Truman, Bom Atom dan Serangan 11-September

Sepekan yang lalu merupakan hari peringatan 72 tahun pemboman atom Amerika oleh Presiden Harry Truman di Hiroshima, Jepang. Tiga hari kemudian, bom atom kedua menghajar Nagasaki pada tahun 1945. Sekitar 90.000-166.000 orang tewas di Hiroshima. Pengeboman Nagasaki menewaskan 39.000-80.000 manusia. 

Perlu dicatat bahwa militer AS mengebom Tokyo pada 14 Agustus setelah menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dan setelah Kaisar Hirohito menyatakan kesiapannya untuk menyerah.

Tidak banyak yang bisa dikatakan tentang kekejaman yang tak terkatakan terhadap warga sipil. Kekejaman yang belum pernah dikatakan dan terjadi sebelumnya.

(BACA JUGA: Pertanyaan Untuk Trump, Kapan Amerika Pernah Hebat?)

Pemerintah AS sebenarnya tidak pernah membutuhkan bom atom untuk melakukan pembunuhan massal, namun tetap menjatuhkannya (jangan menanyakan moralitas jika Amerika melakukannya!). Senjata konvensional Amerika sejatinya sudah cukup kuat.

Juga tidak memerlukan bom Atom untuk meyakinkan Jepang agar menyerah; Pemerintah Jepang telah mengajukan perdamaian.

Mario Rizzo mengungkapkan bahwa orang Amerika geram dengan terbunuhnya 3.000 orang pada serangan 9/11 namun tampaknya tidak terganggu bahwa pemerintah mereka membunuh puluhan kali lebih banyak warga sipil Jepang dalam dua hari. 

Banyak lagi yang meninggal sebagai konsekuensi dari pemboman tersebut. Ironisnya, keputusan itu diambil oleh salah satu kritikus pembunuhan massal, Truman! Padahal pemimpin militer utama waktu itu menentang penggunaan bom atom.

Seperti yang Harry Truman katakan, “Saya tidak memberi mereka neraka. Saya hanya menjatuhkan bom-A di kota mereka dan mereka pikir itu neraka.”(Truman tidak merasa bersalah saat membunuh puluhan ribu warga sipil tak berdosa, mungkin juga Anda!)

(BACA JUGA: Amerika, Sejak Berdirinya 94% Waktunya Digunakan Untuk Perang)

Beberapa orang masih melihat bom-A sebagai satu-satunya alternatif invasi yang akan menelan banyak korban jiwa lebih banyak. Sekarang terlihat ada kesalahan pilihan. Bukankah militer AS bisa menghentikan perangnya dan pulang dalam satu hari? Mengapa asumsi bahwa negara harus menghancurkan dan menaklukkan “musuh” nya? Jika dalihnya adalah serangan Pearl Harbor, bukankah itu merupakan hasil provokasi yang sistematis dan disengaja – seperti yang Herbert Hoover dan yang lainnya tunjukkan pada saat itu? 

Akhirnya, mengutip Rad Geek People’s Daily, “Sejauh yang saya tahu, pemboman atom di pusat kota Hiroshima, yang dengan sengaja menargetkan sebuah pusat sipil dan membunuh lebih dari separuh orang yang tinggal di kota tersebut, tetap merupakan tindakan terorisme paling mematikan dalam sejarah dunia.”

Sheldon Richman adalah editor eksekutif The Libertarian Institute , rekan senior dan ketua wali dari Center for Stateless Society , dan editor penyumbang Antiwar.com .

Sumber: http://original.antiwar.com