Kerasnya Diponegoro Dalam Melawan Budaya Jahiliyah Barat

Masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV adalah Masa keemasan masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa. Pada tahun 1822 Sultan Hamengku Buwono IV meninggal secara mendadak. Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengangkat RM Menol yang masih berusia 2 tahun sebagai Sultan Hamengubuwono V.

Ketiadaan kepemimpinan yang kuat dan disegani telah membuat wibawa keraton menjadi hilang sehingga tingkah laku para pejabat pemerintahan Hindia Belanda semakin menjadi-jadi, semakin mudah keluar masuk keraton dan mengadakan hubungan gelap dengan puteri-puteri keraton. Skandal seks dan perselingkuhan merebak di kalangan keluarga para bangsawan dan keluarga kalangan keraton. Korupsi, penyalahgunaan jabatan dan pemerasan rakyat meluas. Tanah-tanah milik kerajaan (Kroonsdomein) yang subur disewakan kepada orang Eropa atau orang Cina yang mendapat dukungan dari para bangsawan keraton serta Residen pemerintah penjajah Belanda.

Selama dekade berikutnya(1814-1824) pajak dari perdagangan candu di Yogya meningkat lima kali lipat. Dan pada tahun 1820 terdapat 372 tempat terpisah yang mendapat ijin resmi dari pemerintah penjajah untuk menjual candu secara eceran di wilayah Sultan, subgerbang (rangkah) dan pasar-pasar di kesultanan.

(Baca juga: Kekuatan Ramalan, Jihad Diponegoro Menegakkan Negara Islam di Tanah Jawa)

Atas dasar pemakaian candu yang dikumpulkan pada akhir abad ke-19, seorang pejabat Belanda menyimpulkan bahwa sekitar 16% orang Jawa telah menjadi pemakai candu. Namun angka pemakaian candu akan jauh lebih tinggi kalau dihitung dari merebaknya pemakaian “candu orang miskin”, seperti rokok yang dicelupkan candu, kopi yang dibumbui candu dan buah pinang yang dibubuhi candu.

Perjudian dan candu merupakan monopoli pemerintah penjajah yang pengelolaannya diserahkan pada para bandar Cina. Perjudian dan candu tumbuh subur di daerah Yogyakarta dan Surakarta. Dan para bandar Cina yang memimpin rumah-rumah perjudian dan tempat-tempat penghisap candu yang terdapat di kedua wilayah tersebut. Usaha ini memberikan keuntungan yang sangat besar bagi para bandar.

Selain candu dan perjudian, setelah tahun 1816 terjadi peningkatan pemakaian minuman keras dan penggunaan perabot rumah tangga Eropa, kendaraan-kendaraan dan permainan kartu di kalangan bangsawan Jawa. Sultan Hamengku Buwono IV memerintahkan sejumlah pegawai pribadinya untuk mengenakan seragam Eropa. Sultan juga merasa senang memakai seragam mayor Jendral Belanda saat berkendara di luar keraton.

Diponegoro hidup dalam suatu dunia yang semakin terbelah, antara mereka yang siap menyesuaikan diri dengan budaya dan moral yang dibawa rezim Eropa dan mereka yang melihat tatanan moral Islam sebagai “bintang pedoman” dalam masyarakat yang telah kehilangan tambatan tradisionalnya.

Pandangan dunia Diponegoro mencakup suatu pendapat yang sangat jelas mengenai bagaimana orang-orang Muslim Jawa seharusnya hidup dalam zaman dominasi imperium Barat. Bagi Diponegoro, tidak seperti kebanyakan orang Muslim Indonesia dewasa ini, jawaban atas ini semua rupanya terletak pada menjalankan perang suci dan pengembangan karakter yang jelas tegas antara wong Islam (orang Islam), orang Eropa kapir laknatullah (kafir yang dilaknat oleh Allah), dan kapir murtad (orang Jawa yang memihak Belanda).

Diponegoro dan para komandan seniornya memberikan perhatian yang cukup detail untuk melestarikan budaya dan bahasa Jawa dalam menghadapi serangan budaya Barat dan pembentukan tatanan kolonial baru pasca Januari 1818 negara Hindia Timur Belanda. Diponegoro bersikeras pada penggunaan bahasa Jawa, khususnya kromo inggil (bahasa Jawa Halus) dan adopsi penggunaan pakaian Jawa oleh tawanan perang Belanda.

(BAca juga: Perang Aceh, Perang Terberat dan Terlama Bagi Penjajah Belanda) 

Pendirian Pangeran Diponegoro semakin teguh dan secara simbolik untuk menegaskan idealisme sikapnya. Ia mulai menanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian sesuai kebiasaan Nabi Muhammad, jubah dan surban yang serba putih. Selain itu ia juga mengganti namanya setelah terjadinya perang jawa, “Saya bukan Diponegoro, saya adalah Ngabdul Khamid.” Nama Ngabdul Khamid, menurut Peter Carey mengadopsi nama Sultan Abdul Hamid I dari kekhilafahan Turki Utsmani (1774-1789) yang memberikan inspirasi dan motivasi yang kuat terhadap Diponegoro untuk meneladaninya.

Masa muda Pangeran Diponegoro dijalaninya dengan berkelana dari masjid ke masjid dan berguru dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Pengembaraannya di kalangan komunitas santri disertai pendalamannya atas sejarah Nabi Muhammad SAW telah mengubah sikap dan gagasan-gagasannya tentang masyarakatnya.

Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam yang disebutnya masyarakat jahiliyah. Sehingga ia merasa berkewajiban mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Untuk menyusun masyarakat baru dalam wadah balad (negara) agama (Islam) hanya dapat dicapai melalui perang Sabil (jihad fi sabilillah) terhadap kafir Belanda.

 

Referensi :

Peter Carey, Orang Cina, Bandar Tol, Candu dan Perang Jawa, Perubahan persepsi tentang Cina 1755-1825, Komunitas Bambu Jakarta, 2008

Peter Carey, Asal Usul Perang Jawa, LKiS Yogyakarta, 2001

Saleh As’ad Djamhari, Stelsel Benteng Dalam Pemberontakan Diponegoro 1827-1830; Suatu Kajian
Sejarah Perang,
Desertasi Program Pasca Sarjana bidang Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) Jakarta, 2002