Antara Nasionalisme dan Rasisme

Nasionalisme adalah ikatan sekelompok orang berdasarkan konsep identifikasi diri yang tak masuk akal. Misalnya, “Aku bangsa Barat, kamu bangsa Timur..”, “Kamu Perancis, kamu ‘bukan’… ” dst.

Nasionalisme bahkan lebih tak masuk akal dari rasis, karena rasisme didasarkan pada kategorisasi sub-spesies, sedangkan nasionalisme hanya didasarkan pada sebuah nama atau bahasa atau bahkan batas imajiner (yang tak tampak) dari sebuah negara.

Bagaimanapun, mereka yang membela nasionalisme sering berdalih bahwa ‘nasionalisme saya tidak seperti yang Anda gambarkan’, namun pada kenyataannya adalah – nasionalisme memisahkan seseorang dari orang lainnya menjadi satu kelompok egois yang suka membeda-bedakan.

Jika ada yang mengklaim bahwa tidak ada sifat egois dalam nasionalisme, maka seharusnya orang Perancis, Arab, Indonesia, Malaysia dll harus merasa sama kedudukannya dengan orang Suriah yang dilanda konflik, Somalia dan Yaman yang kelaparan atau Palestina yang terjajah. Jika memang begitu, mengapa kaum nasionalis menganggap bahwa masalah itu bukan bagian dari masalah mereka? Jika jawabannya adalah karena ‘mereka ada di negara lain, bukan negara saya’, maka itulah nasionalisme, dan itu berarti perhatian nasionalis hanya berkutat pada kelompok nasional mereka sendiri (meski orang lain itu jelas-jelas membutuhkan pertolongan) ….

(BACA JUGA: 69 tahun Nakba, saat negara Israel berdiri di atas ribuan mayat warga Palestina)

Inilah masalahnya, faham nasionalisme ini membatasi pikiran dan membuatnya hanya terfokus pada kebutuhan, kemauan atau keinginan beberapa orang saja. Pada saat bersamaan, ia mengabaikan kebutuhan, kemauan dan keinginan umat manusia lainnya.

Contoh konkritnya, saat orang-orang Afghanistan atau Iraq terlunta-lunta dan menderita dalam pengungsian karena bombardier pasukan Amerika yang menyebabkan saudara mereka meninggal atau rumah mereka hancur, di saat yang sama penduduk Amerika menikmati sedikit hasil “proyek” perang tersebut.

Gambaran konkrit nasionalisme lainnya bisa kita lihat dengan sikap negara-negara di perbatasan konflik; Irak, Palestina, dan Suriah. Mereka yang mengaku nasionalis membiarkan saudaranya terlunta-lunta tanpa kehidupan, menderita dan mati hanya dengan alasan bukan urusan negaranya.

 

Disadur dengan sedikit perubahan dari www.abdullahalandalusi.com