Data Trump Error, Islam Bukan Ancaman Utama di Amerika

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah bersumpah untuk bersikap keras terhadap “terorisme radikal Islam.” Dia telah mencoba menerapkan larangan bepergian yang melarang orang-orang dari enam negara berpenduduk mayoritas Muslim memasuki AS. Ia juga sering menge-tweet tentang serangan teroris Islam di seluruh dunia. Namun, sebuah laporan yang terbit di bulan Juni 2017 ini membuktikan bahwa ternyata Trump tidak memiliki data yang valid.

Sebuah laporan yang merupakan hasil penelitian gabungan oleh Investigative Fund dari Nation Institute, sebuah pusat media nirlaba, dan Reveal dari Center for Investigative Reporting telah menemukan bahwa dalam sembilan tahun terakhir, ekstremis sayap kanan merencanakan atau melakukan hampir dua kali lebih banyak serangan teroris daripada kelompok ekstremis Islam.

Dari 115 insiden yang direncanakan atau sudah dilakukan oleh ekstrimis sayap kanan, polisi hanya mampu menggagalkan 35 persen. Bandingkan dengan 63 kasus terorisme Islam, polisi berhasil menggagalkan 76 persen serangan yang direncanakan.

Tidak hanya lebih banyak melakukan serangan, ekstremis sayap kanan juga seringkali lebih mematikan. Dari tahun 2008 sampai 2016, sepertiga dari serangan ekstremis sayap kanan menimbulkan korban jiwa. Sementara itu, hanya 13 persen serangan dari “ekstremis Islam” rata-rata menghasilkan korban jiwa.

Secara keseluruhan, jumlah korban jiwa yang diakibatkan oleh kedua kelompok ini hampir sama, yaitu kelompok ekstrimis Islam dengan jumlah korban tewas 90 orang dan kelompok ekstrimis sayap kanan dengan 79 orang.

(Baca juga: Perang Drone, Warisan Obama yang Digencarkan Trump)

Dalam sebuah pernyataan yang menyoroti tingginya angka serangan teroris sayap kanan yang berhasil, Investigative Fund mengatakan: “Proyek ini membuktikan dengan terukur, betapa tidak rasionalnya Trump dan tuduhan Partai Republik terhadap ‘terorisme radikal Islam’ sebagai ancaman keamanan terbesar.”

Alih-alih mengakui masalah kekerasan oleh kelompok ekstrimis sayap kanan, Trump lebih memilih diam setelah serangan islamofobia di sebuah masjid di London yang menewaskan satu orang. (Padahal sebelumnya Trump menge-tweet tentang tiga insiden terorisme Islam yang telah terjadi di London dalam beberapa bulan terakhir.)

Menurut Investigative Fund dan Reveal, salah satu bagian dari masalahnya, adalah orang-orang yang memberi nasihat kepada Trump. Letnan Jenderal Michael Flynn, mantan penasihat keamanan nasional presiden, mengatakan bahwa “ketakutan terhadap umat Islam itu rasional,” dan bahwa dia menganggap “Islam bukanlah agama.” Penasihat Trump lainnya, Steve Bannon, juga telah menyebut Islam sebagai “agama penjajah”. Bannon diyakini telah menjadi pendukung kuat untuk melarang negara-negara tertentu memasuki AS.

Pemerintahan AS, kata Investigative Fund dan Reveal, sepertinya tidak ingin mengubah budaya dimana otoritas federal secara tidak proporsional berfokus pada ekstremis Islam saja. Dari keseluruhan insiden terror tersebut, otoritas federal menangani 91 persen ekstrimis Islam dan hanya 60 persen ekstrimis sayap kanan.

 

Sumber: www.newsweek.com