Amerika Tuduh Badan Intelejen Pakistan Bantu Jihadis

Dalam persidangan Selasa (3/10) di depan Komite Layanan Angkatan Bersenjata, Jenderal Joseph Dunford, Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, mengatakan bahwa Direktorat Intelijen Antar Dinas Pakistan (ISI) terus mendukung kelompok “teroris”. Meskipun demikian, Dunford dan Sekretaris Pertahanan James Mattis tetap berharap bahwa AS dapat mengendalikan “negara nakal” tersebut.

Meski tuduhan dialamatkan ke ISI, Mattis dan Dunford tidak otomatis memasukkan pemerintah Pakistan dan militer Pakistan juga mendukung organisasi jihad regional dan global.

Ketika ditanya, “Apakah ISI masih membantu Taliban?” Dunford menjawab, “Bagi saya jelas ISI memiliki hubungan dengan kelompok teroris.”

Mattis juga mencatat keterlibatan Pakistan dengan serangan teroris di Asia Selatan.

“Pakistan memiliki sejarah yang berbelit-belit dengan terorisme. Walaupun ada sedikit keraguan bahwa kelompok teroris telah menggunakan Pakistan sebagai tempat berlindung dari serangan, tidak hanya di Afghanistan. Kami juga melihat serangan di India,” Mattis menyatakan.

Kemudian, Mattis mengatakan bahwa “ISI tampaknya menjalankan kebijakan luar negerinya sendiri.”

Mattis dan Dunford memuji militer dan pemerintah Pakistan karena “memerangi teroris,” namun mereka gagal untuk menjelaskan bahwa negara Pakistan hanya memerangi kelompok-kelompok jihadis yang mengancamnya, seperti Gerakan Taliban di Pakistan dan Gerakan Islam Uzbekistan. Kelompok-kelompok ini disebut sebagai “Taliban yang buruk,” saat mereka menyerang negara Pakistan.

Sementara ISI adalah kekuatan pendorong dalam merancang dan melaksanakan kebijakan Pakistan untuk mendukung organisasi teroris seperti Taliban Afghanistan, Lashkar-e-Taiba, Harakat-ul-Mujahidin, Hizbul Mujahidin, dan kelompok lainnya, pemerintah dan militer mendukung usaha-usaha ini.

Bagaimanapun, ISI adalah lengan militer Pakistan. Namun militer dan pemerintah tidak dapat atau tidak mau mengendalikannya. Kelompok-kelompok ini, yang disebut sebagai “Taliban yang baik,” digunakan oleh negara Pakistan untuk melaksanakan tujuan kebijakan luar negerinya untuk melemahkan kontrol India atas Kashmir dan Jammu, dan membangun sebuah pemerintah Taliban pro-Pakistan di Afghanistan.

Meskipun dukungan Pakistan selama beberapa dasawarsa terhadap jihad di Asia Selatan, Mattis dan Dunford menekankan bahwa pendekatan diplomatik akan menjadi kendaraan utama yang digunakan untuk mencoba membuat negara tersebut merubah kebijakannya untuk mendukung para teroris.

Dunford memuji Jenderal Qamar Javed Bajwa, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, pemimpin militer paling kuat di negara itu, karena baru-baru ini melibatkan para pemimpin Afghanistan di Kabul.

Namun, selama bertahun-tahun, ada banyak kunjungan ke Kabul oleh para pemimpin militer Pakistan dan pejabat pemerintah. Kunjungan ini belum menghasilkan apapun, dan kenyataannya Taliban hari ini lebih kuat di Afghanistan daripada kapan pun sejak invasi AS pada musim gugur 2001. Taliban berhasil mengendalikan sekitar 45 persen distrik Afghanistan, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Longwar Journal .

Jika Pakistan serius menunjukkan niat baik dalam memerangi terorisme dan menstabilkan Asia Selatan, harus dimulai dengan menangkap pimpinan Taliban, dan menutup kamp pelatihan, madrasah, pusat perekrutan, pusat keuangan, dan jaringan pendukung lainnya yang berbasis di perbatasannya.

Sumber : https://www.longwarjournal.org