Saat Media Sosial Mampu Menggerus Demokrasi Amerika

Buku yang berjudul #republic: Divided Democracy in The Age of Social Media secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “#republic: Demokrasi Terpecah di Era Media Sosial”. Buku yang ditulis oleh Cass R. Sunstein ini diterbitkan oleh Princeton University Press, New Jersey, AS  pada bulan Maret 2017.

Buku dengan ketebalan sebanyak 280 halaman ini mempunyai  ISBN 9780691175515 untuk versi cetak sampul tebal. Isi buku ini disusun menjadi 11 bab selain bagian Pengantar.

Buku ini juga dilengkapi dengan  Catatan kaki, dan Daftar Indeks.

Penulis buku ini, Cass R. Sunstein adalah seorang ilmuwan hukum Amerika, khususnya di bidang hukum konstitusional, hukum administrasi, hukum lingkungan, dan hukum dan perilaku ekonomi.

Ia menjadi administrator Kantor Urusan Informasi dan Pengaturan Gedung Putih di pemerintahan Obama. Selama 27 tahun, Sunstein mengajar di University of Chicago Law School, di mana dia terus mengajar sebagai Profesor Tamu Harry Kalven.

Sunstein saat ini adalah Profesor Hukum di Harvard Law School, di mana dia mengambil cuti saat bekerja di pemerintahan Obama.

Seiring berkembangnya internet yang semakin canggih, hal ini menciptakan ancaman baru terhadap demokrasi. Perusahaan media sosial seperti Facebook dapat menyortir para penggunanya secara lebih efisien lagi menjadi kelompok yang berpikiran sama, menciptakan ruang penggema yang memperkuat pandangan mereka.

Bukan suatu kebetulan bahwa pada beberapa kesempatan, orang-orang dengan pandangan politik yang berbeda menjadi tidak dapat saling memahami. Juga tidak mengherankan bahwa kelompok teroris telah mampu memanfaatkan media sosial untuk memberikan efek yang mematikan.

Dalam buku yang mengungkapkan ini, Cass Sunstein, penulis buku best-seller versi New York Times, Nudge and The World According to Star Wars, menunjukkan bagaimana internet saat ini mendorong fragmentasi politik, polarisasi, dan bahkan ekstremisme – dan apa yang dapat dilakukan mengenai hal itu.

Melalui tinjauan ulang hubungan kritis antara demokrasi dan internet dengan seksama, Sunstein menggambarkan bagaimana dunia online menciptakan “cybercascades”, mengeksploitasi “bias konfirmasi”, dan membantu “mempolarisasi para pengusaha”.

Dia menjelaskan mengapa fragmentasi secara online dapat membahayakan percakapan, pengalaman, dan pemahaman bersama yang merupakan sumber kehidupan bagi demokrasi.

Sebagai tanggapan, Sunstein mengusulkan perubahan praktis dan legal untuk menjadikan internet lebih ramah terhadap pertimbangan demokratis. Perubahan ini oleh penulisnya diharapkan akan membuat para pengusung demokrasi keluar dari kepompong informasi dengan meningkatkan frekuensi pertemuan yang tidak terduga dan tidak direncanakan, dan mengekspos mereka kepada orang-orang, tempat, benda, dan gagasan yang tidak akan pernah mereka pilih untuk diumpan pada Twitter mereka#Republic tidak perlu menjadi istilah ironis. Seperti yang ditunjukkan oleh pandangan Sunstein, ini bisa menjadi seruan terhadap jenis demokrasi yang dibutuhkan oleh kebanyakan masyarakat beradab.

Ulasan dan penilaian terhadap buku iniBerikut adalah ulasan dan penilaian terhadap buku ini yang diberikan oleh Benjamin Knoll seorang Associate Professor bidang Politik di Center College Kentucky  yang dimuat dalam situs nyjournalofbooks.com.

Buku karya Cass Sunstein yang terbaru, #Republic: Divided Democracy in The Age of Social Media, adalah gambaran umum tentang bagaimana media sosial telah mempengaruhi kesehatan dan vitalitas demokrasi Amerika kontemporer. 

Penilaiannya tidak positif. Seperti banyak pengamat dan ilmuwan, Sunstein menggabungkan penelitian ilmiah dan teori demokrasi untuk menyatakan bahwa semakin meluasnya media sosial sebagai sarana utama diskusi politik memungkinkan penciptaan ruang penggema yang berfungsi untuk mempolarisasi dan kemudian mengintensifkan pandangan politik warga Amerika.

Hal ini, pada gilirannya, melemahkan kualitas wacana demokratis dan menyulitkan kita untuk menemukan solusi bersama bagi masalah terbesar yang dihadapi masyarakat kita.

Meskipun pandangan penulis dalam buku ini bukan sebuah kesimpulan baru, nilai kontribusi Sunstein ada dalam rekomendasi preskriptifnya. Yang pertama adalah menemukan cara untuk mengenalkan lebih banyak “kebetulan” ke dalam interaksi sosial kita sehari-hari: kita dapat mengambil langkah untuk mengekspos diri kita pada informasi, perspektif, dan individu yang tidak kita sengaja mencarinya.

Menurut Sunstein, “pertemuan yang tidak terencana dan tidak terduga sangat penting bagi demokrasi itu sendiri. Pertemuan semacam itu sering melibatkan topik dan sudut pandang yang orang tidak sengaja mencarinya, dan bahkan merasa hal itu cukup menjengkelkan – namun itu mungkin dapat mengubah hidup mereka dengan cara yang mendasar.”

Sebagai contoh, Sunstein mengusulkan agar Facebook mengenalkan “serendipity button” yang akan mengenalkan konten ke dalam umpan berita pengguna, dari gerai jurnalistik acak. “Dengan serendipity button,” tulisnya, “pengguna Facebook dapat berpikir, saya di sini sebagian besar untuk belajar.

Apa yang bisa saya temukan?”Rekomendasi substantif Sunstein yang kedua adalah untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas pengalaman umum di masyarakat. “Tanpa pengalaman bersama, masyarakat yang heterogen akan memiliki waktu yang jauh lebih sulit dalam menangani masalah sosial. Orang-orang bahkan mungkin merasa sulit untuk saling memahami.”

Pengalaman bersama ini menghasilkan “lem sosial” yang membantu memfasilitasi rasa saling percaya dan meningkatkan kepercayaan diri dalam masyarakat, bahkan dalam menghadapi sudut pandang yang berbeda kuat.Sunstein berpendapat bahwa bentuk interaksi publik ini adalah komponen kebebasan yang penting karena “kebebasan yang dipahami dengan benar tidak hanya terdiri dari kepuasan atas preferensi apa pun yang dimiliki orang tetapi juga pada kesempatan untuk memiliki preferensi dan kepercayaan yang terbentuk. . . setelah terpapar dengan sejumlah informasi yang memadai serta pilihan yang tepat dan beragam.

“Sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan ini, dia berargumen untuk menciptakan forum diskusi publik online yang lebih kuat dimana masyarakat dapat belajar tentang topik sosial dan politik serta untuk merenungkan manfaat berbagai kebijakan pemerintah secara terbuka dan transparan dalam arena publik “Sementara banyak forum serupa sudah ada di platform media sosial online, mereka cenderung berfokus pada topik yang sempit dan menarik perhatian partisan yang hanya berpikiran sama.

Sebaliknya, Sunstein mengusulkan agar forum ini menumbuhkan konstituen yang lebih luas dan lebih beragam sebagai cara untuk memperkuat kebiasaan dan proses pengambilan keputusan demokratis bersama.Ada dua kritik khusus terhadap #Republic.

Yang pertama adalah  penulis menganggap sebagai premis bahwa “demokrasi deliberatif” adalah ungkapan ideal dari asosiasi demokratis dalam masyarakat Amerika. Sementara premis itu diterima begitu saja sepanjang buku ini, banyak ilmuwan dan filsuf politik telah memberikan sejumlah kritik kuat tentang mazhab pemikiran deliberatif, yang tidak diakui oleh penulis.Lebih jauh lagi, banyak ilmuwan politik berpendapat bahwa demokrasi deliberatif, walaupun mungkin secara normatif diinginkan sebagai cita-cita, namun tidak praktis karena adanya pengabaian yang luas konsep dasar politik.

Bahkan, Sunstein merasa bahwa demokrasi deliberatif patut diupayakan untuk dicoba sebagai sesuatu yang ideal, meski hasilnya sering tidak demikian.Kedua, penelitian ilmu politik oleh Diana Mutz mengenai demokrasi deliberatif telah menunjukkan bahwa jenis dialog deliberatif yang direkomendasikan oleh Sunstein sebenarnya dapat menekan partisipasi demokratis dalam konteks pemilihan.

Secara khusus, mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbicara dengan orang-orang yang tidak mereka setujui dan berdiskusi secara “cross-cutting” juga cenderung untuk tidak memilih, memberi sumbangan kepada kandidat, atau menjadi sukarelawan pada kampanye politik.

Sebagai penghargaannya, Sunstein mengakui hal ini. Penulis merendahkan pentingnya penelitian ini dan implikasinya terhadap tesis utama bukunya. Jika kesimpulan Mutz benar, dunia politik di mana usulan Sunstein sepenuhnya direalisasikan adalah dunia di mana orang mendapat informasi lebih baik dan lebih berempati dan memahami tetangga mereka, tetapi juga dunia di mana hanya sebagian kecil penduduk yang berpertisipasi untuk memilih pada Hari Pemilu dan terlibat dalam politik elektoral.

Apakah kita sebagai masyarakat senang dengan trade-off semacam itu? Pertanyaan-pertanyaan ini tetap belum diekspolarasi di #Republic.#Republic memberikan penilaian yang bagus tentang bagaimana psikologi, teknologi, dan politik sosial bertabrakan untuk menghasilkan wacana ekstrem dan terpolarisasi yang telah mendominasi lingkungan politik kontemporer kita. Isi buku yang diorganisir dengan baik dan mudah diakses membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk pembelajaran ilmu politik.

Isinya menjadi mudah bagi masyarakat yang ingin lebih memahami bagaimana teknologi mengubah cara kita berpikir dan berbicara tentang politik di dunia sekarang ini.Pada akhirnya, jika Anda tidak melakukan hal lain selain menghabiskan beberapa menit setiap hari dengan mempertimbangkan berita dan perspektif dari gerai yang biasanya membuat Anda gila sambil bertanya pada diri sendiri “Apa yang dapat saya pelajari dari ini?” Penulis menganggap bahwa sebuah kemenangan dan eksperimen demokratis kita akan menjadi lebih baik untuk itu.

 

Sumber: http://www.nyjournalofbooks.com