Serangan Udara AS Kembali Sasar Warga Sipil di Afghanistan

Taliban meluncurkan roket ke bandara Kabul pada hari Rabu (27/9), menargetkan pesawat yang ditumpangi Menteri Pertahanan AS James Mattis, jalan-jalan di daerah tersebut terlihat sepi karena penduduk berada di dalam rumah selama beberapa jam.

Menanggapi serangan tersebut, pesawat AS melancarkan serangan udara untuk mendukung pasukan keamanan Afghanistan yang melakukan operasi pencarian penyerang di dekat bandara internasional Hamid Karzai.

Media lokal mengutip polisi Afghanistan mengatakan bahwa serangan udara AS telah melukai setidaknya enam warga sipil.

“Tentara AS menjatuhkan bom di daerah perumahan Bagaimana mereka bisa mengatakan itu salah? Kami mengerti satu kali, dua kali, tapi tidak selamanya! Mereka membunuh kita, warga sipil, dan menyebutnya kesalahan sepanjang waktu.” kata penduduk Kabul, Mohammed Amin, 50, kepada Al Jazeera.

Ini bukan pertama kalinya serangan bom AS di Afghanistan telah mencapai sasaran yang salah. Serangan udara Amerika pada tahun 2015 menghancurkan  rumah sakit MSF di provinsi Kunduz utara, menewaskan lebih dari 40 orang.

Pada bulan Juli lalu, sebuah serangan udara AS menewaskan 16 polisi di kota Helmand. Itu terjadi sekitar lima bulan setelah serangan AS di distrik Sangin di provinsi Helmand membunuh setidaknya 18 warga sipil, kebanyakan wanita dan anak-anak.

Menurut sebuah laporan PBB di bulan Juli, jumlah warga sipil yang terbunuh dan terluka dalam kekerasan Afghanistan mencapai rekor tertinggi dalam enam bulan pertama tahun 2017, yang diperparah oleh angkatan udara Afghanistan yang melakukan serangan udara sendiri bersamaan dengan pasukan AS.

“Serangan udara yang dilakukan oleh angkatan udara internasional dan Afghanistan menyebabkan 590 korban sipil (tahun 2016), hampir dua kali lipat yang tercatat pada tahun 2015,” sebuah laporan PBB terpisah mengatakan, bahwa separoh lebih korban maerupakan perempuan dan anak-anak.

‘Mereka menargetkan rumah kita dan membunuh orang-orang kita’, ujar Haji Rabbani, korban serangan AS, termasuk empat anak, terluka dalam serangan udara AS pada hari Rabu, kantor berita AFP melaporkan.

Dua bom menyerang rumah Rabbani – beberapa ratus meter dari tempat para pejuang bersembunyi – menghancurkan sebuah ruangan di lantai atas, menghancurkan jendela dan menyisakan puing-puing terjatuh ke halaman.

Rabbani mengatakan bahwa dia tidak mengerti mengapa pasukan asing telah menargetkan keluarganya ketika dia tidak memiliki hubungan dengan pejuang Taliban yang menembakkan roket ke dekat bandara.

Sementara NATO telah mengakui kesalahannya, keluarga Rabbani menginginkan kompensasi, bukan simpati – dan minta agar serangan terhadap orang-orang sipil di Afghanistan dihentikan.

“Mereka tidak menargetkan musuh di depan mata mereka – mereka menargetkan rumah kami dan membunuh orang-orang kami,” kata Rabbani.

Korban serangan Amerika di Kunduz, Afghanistan, Nopember 2016 (reuters)

(BACA JUGA: Perang yang diakukan Barat telah membunuh Empat Juta Muslim sejak 1990)

Mattis bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada saat serangan Taliban, bersamaan dengan kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg. Pesawat Mattis selamat dari serangan tersebut.

Pada sebuah konferensi pers pada hari Rabu, Mattis dan Stoltenberg berjanji untuk terus mendukung Afghanistan dan berjanji untuk melakukan segala kemungkinan agar negara tersebut “tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi teroris internasional”.

Stoltenberg mengatakan bahwa NATO mengetahui “biaya untuk tinggal di Afghanistan, namun biaya untuk meninggalkannya akan lebih tinggi lagi”.

Dia menambahkan: “Jika pasukan NATO pergi terlalu cepat, ada risiko bahwa Afghanistan dapat kembali ke keadaan kacau dan sekali lagi menjadi tempat yang aman bagi terorisme internasional.”

Stoltenberg juga mengatakan bahwa NATO berkomitmen untuk mendanai pasukan keamanan Afghanistan sampai setidaknya 2020 dan akan terus memberi mereka hampir $ 1 miliar setiap tahunnya.

Namun, warga Kabul seperti Amin mengatakan bahwa mereka masih merasa terlindungi.

“Jika AS tidak bisa mengendalikan situasi mengapa mereka tidak meninggalkan kita sendiri?

“Hidup kita tidak penting bagi tentara AS,” katanya.

Bulan lalu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan menerima usulan Pentagon untuk menambah jumlah pasukan sebanyak 4.000 orang.

Saran tersebut muncul sesaat sebelum Pentagon mengungkapkan bahwa kekuatan pasukan AS di Afghanistan telah mencapai sekitar 11.000 tentara, melebihi jumlah resmi sebelumnya 8.400 pasukan AS.

 

Sumber: http://www.aljazeera.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *