Perang Media Sosial, Saat Kekuatan Menjadi Setara

Judul Buku   : Social Media Warfare; Equal Weapons for All

Penulis         : Michael Erbschloe

Penerbit       : CRC Press

Tahun Terbit:Juni 2017

 

Aplikasi media sosial bisa dijalankan dengan mudah oleh semua orang. Peperangan media sosial telah menjadi ancaman baru yang harus diperhatikan oleh negara, instansi pemerintah, dan perusahaan. Michael Erbschloe telah bekerja selama lebih dari 30 tahun melakukan analisis efek teknologi informasi di bidang ekonomi, kebijakan publik yang berkaitan dengan teknologi, dan pemanfaatan teknologi dalam proses re-engineering organisasi.

Dalam buku “Social Media Warfare: Equal Weapons for All”, dia memanfaatkan pengalaman dan keahliannya selama puluhan tahun untuk memetakan ancaman peperangan media sosial dengan cara yang logis yang dapat menimalisasi ketidakpastian.

Agar tetap aman, individu, perusahaan, dan pemerintah perlu mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan diri dari serangan dalam peperangan di media sosial. “Social Media Warfare” membahas strategi dan taktik peperangan media social, yang bukan merupakan perang konvensional,yang membutuhkan waktu dan pengalaman, ditambah perencanaan dan keseriusan agar  berhasil menjadi pemenang.

“Social Media Warfare” akan membantu para manajer untuk mengembangkan pemahaman yang baik tentang bagaimana peperangan media sosial dapat mempengaruhi bangsa atau organisasinya.

Dalam pengantarnya, Michael Erbschloe menyebutkan bahwa media sosial tidak lagi hanya untuk berbagi tentang liburan keluarga dan foto kucing kita yang sedang tidur.Alat dan aplikasi media sosial tersedia untuk semua orang baik di komputer atau smartphone.

Media sosial semakin sering digunakan sebagai senjata efektif oleh banyak orang-orang di berbagai sisi konflik yang berbeda. Organisasi militer dan juga sipil dari semua jenis perlu menjadi lebih efektif dalam mengamati bagaimana musuh mereka menggunakan media sosial, bertahan melawan serangan media sosial yang sedang berlangsung, dan menggunakan media sosial sebagai senjata untuk mencapai tujuan mereka sendiri.

Mempelajari proses serangan di media sosial untuk memicu pemberontakan atau aksi-aksi sosial hanya memerlukan sedikit waktu. Tetapi untuk menjadi ahli dalam hal ini, membutuhkan usaha yang keras, seperti halnya mempelajari strategi atau taktik peperangan. Hal ini membutuhkan waktu, juga membutuhkan perencanaan dan dedikasi.

Tidak ada satu situs web khusus yang menyediakan semua pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan untuk secara efektif meningkatkan skill penyerangan atau cara jitu mempertahankan sebuah organisasi selama konflik di media sosial. Juga tidak ada satu program kuliah pun bertajuk “perang media sosial” yang secara efektif membuat sebuah negara atau organisasi aman selama konflik media sosial.


Perlu dipahami bahwa penggunaan media  yang berorientasi pada konflik adalah hal lumrah, dan pemerintah dan lembaga penegak hukum tidak dapat berbuat banyak untuk membantu pihak-pihak yang berkonflik dalam perang media sosial. Namun, ketika pemerintah terlibat dalam konflik yang memiliki komponen peperangan media sosial, mereka akan melakukan semua yang mereka bisa untuk mengendalikan akses ke alat media sosial. Termasuk melakukan pemblokiran. Konon, buku ini memberikan pendekatan terstruktur untuk menggunakan senjata media sosial dan melindungi sebuah organisasi dari strategi peperangan konvensional yang tidak biasa ini.

Seiring penggunaan media sosial yang semakin banyak digunakan dalam situasi konflik, banyak organisasi menjadi lebih rentan karena mereka menggunakan media sosial dengan cara naif atau tidak tahu bagaimana mempertahankan diri dari serangan di media sosial.

Organisasi modern harus menghadapi tantangan yang sama saat menghadapi ancaman cyber warfare dan telah mengajukan banyak upaya untuk melindungi terhadap berbagai metode serangan cyber. Perbedaan antara peperangan cyber dan peperangan media sosial adalah bahwa peperangan cyber membutuhkan pengetahuan dan keterampilan teknis yang jauh lebih tinggi.

Peperangan media sosial lebih mudah dipelajari dan dapat lebih cepat digunakan; Tapi peperangan media sosial yang efektif, seperti perang cyber, membutuhkan kedisiplinan dan dedikasi jangka panjang untuk memperoleh kesuksesan dalam penyerangan atau pertahanan. Taktik peperangan media sosial juga telah terbukti agak berhasil sebagai alat peperangan yang non konvensional.

Buku ini dirancang untuk menghemat waktu yang dibutuhkan oleh para manajer dan pejuang media sosial untuk mempelajari metode peperangan media sosial dan metode mitigasi. Akhirnya, buku ini akan lebih memberi informasi kepada para manajer tentang cara menetapkan tujuan dan tindakan pertahanan untuk melawan serangan dalam peperangan di media sosial.

Selain itu, buku ini juga akan memungkinkan manajer untuk berurusan dengan pemerintah atau organisasi yang berpotensi menjadikan mereka sebagai korban selama operasi peperangan media sosial.