Bagaimana Cara Menghentikan Kecanduan Perangnya Amerika dan Saudi di Yaman?

Saat rapat Senat Komite Hubungan Luar Negeri AS pada tanggal 18 Juli 2017 berlangsung, Senator partai Republik, Todd Young, mengatakan bahwa jika perang di Yaman diteruskan tanpa henti maka hal itu hanya akan menambah malapetaka. Krisis Yaman hanya akan menambah malapetaka yang sudah menimpa Sudan Selatan, Nigeria dan Somalia dimana 20 juta orang meninggal dunia akibat konflik dan kelaparan. 

Yaman dibombardir dan diblokade dengan menggunakan senjata dan peralatan tempur yang dipasok AS. Saudi, sebagai perpanjangan tangan senjata AS telah menyebabkan Yaman jatuh dalam kerusakan dan kelaparan serta wabah kolera. Wabah kolera di Yaman sangat mengerikan dimana seorang anak meninggal setiap sepuluh menit, padahal penyakit tersebut sangat mudah dicegah (seandainya Saudi dan Amerika mau).

Pada persidangan, Young mengangkat kasus hancurnya gudang-gudang Program Pangan Dunia pada 2015. Dia meminta David Beasley, Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia, untuk memberi tau siapa yang bertanggung jawab atas serangan udara ke gudang tersebut. Beasley menjawab bahwa koalisi pimpinan Saudi yang memblokade Yaman telah menghancurkan gudang tersebut, bersamaan dengan persediaan bantuan yang terkandung di dalamnya.

(BACA JUGA: Laporan PBB: Amerika dan Saudi Penyebab Wabah Kolera di Yaman)

Laporan Human Rights Watch pada bulan Juli 2016 mendokumentasikan 13 bangunan ekonomi sipil yang dihancurkan oleh pemboman koalisi Saudi antara bulan Maret 2015 dan Februari 2016, termasuk Pabrik, gudang komersial, peternakan, dan dua pembangkit listrik. Serangan tersebut menewaskan 130 warga sipil dan melukai 171 lainnya. 

Sasaran jet-jet tempur Saudi adalah tempat-tempat produksi, penyimpanan dan pendistribusian makanan, obat-obatan, dan listrik untuk sipil yang bahkan sebelum perang pun sudah tidak mencukupi di Yaman. Yaman merupakan salah satu negara termiskin di Timur Tengah. Total, jumlah tenaga kerja yang menganggur akibat serangan tersebut adalah lebih dari 2.500 orang; Setelah serangan tersebut, banyak pabrik menghentikan produksi mereka dan ratusan pekerja kehilangan nyawa mereka. 

Ketika ditanya tentang penghancuran kapal derek yang dilakukan oleh Saudi dan koalisinya, maka Beasley menegaskan bahwa hal itu menghambat penyaluran bantuan dan obat-obatan ke warga. Empat buah crane pelabuhan yang dihancurkan tersebut sangat membantu pendistribusian barang.

Young membaca surat Program Pangan Dunia (WFP) pada 27 Juni yang ditujukan ke pemerintah Saudi. Namun dari permintaan dalam surat tersebut, hanya beberapa permintaan terakhir yang diizinkan WFP menyerahkan crane pengganti. Direktur WFP mengatakan bahwa Saudi tidak memberikan jawaban. Young kemudian mencatat bahwa, dalam tiga minggu sejak surat terakhir ini dikirim, lebih dari 3.000 anak-anak Yaman meninggal karena kelaparan.

(BACA JUGA: Dampak Perang Satu Anak Terinfeksi Kolera Tiap 35 Detik di Yaman)

Medea Benjamin dari kampanye anti-perang, Code Pink, yang berada dalam sidang, mengucapkan terima kasih kepada Young karena telah mengkritik keras pemerintah Saudi. Saudi memberlakukan pengepungan, ditambah serangan udara dan mencegah pengiriman makanan dan obat-obatan ke warga sipil Yaman.

Satu hari kemudian, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) melaporkan serangan udara koalisi pada 19 Juli di Yaman, menewaskan 20 warga sipil – termasuk wanita dan anak-anak – saat mereka melarikan diri dari kekerasan di provinsi asal mereka. Laporan tersebut mengklaim bahwa lebih dari dua juta pengungsi internal Yaman telah “melarikan diri ke tempat lain di seluruh Yaman sejak awal konflik, namun … terus terkena bahaya karena konflik tersebut telah mempengaruhi semua gubernur daratan Yaman.”

Pada tanggal 14 Juli, Dewan Perwakilan Rakyat AS telah melewati dua amandemen Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (NDAA) yang berpotensi mengakhiri partisipasi AS dalam perang di Yaman.

Sejak Oktober 2016, AS telah melipatgandakan jumlah manuver pengisian bahan bakar jet Arab Saudi dan Emirat Arab. Jet Saudi dan UEA terbang di atas Yaman, menjatuhkan bom sampai mereka perlu mengisi bahan bakar, dan kemudian terbang kembali ke wilayah udara Saudi di mana jet AS melakukan operasi pengisian bahan bakar udara. Selanjutnya, mereka kembali ke Yaman dan melanjutkan pemboman tersebut.

Bagaimana cara menghentikan kecanduan perang ini? 

Pada musim panas tahun 2006, saya bergabung dengan juru kampanye perdamaian Claudia Lefko di sebuah sekolah kecil di Amman, Yordania. Sekolah tersebut melayani anak-anak yang keluarganya adalah pengungsi dari kekacauan pasca perang di Irak.

Banyak anak selamat dari perang, ancaman pembunuhan dan pemindahan. Lefko telah bekerja dengan anak-anak di kampung halamannya di Northampton, Massachusetts, untuk mempersiapkan hadiah bagi orang Irak di sekolah tersebut. Hadiah tersebut terdiri dari origami kertas, dilipat untuk mengenang seorang anak Jepang bernama Sadako yang meninggal karena penyakit radiasi setelah pemboman kota kelahirannya di Hiroshima pada tahun 1945.

Di tempat tidur rumah sakitnya (begitulah ceritanya), Sadako menghabiskan waktunya dengan mencoba melipat 1.000 kertas, sebuah prestasi yang dia harapkan akan memberinya harapan khusus bahwa tidak ada anak lain yang akan mengalami nasib yang sama seperti mereka yang terbunuh dan terluka di Hiroshima.

Dia menyerah terlalu cepat untuk menyelesaikan tugasnya sendiri, tapi anak-anak Jepang lainnya yang mendengarnya melipatnya ribuan lagi. Cerita ini telah diceritakan kembali selama bertahun-tahun di tempat-tempat yang tak terhitung banyaknya, membuat kreasi kertas yang halus menjadi simbol perdamaian di seluruh dunia.

Penulis Turki Nazim Hikmet menulis sebuah puisi tentang Sadako yang sejak saat itu ditetapkan untuk musik. Kata-katanya ada di pikiran saya saat ini karena saya memikirkan semua anak-anak yang kekurangan gizi dari empat negara yang mengerikan (Yaman, Sudan Selatan, Nigeria, dan Somalia), dan dari negara-negara yang dilanda konflik lainnya, seperti di Irak dan Afghanistan.

Saya memikirkan bulan dan tahun kelaparan mereka. Cerita mereka mungkin sudah berakhir pada paruh pertama tahun 2017. Hikmet menulis:

“Saya tidak butuh buah, saya tidak butuh beras

Aku tidak butuh permen atau bahkan roti

Saya tidak meminta apapun untuk diri saya sendiri

Karena aku sudah mati… karena aku sudah mati….”

Lagu “Anak Hiroshima” membayangkan seorang anak yang datang dan “berdiri di setiap pintu … tidak pernah terdengar dan tak terlihat.” Kenyataannya, kita, orang yang hidup, dapat memilih untuk mendekati pintu perwakilan terpilih dan tetangga kita, atau kita dapat Tinggal di rumah Kita bisa memilih untuk tidak didengar dan dilihat.

Robert Naiman di Just Foreign Policy menunjukkan bahwa banyak orang tidak tahu mengenai Dewan Perwakilan Rakyat yang melarang partisipasi AS dalam perang yang dipimpin oleh Saudi di Yaman. Jadi, kita harus mempublikasikan pemungutan suara di media sosial, agar keterlibatan AS dalam perang di Yaman berakhir dan suara ini didengar di dewan.

(BACA JUGA: PBB Sebut Yaman Krisis Kemanusiaan Terbesar di Dunia)

Saya menyadari bahwa kekuasaan legislatif di negara yang kecanduan perang amat sangat terbatas. Tetapi mengingat bencana yang akan datang -yang mungkin akan diingat bahwa tahun 2017 sebagai tahun kelaparan terburuk dalam sejarah pasca-Perang Dunia II – kita tidak melewatkan setiap peluang yang kita punya. Saya juga secara pribadi menentang semua alokasi pertahanan dan menolak semua pembayaran pajak penghasilan federal sejak tahun 1980.

Miliaran, mungkin triliunan dolar akan dikeluarkan untuk mengirim senjata, sistem senjata, jet tempur, amunisi, dan dukungan militer ke Timur Tengah dan Tanduk Afrika. Mendorong perlombaan senjata baru dan meningkatkan keuntungan pembuat senjata AS.

Kita harus memilih untuk berdiri di pintu para pemimpin kita dan orang lain yang mungkin memiliki pengaruh atas situasi ini. Menghargai kehidupan, apalagi terhadap sipil yang tidak berdosa. Upaya ini harus dilipatgandakan usahanya meski para pengambil kebijakan perang tersebut masih leluasa bermain. 

Kami menolak tragedi seperti saat bom atom Hiroshima dan Nagasaki terulang di empat negeri yang kelaparan. Dalam sajaknya, Sadako, sembari dia melipat lebih banyak kertas di tempat tidurnya, tidak meminta kami untuk menghapus deritanya sendiri yang mengerikan. Dia hanya ingin ada perubahan, apa pun yang kami bisa… 

“Yang saya butuhkan hanyalah untuk perdamaian

Anda bertarung hari ini Anda bertarung hari ini (untuk mengehentikan perang dan penindasan)

Sehingga anak-anak dunia ini

Bisa hidup dan tumbuh dan tertawa dan bermain…”

 

sumber: www.stopwar.com