Mengapa Pemilu Tidak Menghasilkan Pemerintahan yang Bertanggung Jawab?

Buku yang berjudul DEMOCRACY FOR REALISTS: Why Election Do Not Produce Responsive Goverment secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “DEMOKRASI BAGI REALIS: Mengapa Pemilu Tidak Menghasilkan Pemerintahan yang Bertanggungjawab”. Buku yang ditulis oleh Christopher H. Achen dan Larry M. Bartels ini diterbitkan oleh Princeton University Press, New Jersey, AS  pada bulan April 2016.

Buku dengan ketebalan sebanyak 408 halaman ini mempunyai  ISBN 9780691169446 untuk versi cetak sampul tebal. Isi buku ini disusun menjadi 11 bab selain bagian Pengantar. Buku ini juga dilengkapi dengan  Catatan kaki, dan Daftar Indeks.

Christopher H. Achen adalah Profesor Ilmu Sosial dan Politik di Princeton University. Buku-bukunya meliputi The European Union Decides. Larry M. Bartels adalah Ketua Departemen Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial di Vanderbilt University. Buku-bukunya meliputi Unequal Democracy: The Political Economy of the New Gilded Age.

Buku Democracy For Realists menyanggah teori demokrasi rakyat yang romantis di tengah pemikiran kontemporer tentang politik dan pemerintahan yang demokratis. Buku ini juga menawarkan pandangan alternatif yang provokatif yang didasarkan pada sifat manusia sebenarnya dari warga negara demokratis.

Christopher Achen dan Larry Bartels menggunakan banyak bukti sosial-ilmiah, termasuk analisis awal topik yang cerdik, mulai dari politik aborsi dan defisit anggaran hingga Depresi Besar dan serangan ikan hiu, untuk menunjukkan bahwa cita-cita masyarakat yang ideal dalam mengarahkan kapal negara dari bilik suara pada dasarnya adalah salah arah.

Keduanya menunjukkan bahwa para pemilih meskipun mereka mendapat informasi yang baik dan terlibat secara politik, kebanyakan memilih partai dan kandidat berdasarkan identitas sosial dan loyalitas partisan, bukan isu politik. Keduanya juga menunjukkan bahwa pemilih menyesuaikan pandangan politik mereka dan bahkan persepsi mereka tentang hal-hal yang mendasar agar sesuai dengan loyalitas tersebut.

Ketika partai-partai secara keseluruhan berimbang, pemilihan sering kali beralih pada pertimbangan yang tidak relevan atau menyesatkan seperti lonjakan ekonomi atau kemerosotan di luar kendali para penguasa; hasil yang diperoleh pada dasarnya adalah acak. Dengan demikian, pemilih tidak mengendalikan jalannya kebijakan publik, bahkan meskipun secara tidak langsung.

Achen dan Bartels berpendapat bahwa teori demokrasi perlu didasarkan pada identitas kelompok dan partai politik, bukan pada preferensi pemilih individual. “Democracy for Realists” memberikan tantangan yang kuat terhadap pemikiran konvensional, menunjukkan jalan menuju pemahaman yang mendasar tentang realitas dan potensi pemerintahan demokratis.

Kedua penulis berpendapat bahwa teori yang digunakan untuk merasionalisasi keyakinan kita tentang demokrasi telah hancur tidak dapat diperbaiki dan harus diganti. “Pemikiran konvensional tentang demokrasi,” tulis Achen dan Bartels, “telah runtuh dalam menghadapi riset bidang ilmu sosial modern.”

Penulis berpendapat bahwa meningkatnya ketimpangan itu adalah hasil sampingan dari penghancuran fungsi demokrasi, dan untuk itu sangat membutuhkan reformasi. Sayangnya, perbaikan yang diminta seringkali tidak dapat dicapai, berfungsi hanya sebagai slogan sederhana. Ketidaksetaraan dan kekuatan para penguasa telah meningkat selama bertahun-tahun, dan politisi yang mendapat keuntungan terus memperluas keuntungan mereka.

Para reformator sering menggunakan intensitas emosional yang meningkat terhadap tuntutan mereka sebagai ganti bagi strategi politik yang efektif. Baik politisi maupun warga negara sepenuhnya tidak mengerti mengapa hal ini terjadi atau bagaimana hal itu dapat diatasi.

Seperti yang dicatat oleh para penulis, reformasi pembiayaan kampanye, pengurangan ketimpangan pendapatan, dan penguatan perlindungan yang sama akan bermanfaat. Sayangnya, politisi seringkali tidak terpengaruh oleh kemauan rakyat.

Achen dan Bartels menggabungkan tradisi kritik politik yang sudah berlangsung lama dengan penelitian intensif terhadap perilaku dan kepercayaan rakyat. Mereka menunjukkan bahwa hasil tidak didasarkan pada pilihan dan pertimbangan individual namun berdasarkan pengertian identitas kelompok. Rakyat tidak memiliki waktu, kecenderungan, dan sarana untuk secara serius mempertimbangkan masalah yang seharusnya penting namun biasanya diabaikan. Loyalitas partisan biasanya dibentuk oleh identitas rasial, etnis, agama, dan keluarga.

Kedua penulis menyatakan, “Kami percaya, bahwa meninggalkan teori demokrasi rakyat adalah prasyarat untuk kejelasan intelektual dan perubahan politik yang nyata. Terlalu banyak reformis demokrasi telah menyia-nyiakan energi mereka pada gagasan sesat atau khayalan saja.”

Buku ini memberikan analisis komprehensif yang meletakkan fondasi untuk diskusi tentang reformasi yang diperlukan dan bagaimana hal itu dapat dicapai.

 

Baca halaman selanjutnya: Ulasan dan penilaian terhadap buku ini