Gambaran Hidup di Bawah Naungan Khilafah Turki Utsmani

Judul Buku    

Living in the Utsmaniyah Realm: Empire and Identity, 13th to 20th Centuries

Penulis
Christine Isom-Verhaaren dan Kent F. Schull (eds.)

Penerbit
Bloomington dan Indianapolis: Indiana University Press

Tahun
2016

Halaman
367 halaman

ISBN
9780253019431

 

Buku ini merupakan hasil kolaborasi antara dua sejarawan yang menggeluti sejarah awal modern (Isom-Verhaaren) dan sejarah modern (Schull). Buku ini ditujukan terutama untuk para pelajar atau mahasiswa dengan dua tujuan utama penulisan: untuk melacak perkembangan dan transformasi identitas Turki Utsmani sejak era kebangkitan hingga keruntuhan Daulah Utsmaniyah.

Buku ini juga untuk memberi gambaran sekilas kehidupan sehari-hari pada era Turki Utsmani berdasarkan kehidupan dan cerita tentang sosok-sosok dan tempat-tempat tertentu sepanjang sejarah Utsmaniyah.

Buku ini memiliki 22 bagian (artikel yang ditulis oleh para penulis yang berbeda) yang ditempatkan dalam empat bagian sesuai urutan waktu.

Bagian pertama mencakup periode dari abad XIII sampai XV (“Kemunculan dan Perluasan: Dari Beylik di Perbatasan hingga Imperium Kosmopolitan”) yang terdiri dari enam artikel. Artikel pertama menganalisis identitas pada periode paling awal dengan contoh hadiah/pemberian makanan (gratis).

Esai berikutnya (kedua) berfokus pada tiga kronik yang menggambarkan pergeseran yang terus berlangsung soal tapal batas Utsmaniyah-Bizantium dan perpaduan identitas yang ada di sana. Yang ketiga menggambarkan keadaan dua keluarga asal Genoa yang tinggal di Pera pada era penaklukan Istanbul; bagaimana penyesuaian mereka terhadap keadaan baru.

Selanjutnya artikel (keempat) tentang Mahmud-pasha Angelovic yang menjadi bagian dari pemerintahan Utsmaniyah melalui proses devshirme, namun tetap memiliki hubungan dekat dengan lingkaran Kristen dari mana ia berasal. Adapun dua artikel terakhir dari bagian pertama, yaitu artikel (kelima) yang menganalisis karya sejarawan Neshri dan interpretasinya tentang identitas Utsmaniyah dan artikel (keenam) yang menggambarkan jalan pemimpin Sufi yang mencoba untuk menggabungkan diri ke dalam jajaran elite Utsmaniyah selama masa interregnum, yang berujung kegagalan setelah memilih pihak yang “salah”.

Bagian kedua mencakup periode dari abad XV sampai XVII (“Ekspansi dan Keindahan Budaya: Terbentuknya Imperium Sunni Islam” atau khilafah). Bagian ini dimulai dengan sebuah artikel yang membahas upaya serius pertama untuk merumuskan identitas (keagamaan) Utsmaniyah oleh pejabat keagamaan terkemuka, Ibn-i Kemal.

Dua artikel berikutnya berfokus pada Aintab dan Al-Quds (Yerusalem); bagaimana kedua wilayah tersebut mengalami “Ottomanisasi” setelah ditaklukkan, yaitu lewat pengenalan administrasi Utsmaniyah di Aintab dan melalui berbagai proyek pembangunan besar-besaran di Al-Quds.

Esai berikutnya menggambarkan jalan hidup seorang pedagang Turki yang berasal dari Anatolia, tetapi membangun karirnya di Aleppo. Artikel terakhir di bagian ini membahas tentang Mihrimah Sultan, putri berpengaruh Sultan Sulaiman Al-Qanuni, yang memberi pengaruh bagi identitas visual İstanbul serta bagaimana hubungannya dengan ayahnya.

Bagian ketiga bergulat dengan periode dari abad XVII sampai XVIII (“Pergolakan dan Transformasi: Dari Penaklukan ke Negara Administratif”). Artikel pertama menganalisis berbagai catatan dan komentar orang-orang belakangan tentang penunjukan dan perilaku para birokrat Daulah Utsmaniyah.

Dua artikel berikutnya terkait catatan pelarian seorang janda Kristen dengan tiga anak perempuannya yang Muslimah, yang memicu ketegangan hubungan Turki Utsmani-Venesia, serta kasus seorang tentara Prancis yang “membelot ke Turki” untuk menghindari hukuman dari Jerman.

Artikel-artikel selanjutnya meneliti identitas Kepala Kasim Harem, krisis sosial-gender yang berujung pembunuhan Valide Sultan (Ibu Suri), dan kasus pasangan yang dituduh melakukan perzinaan. Esai terakhir menggambarkan kasus Dragoman dari Siprus.

Akhirnya bagian keempat (terakhir) membahas apa yang berlangsung dari abad XIX sampai XX (“Modernitas, Politik Massa, dan Nasionalisme: Dari Imperium ke Negara-Bangsa”). Artikel pertama berfokus pada visibilitas penguasa dan upacara-upacara publik yang mempengaruhi pola pikir etno-nasional rakyat Daulah Utsmaniyah. Bagian berikutnya menyelidiki peran Utsmaniyah dalam sains (yang Eurosentris) dan mempertanyakan identitas Utsmaniyah sebagai konsekuensinya.

Makalah berikut membahas kasus Duta Besar Turki Utsmani—yang Kristen—untuk Amerika Serikat, yang memata-matai komunitas Armenia di sana karena mengetahui kemungkinan plot mereka untuk melawan Daulah Utsmaniyah. Dua makalah terakhir berupa studi kasus tentang warga Yunani di bawah Turki Utsmani, yang terbelah antara condong ke Khilafah Utsmaniyah atau negara Yunani, dan tentang orang-orang Yahudi yang menjadi warga Turki Utsmani dan zionis pada saat bersamaan.

Melalui eksplorasi terhadap berbagai studi kasus dari berbagai sosok dan tempat yang secara berangsur-angsur menyatu ke dalam Khilafah Utsmaniyah, kumpulan artikel yang beragam di dalam buku ini mencoba untuk menggambarkan bagaimana identitas Utsmaniyah selama ini dan bagaimana itu berubah dari satu periode ke periode berikutnya.

Ini adalah langkah berani karena para ilmuwan masih memperdebatkan tentang apa yang sebenarnya membentuk identitas Turki Utsmani.

Pertanyaan di atas tidak mudah dijawab, meski dalam konteks Turki Utsmani sebagai negara-bangsa (nation-state), apalagi sebagai khilafah dengan warga yang multietnis dan multiagama. Editor dalam catatannya berkomentar dan menyimpulkan bahwa identitas Utsmaniyah “tidak statis, tetapi dinamis, dan identitas Utsmaniyah berubah-ubah sesuai dengan keperluan individual, regional, budaya, politik, imperial, maupun kedaruratannya” (hlm. 15).

Jadi, buku ini sebenarnya tidak membawa sesuatu yang benar-benar baru, tetapi yang penting adalah pentingnya memahami sunnatullah (hukum alami) yang berlaku bukan hanya bagi Daulah Utsmaniyah, tetapi juga bagi negara manapun atau sistem politik apa pun di dunia.

Di samping itu, jika dibaca secara jujur, tampak bagaimana faktor Islam terus melekat dan begitu mendasari dinamika terbentuknya identitas Turki Utsmani dari masa ke masa.

Jadi, apa artinya menjadi bagian dari Khilafah Utsmaniyah? Pastinya, latar belakang historis dan konsolidasi Turki Utsmani memainkan peran di dalamnya; bagaimana pada periode awal Daulah Utsmaniyah kepekaan tentang identitas negara tidak begitu jelas, tetapi pada periode terakhir, Khilafah Utsmaniyah berjuang untuk menanamkan rasa kesetiaan kepada bawahannya.

Apakah ini berarti bahwa bersikap setia kepada Khilafah Utsmaniyah sama dengan menjadi seorang Utsmani? Duta Besar Yunani—yang dibahas pada bab ke-20 —jelas seorang Utsmani, tetapi bagaimana dengan orang Prancis yang membelot ke Turki atau Dragoman dari Siprus? Apakah mereka juga orang Utsmani? Bagaimana pula dengan multiloyalitas orang-orang Yunani dan Yahudi, yang diselidiki di dua bab terakhir?

Buku ini menyiratkan bahwa pembaca perlu membedakan antara dua identitas: identitas khilafah/daulah dan identitas rakyat dan bagaimana yang pertama membentuk yang kedua. Misalnya, bab-bab tentang Yerusalem dan Aintab menggambarkan hal ini dengan menjelajahi arsitektur Turki Utsmani dan pengenalan administrasi pemerintahan Daulah Utsmaniyah di tingkat lokal. Meski demikian, aspek psikologis sebenarnya bisa memberi wawasan tentang identitas sejati dari para penghuni kota-kota ini, dan ini belum begitu terungkap.

Ada narasi (cerita) personal yang langka dari sudut pandang warga Daulah Utsmaniyah, tetapi sulit untuk membahas lebih jauh apa makna identitas Turki Utsmani bagi mereka.

Memang, kita bisa mengikuti perjalanan hidup seorang pedagang Anatolia di Aleppo, tapi apakah pembaca benar-benar mengetahui identitas ke-Utsmani-annya? Bab ke-19, misalnya, menunjukkan bahwa orang-orang yang sudah jelas Turki Utsmani saja bisa tidak tahu apa yang menjadi identitas Utsmaniyah ketika—setidaknya—harus menentukan tempat dan kontribusi mereka dalam sains.

Saat membaca semua bab buku ini, kesan yang muncul adalah bahwa identitas Utsmaniyah cenderung terus mengalami pergeseran dan negosiasi. Perhatikan sosok-sosok dalam buku ini, yang menunjukkan hal-hal berbeda sebagai berikut:

(1) berpihak kepada Turki Utsmani karena hal itu sesuai dengan kepentingan pribadinya (kasus pemimpin Sufi menggambarkan hal ini dengan baik),

(2) tidak terlalu memikirkan diri mereka sendiri sebagai warga Turki Utsmani dalam konteks ini (kasus orang Genoa di Galata atau janda Kristen yang melarikan diri), dan

(3) identitas Utsmaniyah berarti sebagai kesadaran untuk mempertahankan status atau berhubungan dengan elite negara (kasus Mahmut-pasha Angelovic atau Kepala Kasim).

Oleh karena itu, buku ini tidak menawarkan jawaban tegas soal identitas Utsmaniyah, tetapi secara sederhana menguraikan identitas penting yang dibiarkan terbuka. Inilah tujuan pertama buku ini sehingga pembaca yang ingin mendapat jawaban yang lebih spesifik mungkin akan kecewa.

Namun, dengan menganalisis sejarah periodik Turki Utsmani, pembaca dapat melihat ke dalam kehidupan sehari-hari orang Utsmaniyah yang cemerlang. Buku ini juga menawarkan biografi yang berwarna-warni tentang warga Khilafah Utsmaniyah dari berbagai latar belakang dan posisi (baik yang menjadi bagian pemerintahan maupun dari kalangan rakyat).

Bagaimanapun, inilah tujuan akhir buku ini—untuk memberi gambaran sekilas tentang apa itu Utsmaniyah. Kiranya itulah sebabnya buku ini—pada akhirnya—tidak menawarkan kesimpulan, melainkan justru pertanyaan untuk dipertimbangkan dan dikaji lebih lanjut.

 

Rujukan:

http://www.iupress.indiana.edu/product_info.php?products_id=807792

Jurnal Insight Turkey Volume 19 No. 1

http://insightturkey.com/living-in-the-Utsmaniyah-realm-empire-and-identity-13th-to-20th-centuries/book-reviews/10605