Memutus Urat Nadi Tirani

Ada ungkapan dalam mempertahankan sebuah tanah air, seseorang harus menyimpan 10 peluru dalam senapannya; satu buah untuk musuhnya dan sembilan buah untuk para pengkhianat.

Tahun demi tahun, dunia muslim berada di tepi jurang, maksud dari kata-kata ini semakin terlihat jelas dan nyata. Sejak zaman penjajahan kita bersemangat untuk mengusir orang asing dan meraih kemerdekaan / kebebasan. Bahkan hari ini, tubuh dunia islam telah terpecah belah, kita begitu bersemangat dengan satu pikiran untuk mengusir orang asing akan tetapi kita telah mengabaikan ancaman dari dalam.

Setelah mengalami penjajahan, kekalahan dan dipermalukan, tanah-tanah islam tidak menjadi lebih dekat dengan kebebasan dan kedaulatan. Di daerah perbatasan, banyak populasi muslim di usir, di bantai atau dipaksa untuk mengikuti budaya para penjajah.

Pada intinya, kejadian tersebut mengakibatkan tiang pilar peradaban islam membusuk dan hilang.
Kelompok syiah Iran melanjutkan rencana perluasan hegemoni di daerah-daerah yang masuk dalam Bulan Sabit Subur (The Fertile Crescent). Mesir, negara arab dengan populasi terbanyak, lebih mirip dengan gerombolan tak terkendali tanpa kepala yang berkuasa, yang siap menimbulkan malapetaka dan bencana tertentu.

Libya, Iraq, Suriah, Libanon dan Yaman terpecah-belah disebabkan oleh perang dan milisi-milisi. Apakah yang membawa kita pada keadaan yang seperti ini?

Dalam lautan anarki ini terdapat dua negara yang stabil : Arab Saudi dan UEA ( Uni Emirat Arab). Bahrain tidak ada artinya selain hanya merupakan negara satelit dari kerajaan Saud, dan Oman lebih dekat dengan Iran daripada kelompok GCC (Gulf Cooperation Council) sebuah dewan kerjasama negara-negara teluk, sementara Qatar memiliki kebijakan luar negerinya sendiri.

Untuk tujuan dari penulisan artikel ini, ketika saya menyebutkan GCC maka yang dimaksud hanyalah Arab Saudi, UEA dan Bahrain. Hal ini dikarenakan, di tengah-tengah kondisi yang menyerupai chaos yang menimpa dunia Islam, negara-negara Arab telah bersatu untuk membentuk blockade – tidak untuk Israel, tidak juga untuk Iran – tetapi untuk Qatar.

Dalam mengenang 50 tahun kemenangan Israel pada tahun 1967, orang-orang Arab telah berhasil bersatu dalam menghadapi Arab yang lain.

Banyak tuntutan GCC terhadap Qatar untuk mengakhiri blockade yang mereka lakukan, antara lain : menghentikan dukungan kepada kelompok Houthi, menghentikan kerjasama mereka dengan Iran, mengusir perwakilan Hamas dan Ikhwanul Muslimin dari Doha, dan menutup stasiun berita Al Jazeera.

Dua klaim pertama tentu saja menggelikan, mengingat fakta bahwa UEA menangani 80 % perdagangan Teluk dengan Iran dan membantu mereka menghindari sanksi.

GCC telah memblokade Qatar dari darat, udara dan laut, seseorang dapat mengambil penerbangan dari Manama atau Abu Dhabi langsung ke Teheran, tapi tidak ke Doha. Situasinya tidak bisa lebih menggelikan jika bukan karena maksud tersembunyi dari tuntutan yang lainnya.

Dalam sebuah negara yang mengekspresikan pendapat yang melawan narasi rezim dapat menyebabkan seseorang mendekam ke penjara beberapa tahun atau bahkan hilang dan disiksa, sampai tidak pernah terlihat kembali.
Al Jazeera berdiri sebagai sebuah benteng analisa kritis dan paparan / ekspos yang tak tergoyahkan dari para tirani Arab. Sementara Sky News Arabia terus melanjutkan dukungannya secara diam-diam untuk rezim Assad, dan Al Arabiya memberikan dukungan penuh kepada rezim Sisi.

Al Jazeera telah menjadi suara di padang gurun Arab yang telah berdiri kokoh di sisi rakyat dan tuntutan mereka terhadap kebebasan. Al Jazeera telah menjadi duri di sisi setiap tiran Arab. Dan itu membuat tahta mereka sangat tidak nyaman.

GCC menuntut penutupan Al Jazeera tidak lebih dari sebuah usaha kurang ajar yang dilakukan GCC untuk memaksakan blockade informasi total di seluruh dunia Arab. Riyadh dan Abu Dhabi, yang kebijakannya dibuat oleh Muhammad bin Salman (MbS) dan Muhammad bin Zayd (MbZ), ingin menundukkan dunia muslim sepenuhnya, tubuh dan pikiran.

Tuntutan GCC kepada Qatar untuk mengusir pejabat Hamas dan menganggap mereka sebagai teroris sangat dekat kaitannya dengan peringatan 50 tahun kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari. Segera setelah tuntutan ini, Fatah, kelompok Nasionalis Sekuler yang menguasai Tepi Barat, mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi membayar untuk memasok listrik ke Gaza.

Plot tersebut menjadi jelas karena ada kolusi antara GCC dan Israel dengan UEA sebagai penengah untuk menumbangkan pergerakan orang-orang Palestina dengan tujuan untuk membangun aliansi dengan Israel untuk melawan Iran.

Memang, segera setelah blockade GCC terhadap Qatar, mantan Menteri luar negeri Israel untuk Amerika Michael Oren dalam tweetnya, “Sekarang orang-orang Arab berada dalam satu sisi dengan Israel untuk melawan terorisme yang didanai Qatar”.

Tentu saja, hubungan UEA-Israel tidak hanya mencakup penumbangan pergerakan orang-orang Palestina dan blockade melawan Qatar.

Dalam sebuah email yang berhasil diretas terungkap korespondensi rinci antara pejabat Emirat dan Israel, begitu juga skenario narasi yang menunjukkan keterlibatan Emirat dalam memberikan dukungan terhadap kudeta orang-orang Gulen pada tanggal 15 Juli 2016 dan mengungkap keprihatinan tentang “Pemerintahan Islam” di Turki.
Turki telah menjadi sekutu Qatar yang kuat, tidak hanya dalam kasus pengepungan ini namun juga memiliki ambisi kebijakan luar negeri yang sama dan berbagi semangat “Arab Spring (Musim Semi Arab)”.

Skandal itu tidak berakhir di sini. Seorang jenderal Saudi juga telah berkunjung ke lembaga think-tank FDD (Foundation for Defense of Demoracies) pada tahun 2016 dan telah menggariskan kebijakan luar negeri Saudi, antara lain : Normalisasi hubungan antara bangsa Arab dan Israel, kesatuan Tanduk Afrika di bawah Ethiopia, penciptaan Kurdistan Besar dan “penyebaran demokrasi” (sebuah lip servis kepada Israel).

Hal ini semakin memperjelas dan tanpa keraguan lagi bahwa setiap kali orang-orang muslim menderita di pinggiran, GCC ada di sana untuk memberdayakan para penyerang, apakah itu agresi Ethiopia melawan muslim Somalia di daerah Tanduk Afrika, berkolusi dengan Serbia untuk melawan jangkauan Muslim Turki di Balkan, Israel di Syam atau bahkan di India (kehadiran Muhammad bin Zayd pada Parade Hari Nasional India adalah sebuah tikaman yang jelas ke Pakistan yang telah memprediksi kekacauan yang akan terjadi di Yaman (dalam serangan koalisi Saudi terhadap kelompok Houtsi di Yaman) dan menolak untuk ikut serta di dalamnya).

Muhammad bin Salman dan Muhammad bin Zayd ingin melihat dunia Islam dalam kekerasan dan kekacauan. Mereka berhasil melakukannya di Mesir, Libya dan Yaman, dan sekarang ingin melakukannya di Turki dengan mendorong terorisme PKK (Partai Pekerja Kurdistan) dan memblokade Qatar untuk menghancurkan sisa-sisa kebebasan berpendapat, untuk menumbangkan perlawanan Palestina terhadap Israel dan akhirnya untuk menghancurkan musuh bebuyutan sejati GCC yaitu Ikhwanul Muslimin.

Dalam peristiwa Musim Semi Arab (Revolusi di Timur Tengah), Ikhwanul Muslimin merupakan perwakilan dari kekuatan revolusioner sementara Saudi dan UEA mewakili kekuatan kontrarevolusioner, penjaga rezim tua, karena dukungan mereka terhadap setiap dictator Arab manapun.

Ancaman Ikhwanul Muslimin disebabkan oleh seruan kepada massa, musuh utama kaum absolutis.
Orang mungkin bertanya, bagaimana bisa otokrasi seperti Qatar bisa menyebarkan kebebasan dan demokrasi di dunia Arab? Sebagian analisis barat terhadap politik dunia Arab keliru dan bodoh, dan analisis yang disponsori GCC di kawasan ini mengikuti narasi yang sama untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan Washington DC.

Mari kita perjelas, dukungan Qatar terhadap kelompok Islamis, kurang berkaitan dengan ideologi mereka daripada hubungannya dengan fakta bahwa di dunia Arab, seringkali kaum liberal dan sekuler berada di sisi dictator sementara kelompok demokratis cenderung memiliki latar belakang dalam politik Islam. Sebuah kotradiksi dalam telinga barat, namun tetap menjadi kenyataan di dunia Islam.

Ya, Qatar merupakan negara otokrasi. Tapi negara tersebut sangat kaya dengan populasi warga sebesar 300.000. Untuk menuntut system demokrasi Qatar juga merupakan kebodohan karena partai politik di wilayah itu akan segera mengakar di sepanjang garis keturunan, dan dengan mudah akan rentan terhadap kekuatan asing seperti Saudi dan UEA untuk merancang sebuah kudeta (kudeta adalah salah satu dari cara yang selalu dilakukan dalam perpolitikan Arab).

Hal ini memperjelas bahwa demi kepentingan terbaik umat Islam bagi Qatar untuk lebih memilih stabilitas demokrasi, asalkan dapat menggunakan alat seperti Al Jazeera untuk membantu kita dalam upaya kebebasan.
Kejatuhan Husni Mubarok dan pemilihan secara demokratis Muhammad Morsi di negara berpenduduk mayoritas Arab itu mengancam efek domino di seluruh wilayah. GCC telah bergulat dengan kekuatan Islam di dalam negeri selama beberapa decade, misalnya gerakan Al Ishlah di UEA, cabang Ikhwanul Muslimin yang telah menghadapi penindasan yang parah.

Sementara Turki dan Qatar bergegas mendukung demokrasi yang baru lahir ini, GCC membantu mendanai kontra revolusi yang dipimpin oleh kaum liberal, sekuler dan militer. Sebuah kudeta dipastikan, dan kediktatoran militer ditetapkan. Ikhwanul Muslimin dibongkar – diasingkan, dipenjara atau dibunuh. Morsi masih diadili dalam sebuah lelucon peradilan Mesir.

Lebih dari 1000 pendukung IM dibantai di Rabaa Square dengan peluru-peluru penembak jitu, buldoser dan api. GCC menarik nafas lega. Ketajaman politik mereka setara dengan anak umur 5 tahun dengan jet F-16nya, menyelamatkan kudeta Sisi dengan uang tunai.

Bahkan saat itu, dana tersebut tidak dapat mencegah pengunduran Sisi dari GCC dan sebuah dugaan penyelarasan dengan Iran pada tahun 2016, sebuah penghinaan yang lengkap untuk politik luar negeri GCC.

Seperti halnya di Lebanon dan Palestina, di mana GCC akan mengamuk dan menarik dana pembiayaan kapan saja apabila segala sesuatunya tidak berjalan sebagaimana yang mereka kehendaki, satu-satunya factor yang memastikan keberlangsungan hidup GCC adalah kemampuan mereka untuk menyuap.

Memang, Saudi terus mendanai tantara Lebanon, sebuah cangkang perwakilan Iran Hisbullah. Sementara itu, sunni tidak memberikan suara untuk perwakilan Hizbullah hanya Karena perwakilan sunni yang menerima dana GCC gagal memberikan layanan apapun, hanya mengantongi dana tersebut dan membiarkan orang-orang sunni dalam kemelaratan dan dikepung oleh kelompok-kelompok syiah militant yang dapat mengancam untuk menghabisi mereka setiap saat seperti yang mereka lakukan terhadap orang-orang Suriah di Homs.

Amukan ini adalah alasan utama mengapa Hamas pergi ke tangan-tangan Iran untuk pendanaan untuk melanjutkan perlawanan terhadap Israel setelah GCC meninggalkan Palestina. Saya berharap kebohongan dan kebodohan GCC, dan peran utamanya dalam membungkam masyarakat muslim di seluruh dunia sekarang jelas bagi semua orang.

Dari semua kejahatan yang telah dilakukan Saudi, perang di Yaman adalah puncaknya. Tujuh juta warga Yaman menghadapi kelaparan, ribuan orang telah kelaparan sampai meninggal dalam pengepungan, dan wabah kolera telah membunuh ratusan orang.

Keputusan Saudi untuk memasuki Yaman adalah sebuah demonstrasi kekuatan melawan upaya Iran untuk membuat Yaman sebagai salah satu proxy-nya di bawah kekuasaan kelompok Houthi, sebagaimana yang telah mereka coba di Bahrain, dan sebagaimana mereka berhasil melakukannya di Lebanon, Suriah dan Iraq.

Tindakan Saudi terlambat, dan ketika datang kedatangannya telah menjadi bencana yang lengkap. Bahkan pemerintahan Barat pun menimbang untuk melakukan embargo senjata terhadap Saudi dan saya percaya bahwa tidak bermoral bagi seorang umat Islam untuk tidak mendukung langkah seperti itu. Untuk memutus urat nadi tirani.

Pembaca mungkin mempertanyakan, atas semua kejahatan Saudi, apakah sekarang saatnya untuk beralih menghadapi mereka saat Iran melanjutkan kampanyenya? Apakah kita mengambil resiko untuk memisahkan blok Sunni? Saya berharap telah jelas bahwa gagasan tentang blok Sunni adalah suatu mitos, dan hambatan tentang gagasan ini yang tidak hanya untuk perdamaian dan kemakmuran di dunia Arab saja tetapi di dunia Islam secara menyeluruh adalah Saudi dan UEA.

Langkah pertama dalam perang bukanlah menghadapi musuh eksternal, melainkan untuk menghilangkan pengkhianat di dalam. Tidak ada perlawanan yang berarti dengan adanya pengkhianatan yang jelas.

Adalah GCC yang mendukung Lebanon dan hanya menyaksikan saja ketika Hizbullah mengambil alih kekuasaan. Di Palestina, adalah GCC yang mengabaikan perlawanan Palestina yang memaksa Hamas berpaling ke Iran. Tentunya hal ini adalah factor psikologi yang didalangi Iran.

Permasalahan Palestina adalah yang terpenting diantara seluruh ambisi negara-negara Islam. Hanya dengan ini, Iran telah memperdaya hampir seluruh orang sunni yang meragukan peran gonosida yang dimainkan Iran di Suriah. Suriah, negara lain yang dibiarkan oleh GCC untuk menumbangkan kelompok oposisi dan menyebabkan mereka saling membunuh alih-alih melawan rezim Assad. Sebagaimana yang dikatakan oleh Raja Saudi, “Orang-orang Suriah sendiri yang menyebabkan hal ini terjadi”. Sebuah frase yang sering digunakan Saudi-Salafi yang memfitnah kaum muslimin Karena “berani memberontak melawan penguasa”.

Saudi-Salafi adalah cabang moderat dari kekuasaan Saudi, yang menyatakan bahwa semua muslim yang tidak memiliki ketaatan kepada para tiran adalah Khawarij atau Ahli Bid’ah. GCC menginginkan melihat Turki yang sedang naik daun, yang berperan dalam membantu oposisi Arab terhadap tirani, menyerah pada kekacauan dan kudeta di tangan teroris PKK dan pengikut Gulen.

Orang-orang Islam akan mendapat keuntungan lebih banyak dari Saudi yang lebih banyak terungkap dari pada Iran. Hal ini akan menyebabkan salah satu dari dua reaksi dari GCC, apakah mereka akan menggandakan strategi mereka saat ini yang mana akan lebih mempercepat kehancuran mereka, atau GCC selaku jangkar bagi tirani Arab tidak lagi aman, pada saat itu orang-orang Islam akan kembali memperjuangkan kebebasan, dengan ketiadaan para pengkhianat yang mengancam pada jajaran kita.

Tanduk Afrika tidak akan melihat kembali persekongkolan Emirat dan Ethiopia dalam membagi dan menjajah orang-orang Somalia. Heftar, seorang neo-Gaddafi, akan kembali pulang ke Pennsylvania. Kekuasaan Sisi akan hancur tanpa dukungan keuangan GCC. Pakistan dan Turki bisa membangun kembali hubungan dengan saudara-saudara Arab mereka tanpa khawatir pengkhianatan dan tipu muslihat Emirat – Saudi.

Saya, pertama dan terutama, adalah seorang realis. Saya tidak menghibur dengan gagasan idealis bahwa GCC akan memperbaiki kesalahan mereka dan mulai membantu pembebasan dan kemakmuran untuk saudara-saudara muslim mereka.

Jika kehancuran GCC diperlukan untuk memulai perbaikan di daerah, maka harus dilakukan. Kita melakukan apa yang harus dilakukan. Saya tentu saja tidak ingin melihat hal seperti itu terjadi. Agar kejadian Suriah terjadi lagi di negara muslim lainnya adalah suatu tragedi.

Tapi Saudi membawa kesimpulan seperti itu pada dirinya sendiri. Saya hanya memprediksi kejadian yang akan datang, Karena semuanya telah jelas bagi semua orang kecuali bagi GCC sendiri.

Memotong urat nadi tirani tidak akan menyelesaikan semua masalah kita, dan hanya memberikan setengah dari kemenangan yang kita butuhkan. Hal ini akan memakan waktu beberapa generasi untuk memperbaiki masalah structural yang kita hadapi untuk memecahkan masalah yang mengganggu dunia Islam. Meskipun demikian, saat status quo berlanjut, setengah kemenangan lebih baik daripada tidak ada kemenangan sama sekali.

 

sumber: https://dimashqee.com