Membabi Buta, Serangan Pasukan Irak Sebabkan 40,000 Warga Sipil Tewas

Lebih dari 40.000 warga sipil tewas di tengah kerasnya perang melawan Negara Islam di Mosul menurut laporan intelijen yang diungkap secara eksklusif kepada The Independent. Jumlah korban tewas jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Warga kota yang terkepung tewas oleh pasukan darat Irak yang berusaha untuk mengusir pasukan IS, selain serangan udara dan juga peluru IS, menurut dinas intelijen Kurdi.

Hoshyar Zebari, menteri senior di Baghdad, mengatakan kepada The Independent bahwa banyak mayat masih terkubur di bawah reruntuhan. “Tingkat penderitaan manusia sangat besar,” katanya.

“Intelijen Kurdi meyakini bahwa lebih dari 40.000 warga sipil terbunuh sebagai akibat pemboman dan senjata berat yang digunakan dalam pertepuran terutama oleh pasukan Irak, serangan udara dan ISIS itu sendiri,” tambah Zebari.

Zebari, penduduk asli Mosul dan pejabat tinggi Kurdi yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan Irak dan Menteri Luar Negeri, menekankan dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa pemboman artileri yang tak henti-hentinya oleh unit-unit Polisi Federal, dalam praktiknya sebuah unit militer bersenjata berat , Telah menyebabkan kehancuran dan hilangnya nyawa di Mosul Barat.

Angka yang diberikan oleh Zebari karena jumlah warga sipil yang terbunuh dalam pengepungan sembilan bulan jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya, namun dinas intelijen Pemerintah Daerah Kurdistan memiliki reputasi yang sangat akurat dan mendapat informasi.

Pemantau luar sebagian besar mengatakan bahwa serangan udara memiliki andil besar terhadap jatuhnya korban sipil daripada tembakan artileri dan roket. Airwars, salah satu kelompok pemantau memperkirakan bahwa serangan tersebut mungkin telah membunuh 5.805 personel non-militer antara 19 Februari hingga 19 Juni 2017.

Zebari menuduh pemerintah Baghdad, tidak berbuat cukup untuk meringankan penderitaan.

Membaca dari laporan intelijen Kurdi, Zebari mengatakan bahwa tingkat korupsi yang tinggi di antara pasukan militer Irak yang menduduki Mosul memperlemah keamanan pasca melemahnya ISIS. Dia mengatakan bahwa personal yang ditarget dapat melewati pos pemeriksaan militer dengan membayar $ 1.000 (£ 770) dan dapat membawa kendaraan dengan membayar $ 1.500. Dia mengatakan bahwa korupsi jenis ini sangat banyak terjadi di Divisi Angkatan Darat ke-16 dan ke-9 Irak dan Sukarelawan Suku (Hasyd al-Ashairi), yang sebagian besar diambil dari minoritas Shabak di Dataran Niniwe.

Kemampuan militan ISIS untuk tetap bebas atau bebas dari penahanan dengan membayar uang telah menyebabkan perubahan sikap di antara orang-orang di Mosul. Zebari mengatakan bahwa perubahan itu terlihat dimana sebelumnya mereka bersedia memberikan informasi tentang anggota ISIS kepada pasukan keamanan Irak.

Mereka sekarang waspada karena melakukannya, karena mereka melihat anggota Isis, yang telah mereka identifikasi dan yang telah ditangkap, kembali ke jalan-jalan yang mampu menuntut balas dendam pada mereka yang memberi tahu mereka. Beberapa orang anti-Isis di Mosul telah mengkonfirmasi kepada The Independent bahwa memang ini terjadi dan mereka takut pada orang-orang yang kembali dan Isis “sel-sel tidur” yang terus ada.

Korupsi oleh pasukan militer memiliki modus berbeda, ungkap intelijen Kurdi yang dikutip oleh Zebari. Beberapa orang dikenai biaya $ 100 untuk mengeluarkan mayat dari puing-puing dan $ 500 untuk melindungi rumah mereka. Tentara Irak dan milisi lebih terkena lagi karena menuntut biaya dan uang perlindungan dari warga sipil. Truk-truk yang melewati pos penjagaan juga terkena “palak” oleh militer.

Serangan oleh pihak pemerintah Irak di Mosul yang menggunakan serangan udara dan artileri serta roket dengan daya ledak besar telah membuat warga Mosul menderita. Mosul benar-benar rusak. Laporan Amnesty International yang dikeluarkan minggu lalu berjudul At Any Cost: Bencana Sipil di Mosul Barat, menunjukkan penggunaan senjata berat dengan penggunaan membabi buta oleh pasukan pro-pemerintah pada tahap akhir serangan terhadap Mosul timur.

Serangan itu dimulai pada bulan Januari 2017 dan berlanjut selama enam bulan berikutnya saat penyerangan di Mosul barat. Dikatakan bahwa pemerintah Irak dan pasukan koalisi pimpinan-AS sangat bergantung pada senjata peledak dengan dampak luas seperti IRAM (Munir Pembantu Roket Improvisasi).

Dengan serangan mereka yang membabi buta, senjata ini menimbulkan malapetaka di Mosul barat yang padat penduduknya. Mayoritas penduduk sipil terjebak di rumah atau tempat penampungan darurat. PBB memperkirakan bahwa Mosul memiliki 1,2 juta penduduk pada awal pengepungan tersebut.

Selain bombardier udara, warga mosul juga terkena tembakan sniper ISIS saat akan melarikan diri keluar dari kota.

Zebari mengatakan bahwa dia kecewa dengan tidak adanya rencana pemerintah Irak untuk merekonstruksi Mosul. Sebagai Menteri Keuangan di Baghdad sampai akhir tahun lalu, dia telah menyiapkan dana sebesar $ 500 juta untuk pembangunan kembali Mosul. Dia mengatakan: “Saya ingin $ 500 juta dimuka untuk mendorong donor lain, tapi sekarang pemerintah telah menarik dana dan menggunakan uang itu di tempat lain. Ini bukan tanda yang menggembirakan. “

Bahkan jika ada rekonstruksi, Zebari mengatakan bahwa “rasa” kota Mosul telah berubah dan bangunannya yang ikonik telah hancur. Zebari mengungkapkan ada yang kurang di Mosul pasca hancurnya masjid Nabi Yunus (makam Yunus) dan masjid al-Nuri dengan menara miringnya sejak abad ke-12. Selain itu, ada tingkat penderitaan manusia yang tak terbayangkan dengan lebih dari satu juta orang mengungsi.

Dia setuju bahwa pemerintah telah memenangkan sebuah kemenangan besar dengan menghancurkan Negara Islam sebagai struktur negara yang menguasai wilayah yang luas. Namun dia memperingatkan bahwa ISIS mampuu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.

Dia mengatakan bahwa senjata dan alat berat dari tiga divisi tentara Irak yang ditangkap Isis saat merebut Mosul pada bulan Juni 2014 tidak pernah dipertanggungjawabkan sepenuhnya. Dia mendengar bahwa banyak laporan mengatakan sebagian besar senjata disembunyikan oleh ISIS di terowongan, ngarai dan lembah di padang pasir yang tandus di Irak barat dan timur Suriah. “Dari sinilah mereka datang saat mereka memulai serangan mereka,” katanya.

 

Sumber: www.counterpunch.org