Perang Drone, Warisan Obama yang Digencarkan Trump

Menjelang akhir masa jabatannya, Obama telah memerintahkan sekitar 540 serangan drone. Sedikitnya 3.800 orang tewas selama delapan tahun masa tugasnya menurut angka resmi. Jumlah itu hampir pasti lebih rendah dibanding korban tewas sebenarnya. Pengamat independen mencatat jumlah yang lebih tinggi disbanding versi pemerintah.

Pengamat independen bahkan mencatat, jumlah korban tewas akibat drone di era Obama, 11 kali lebih banyak disbanding era Bush.

Program drone, tanda hitam di era Obama dan bukti kegagalan janji perubahan kebijakan luar negeri Amerika di tahun 2008. Dan nampaknya, Trump akan menjadi lebih garang lagi soal penggunaan drone disbanding di era Obama.

Seperti yang dilaporkan NBC News dalam sebuah laporan penting Senin (18/9), Trump bahkan menyimpulkan bahwa kesalahan program drone adalah terlalu terkendali dan terlalu bertanggung jawab kepada rakyat Amerika.

Pejabat anti-teror mengatakan kepada NBC bahwa pemerintah Trump sedang mencari cara memperluas kewenangan CIA dalam melakukan serangan drone di sejumlah negara, baik di dalam maupun di luar zona perang. Bahkan mereka berusaha menghapus peraturan pengaman untuk menjaga warga sipil tak berdosa tetap aman.

Obama tahu hal seperti ini bisa terjadi kembali di tahun 2012. Dihadapkan dengan kemungkinan nyata bahwa Mitt Romney bisa memenangkan pemilihan umum, pemerintahan Obama bekerja untuk membuat sebuah buku pedoman peraturan untuk perang tak berawak.

“Ada kekhawatiran bahwa tuas tidak lagi ada di tangan kita,” seorang pejabat Obama yang tidak disebutkan namanya secara terbuka mengatakan kepada The New York Times .

Tampaknya Obama mempercayai dirinya untuk melakukan serangan di luar hukum terhadap orang-orang tak berdosa, termasuk seorang bocah Amerika berusia 16 .

Pedoman perang drone itu akhirnya diimplementasikan pada tahun 2013, meski tidak dirilis ke publik selama tiga tahun.

Inilah dokumen yang sekarang dibidik Trump. Presiden Amerika sekarang tersebut ingin menghilangkan beberapa perlindungan bagi warga sipil.

Sebenarnya, buku peraturan perang drone Obama tersebut hanyalah akal-akalan era Obama untuk membenarkan apa yang sudah Obama lakukan terkait penggunaan Drone, ungkap salah seorang pejabat di era Obama saat buku pedoman tersebut diselesaikan.

Program Drone di era Obama tumbuh tidak terkontrol dan puncaknya terjadi di 2010, dimana penggunaan drone menjadi tidak manusiawi dan kontra-produktif. Meski begitu Obama tetap mengklaim bahwa program drone membuat perang “lebih tidak berdarah” dan lebih akurat dengan standar serangan jauh lebih tinggi saat digunakan ada waktu yang tepat.

Tetapi sebenarnya, yang jadi persoalan bukan pada isi buku peraturannya tapi pada metode implementasinya yang tidak datang dari kongres. Buku peraturan drone hanyalah kebijakan administratif. Ini tidak memiliki kekuatan hukum yang langgeng. Administrasi Trump tidak terikat olehnya sedikit pun.

Jika Trump ingin memperluas perang tanpa awak dengan impunitas, buku peraturan Obama tidak akan menghalangi jalannya. Inilah yang dikhawatirkan Obama di masa depan, “Anda berakhir dengan seorang presiden yang dapat melakukan perang terus-menerus di seluruh dunia. Dan mereka (penyerang) dapat bersembunyi, tanpa pertanggungjawaban atau debat demokratis.”

Tindakan pencegahan tersebut secara hukum lemah. Beda presiden beda pula peraturannya. Inilah kesalahan Obama yang terlalu percaya pada Trump untuk melanjutkan “Gagasan Drone-nya”.

Di era Trump, kita mungkin akan melihat buku pedoman perang drone Obama dibuang ke tempat sampah. Pedoman itu menjadi tumpul.

Penggunaan drone dengan skala yang lebih luas akan berdampak pada; lebih banyak anak-anak dan kakek-nenek yang meninggal dan lebih banyak ayah dan cucu yang menjadi radikal.

Yang berarti juga akan lebih banyak tragedi di wilayah yang sudah diliputi oleh teror dan akan lebih banyak pula ekspor teror ke pantai kita. Sejatinya kengerian ini bisa dihentikan sekarang, karena itu sebuah pilihan kebijakan, tergantung apa yang dipikirkan Trump sekarang.

 

sumber: www.rare.us