Buku “Anak-anak Dalam Asuhan Jihad” di Mata Abu Qatadah Al-Filisthini

Judul               : Athfal fi Mahadhin al-Jihad

Penulis             : Ummu Imarah al-Muhajirah

Penerbit           : Baitul Maqdis

Hal                  : 131

Akses Buku      : https://azelin.files.wordpress.com/2017/07/umm-imacc84rah-al-muhacc84jirah-22children-in-the-incubators-of-jihad22.pdf

 

Secara harfiah, buku tersebut berarti ‘Anak-Anak dalam Asuhan Jihad’. Ditulis oleh seorang perempuan dengan kuniyah Ummu Imarah al-Muhajirah. Di kalangan jihadi, Al-Muhajirah biasa digunakan oleh perempuan Muslim yang ikut berpindah bersama suami dan atau anak-anaknya dari negaranya menuju tempat—yang menurut mereka berlangsung ibadah—jihad.

Dari judul buku tersebut, barangkali ada di antara pembaca yang tidak berada dalam dunia jihad beranggapan bahwa buku tersebut tidak berkaitan langusng dengan kehidupan mereka.

Penulisnya  menjelaskan bahwa  meski seseorang tidak terlibat langsung dalam dunia hijrah dan jihad, namun ia tetap beribath (berjaga) di rumahnya (dengan menjaga keluarganya dengan pendidikan dan pengajaran yang benar dan tepat). Ini karena pertempuran antara haq dan batil telah hampir terjadi di setiap sendi kehidupan. Karena para ghuraba’ (orang terasing yang memperjuangkan Islam) akan memiliki harapan dan duka yang sama, meski lini dan sifat pertempuran mereka berbeda, serta tempat tinggal mereka saling berjauhan (hlm. 12).

Sesuai judulnya, tujuan utama buku tersebut yaitu menjelaskan bagaimana seharusnya anak-anak (baik laki-laki maupun perempuan) yang lahir dan atau tumbuh di medan jihad dididik dan diajari agar spirit pembelaan dan memperjuangkan Islam—yang salah satunya dengan jihad—tumbuh mekar dan menjadi karakter mereka. Selain juga menjelaskan peran penting seorang ibu dalam usaha itu.

Buku tersebut tidak ditulis berdasarkan bab per bab, namun disusun hanya dengan judul-judul, yang secara keseluruhan membentuk satu kesatuan buku yang utuh. Adapun jika dikelompokkan, kandungan isi buku tersebut yaitu:

(1) Kata pengantar;

(2) Kehidupan dunia hijrah dan jihad: kehidupan seorang ibu,  kehidupan seorang ayah, dan kehidupan keluarga dan lingkungan sosial;

(3) Fase pengasuhan, pendidikan dan pengajaran: pengasuhan awal dan pendidikan pra-sekolah, pendidikan dan pengajaran tingkat dasar, pendidikan dan pengajaran tingkat menengah, dan pendidikan dan pengajaran tingkat atas;

(4) Seni mendidik: usia baligh dan cara berinteraksi dengannya, kondisi-kondisi psikologi yang harus dipahami, keistimewaan kehidupan dalam dunia hijrah dan jihad, dibutuhkan seorang ibu yang kreatif, dan kesalahan-kesalahan mendidik yang harus dihindari;

(5) Membentuk kepribadian Muslim-Jihadi: bagi anak laki-laki, dan bagi anak perempuan;

(6) Kisah-kisah inspiratif dan model/standar keberhasilan: kisah-kisah inspiratif sebagai pelajaran, model/standar keberhasilan,

(7) Penutup: Wasiat-wasiat terakhir.

Syaikh Umar Mahmud, atau yang lebih dikenal di kalangan jihadi dengan Syaikh Abu Qatadah al-Filishthini, diminta untuk memberikan kata pengantar untuk buku tersebut. Al-Filishthini merupakan salah seorang ideolog senior—selain Al-Maqdisi—di kalangan jihadi. Dalam pengantarnya, al-Filishthini menegaskan bahwa di balik layar dunia jihad terdapat pilar-pilar contoh para perempuan yang agung. Ia menyebut para perempuan tersebut dengan ‘jenderal tersumbunyi’, yang juga berhak untuk diberikan apresiasi atas berbagai kemenangan.

Dalam pandangannya, jasa para perempuan dalam menjaga dan menyiapkan generasi jihadi tidak kalah penting dari jasa para jihadi dalam menjaga mercusuar Islam dan jihad. Al-Filishthini mengakui bahwa dalam perjalanan jihad, peran dan kedudukan perempuan sangatlah besar dan penting. Musuh sangat paham akan ‘medan pertempuran’ lain ini. Oleh itu mereka pun berusaha keras, mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menghancurkan para ‘jenderal tersembunyi’ tersebut (hlm. 4-6).

Buku tersebut, menurut al-Filishthini, akan membuka mata kita pada dua ‘penglima’ besar, yaitu: perempuan dan waktu. Perempuan merupakan bahan bakar terbesar pertempuran umat Islam yang melahirkan dan mendidik generasi penerusnya. Sementara waktu mengajarkan bahwa mereka yang hidup (besar dan terdidik dengan benar) dalam kondisi dan dunia jihad akan lebih mampu bersikap bijaksana dan lebih mengetahui rahasia kehidupan dibanding yang tidak hidup dalam kondisi dan dunia seperti itu.

Selain itu, buku tersebut juga berhasil mengisi beberapa kekosongan yang dibutuhkan kalangan jihadi, dan juga mengingatkan dengan penuh hikmah dan kerendahan hati pada sisi-sisi terlupakan dari kehidupan yang umumnya dipenuhi berita-berita dan hiruk-pikuk pertempuran, yaitu kehidupan perempuan.