Trump Mengesahkan 70 Tahun Penjajahan Israel Atas Palestina

Bagi Muslim di seluruh dunia, Yerusalem telah menjadi simbol yang nenandai satu abad pengkhianatan Barat

Keputusan Presiden Donald Trump untuk secara formal mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah keputusan yang tidak bertanggung jawab dan berbahaya. Banyak sekali alasan kenapa keputusan tersebut tidak tepat. Namun saya hanya akan menjelaskan beberapa masalah prinsip saja.

Sementara kita semua merasa lelah dan bosan mendengar mantra yang terlalu sering digunakan “inilah akhir dari proses perdamaian,” Keputusan Trump sebenarnya adalah paku di peti mati bagi solusi negosiasi apapun atas konflik Israel-Palestina. Pertama, tidak ada proses perdamaian. orang-orang Israel dan Palestina menunggu ajudan Trump untuk mengolah “kesepakatan abad ini.” Trump berharap ketika “kesepakatan” diajukan, negosiasi akan dimulai.

Pengakuan sepihak Amerika atas Yerusalem tidak hanya meremehkan salah satu isu konflik yang paling sensitif, namun juga memberi dukungan penuh bagi Israel. Sejak awal proses perdamaian modern, ada dua kekurangan fatal yang menghambat usaha tersebut: asimetri kekuasaan atas dukungan Israel dan bias AS yang lebih mendukung Israel.

Tindakan Trump telah lebih menguatkan kedua kekurangan itu. Keputusan tersebut telah memberi semangat dan penghargaan kepada elemen-elemen paling keras dan ekstrim di Israel sambil melemahkan dan mengkompromikan pemimpin Palestina dan Arab yang telah mempercayai peran AS tersebut. Keputusan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota dan untuk memulai proses relokasi kedutaan AS memperjelas bahwa AS bukanlah “broker yang jujur.” Dalam konteks ini, seruan presiden untuk terus berfokus pada pencapaian perdamaian menjadi tidak relevan lagi.

Harus diingat bahwa ketika Kongres mengeluarkan Undang-Undang Kedubes Yerusalem pada tahun 1995, diprakarsai dari Partai Republik, yang bekerjasama dengan Partai Likud sayap kanan Israel, adalah sebuah ‘pil racun’ yang akan menyabotase Proses Perdamaian Oslo yang pada saat itu masih berjalan. Perundang-undangan tersebut merupakan tamparan Likud terhadap Rabin dan Clinton. Alasan mengapa presiden AS, Clinton, Bush, dan Obama telah menggunakan ketentuan pengabaian undang-undang tersebut dan menunda penerapannya justru untuk menghindari pil racun ini dan menjaga kredibilitas perdamaian AS. Namun, pilnya sekarang telah diambil dan ditelan oleh Trump.

Perancang UU dan pasukan anti-perdamaian di Israel dan AS tahu bahwa Yerusalem tidak akan dipermainkan. Ia bukan sembarang kota, karena kota ini penting bagi narasi dari tiga agama Ibrahim. Untuk alasan ini, arsitek rencana pembagian PBB, mengecualikannya sebagai zona internasional. Karena alasan inilah ketika Israel menduduki sisi barat kota Yerusalem pada tahun 1948 dan kemudian mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota mereka, keputusan sepihak itu tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Israel menambah perlawanan mereka pada tahun 1967, ketika mereka merebut dan menduduki wilayah Palestina lainnya, mereka mencaplok sebagian besar wilayah Palestina (termasuk lebih dari dua lusin desa-desa Palestina) dan mengumumkan keseluruhan Yerusalem Barat dan Timur sebagai “Yerusalem Raya,” serta bersikeras akan menjadi “Ibukota abadi mereka”. Pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional ini dengan suara bulat dikutuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Terlihat dalam konteks ini, tindakan Trump memberikan cap persetujuan AS atas 70 tahun  pelanggaran hukum dan Resolusi PBB yang dilakukan Israel.

Bagi Muslim di seluruh dunia, Yerusalem telah menjadi simbol yang kuat, menandai satu abad pengkhianatan oleh Barat. Seperti halnya isu Palestina itu sendiri, penyebutan Yerusalem membangkitkan janji-janji yang tak ditepati, pendudukan brutal oleh kekuatan penjajah, pengkerdilan sejarah, dan penolakan atas HAM. Rakyat Amerika harus tahu bahwa Yerusalem adalah milik orang Arab dan Muslim.

Yerusalem adalah luka di jantung orang-orang Arab dan Muslim yang tidak pernah sembuh. Dengan keputusannya yang menyeramkan untuk membebaskan Israel dari kejahatannya dan mengakui penguasaan kota mereka, dengan menaklukkan, Trump telah mengusapkan garam ke dalam luka ini.

Oleh karena itu, tidak masuk akal, tidak sensitif dan menyakitkan ketika presiden AS dengan tindakan provokasinya kemudian menyerukan kepada warga Palestina agar tetap tenang dan damai. Dia sebenarnya mengatakan, “Saya tidak peduli dengan apa yang telah Anda derita, dan saya juga tidak peduli bagaimana tindakan Israel yang tidak adil dan ilegal, cukup duduk dan terimalah.”

Saya akan menambahkan bahwa sementara, dengan keputusannya, Trump sedang bermain untuk pendukung Kristen evangelis sayap kanannya, dia mengabaikan perasaan komunitas Kristen di Palestina. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan sehari sebelum pengumuman presiden tersebut, para patriarki dan uskup gereja Kristen timur yang berkantor pusat di Yerusalem memohon kepadanya untuk tidak mengakui klaim eksklusif Israel terhadap kota tersebut.

Akhirnya, ada realitas kehidupan sehari-hari orang-orang Palestina di Yerusalem dan sekitarnya. Setelah menutup Yerusalem Timur dari sisa Tepi Barat, Israel telah mempercepat kebijakannya untuk mencekik kehidupan orang Arab di Yerusalem. Dilarang bekerja, menjadi korban pembongkaran rumah dan tanahnya dirampas, dan harus tunduk pada sejumlah kebijakan diskriminatif yang melanggar hak asasi manusia, daya tahan populasi Arab Palestina di Yerusalem Timur terus diuji setiap hari. Kesunyian Trump dalam masalah ini sambil mengucapkan “God Bless the Palestinian people” hanya kosong di akhir sambutannya, seperti “abu di mulut” daripada sebuah ekspresi keprihatinan nyata.

Sementara orang Amerika mengingat tanggal 7 Desember, tanggal serangan Jepang di Pearl Harbor, sebagai “hari kekejian,” orang-orang Arab dan Palestina mungkin merasakan hal yang sama pada tanggal 6 Desember – tanggal saat Donald Trump menyampaikan pukulan fatal dan naas pada perdamaian dan keadilan di Tanah Suci Yerusalem.

 

Sumber: http://original.antiwar.com