

Tautan asli laporan: http://www.washingtoninstitute.org/uploads/Documents/pubs/PolicyFocus153-Zelin.pdf

Tags:,