Analisa LWJ, Azh-Zhawahiri: Kalian Tidak Bisa Menipu Amerika (Bag. 1)

Pada awal bulan Oktober ini The Long War Journal memublikasikan analisisnya terkait pernyataan terkini Pemimpin Al-Qaidah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri.[1] Outlet media tersebut merupakan salah satu proyek Foundation for Defense of Democracies, lembaga think tank Amerika Serikat yang fokus mengikuti dinamika jihad global. Pernyataan asli dipublikasikan oleh media resmi Al-Qaidah Pusat, As-Sahab, lewat kanal Telegram-nya.[2]

Sejak pertengahan 2015, secara konsisten Azh-Zhawahiri telah merilis serangkaian pernyataan tentang kejadian di seluruh dunia. Pesan terbarunya, yang berjudul “Kami Akan Memerangi Kalian Sampai Tidak Ada Lagi ‘Fitnah’ (Insyaallah)” menekankan peran penghulunya di dalam menyatukan barisan mujahidin ketika menghadapi sejumlah persoalan yang mirip. Tak lupa ilustrasi Serangan 11 September ditampilkan di latar belakang saat ia menyampaikan pesannya.

Azh-Zhawahiri memuji Usamah bin Ladin—pemimpin pertama Al-Qaidah—karena berhasil “menyatukan organisasi-organisasi jihad dengan tujuan bersama di mana umat bisa bersatu,” “menyadarkan Umat untuk mengenali musuh sebenarnya, yang harus menjadi sasaran utama dalam jihadnya,” serta “mengantarkan organisasi-organisasi jihad (bergabung) di bawah bendera Emirat Islam Afghanistan (Taliban).”

Bin Ladin bisa saja membatasi Al-Qaidah untuk sebuah “jihad regional,” kata Azh-Zhawahiri, namun dia memutuskan untuk melawan Amerika dan rezim yang memerintah negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Dengan keputusannya itu, Bin Ladin “mulai bergerak … sebuah kebangkitan yang meluas di berbagai belahan Dunia Muslimin” yang berlanjut sampai hari ini.

Al-Qaidah memuji Bin Ladin sebagai “syekh yang menghidupkan kembali jihad” karena perannya dalam membangkitkan kesadaran berjihad. Azh-Zhawahiri mengulangi pujian dengan nada yang sama ketika mengingat seniornya yang telah meninggal tersebut sebagai “seorang pemimpin di antara para pemimpin dan pelopor umat Islam.”

“Ini adalah jalan yang ditempuh Usamah bin Ladin (semoga Allah merahmatinya), dan ini adalah jalan Al-Qaidah setelah dia: menghadapi pemimpin kekafiran global pada awalnya, kemudian pada saat yang sama berjihad melawan rezim lokal, karena perang akhirnya merupakan perang tunggal, dan kedua perang ini tidak dipisahkan kecuali hanya dalam imajinasi seseorang yang tidak memiliki persepsi terhadap situasi yang benar,” kata Azh-Zhawahiri.

Sepanjang pesannya, Azh-Azh-Zhawahiri mengangkat hubungan antara Taliban dan Al-Qaidah sebagai model bagi para jihadis di seluruh dunia.

Video pesan tersebut berisi arsip-arsip Usamah bin Ladin dari tahun 1998, saat dia meminta umat Islam untuk mendukung tujuan Taliban. Azh-Zhawahiri juga memuji Mulla Muhammad Umar karena menolak permintaan Amerika untuk menyerahkan Bin Ladin. Dan ia mengingatkan pemirsa bahwa penerus Mulla Muhammad Umar sebagai Amir Taliban, Mulla Akhtar Manshur, secara terbuka mengucapkan terima kasih kepada Azh-Zhawahiri atas baiatnya pada Agustus 2015.

Mulla Akhtar Manshur menerima sumpah setia Azh-Zhawahiri dengan “sepenuhnya mengetahui harga keputusan ini,” yang berarti ia mengetahui konsekuensi dan risiko dari adanya ikatan dengan Al-Qaidah.

Sekilas, video ini tampak seperti video pesan biasanya. Namun, ada banyak cerita menarik. Azh-Zhawahiri menggunakan hubungan Taliban-Al Qaidah untuk mengkritik sebagian jihadis dan kelompok Islam di Suriah, yang telah terbelah oleh perselisihan dan kompetisi selama berbulan-bulan. Secara khusus, Azh-Zhawahiri juga mengingatkan bahwa para pejuang di Suriah tidak dapat menipu Amerika.

 

Baca halaman selanjutnya: Azh-Zhawahiri memperingatkan mujahidin di Suriah bahwa mereka tidak bisa menipu Amerika

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *