Masih Bergunakah Resolusi PBB Soal Al-Quds Yerusalem?

10 hal Yang tersirat di balik hasil sidang majelis umum PBB tentang Yerusalem

Sebagian besar negara anggota PBB mengecam keputusan arogan AS secara sepihak yang mendeklarasikan Yerusalem sebagai “ibukota” negara pendudukan, Israel.

Dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 128 anggota menyatakan setuju, 9 menolak, dan 35 abstain, dalam menanggapi sebuah resolusi yang menyatakan bahwa keputusan klaim AS atas Yerusalem “batal demi hukum”. Pemungutan suara pada hari Kamis (21/12) berlanjut, setelah AS memveto usulan yang sama di Dewan Keamanan pada hari Senin (18/12).

Organ propaganda Israel dan Zionis di seluruh dunia dengan cepat menyebut kemenangan moral bagi orang Palestina ini adalah resolusi “yang tidak mengikat”. Ya, suara Majelis Umum “tidak mengikat” – tapi apakah itu juga tidak berguna dan tidak ada gunanya? Atau justru sebaliknya?

Inilah 10 alasan utama kenapa kita harus bersyukur dengan hasil pemungutan suara PBB:

Satu. Pemungutan suara ini adalah sebuah deklarasi global yang gemilang bahwa Israel adalah negara jahat, tidak memiliki landasan moral atau politik di antara masyarakat global – bahwa ini adalah pendudukan dan penjajahan, dan miliaran dolar terbuang sia-sia untuk propaganda sejarah palsu atas klaim kepemilikan Yahudi atas tanah Palestina, namun gagal mengamankan posisi Israel di dunia Internasional.

Dua. Pemungutan suara merupakan indikasi yang kuat bahwa AS, terutama di bawah pemerintahan Trump, adalah negara pengganggu dan harimau yang tidak berotot yang mengaum jauh lebih keras daripada yang bisa ia gigit. Dengan suara ini, masyarakat dunia menantang ancaman AS yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghukum negara-negara penentangnya dan menyatakan kemerdekaannya dari Zionisme yang menginfeksi politik AS. Nikki Haley, utusan Trump, terus mengamuk yang mengancam komunitas dunia dan dunia membungkamnya.

Tiga. Sebanyak 128 negara menyatakan “membatalkan” keputusan kekaisaran AS bahwa Yerusalem adalah ibu kota pangkalan militer favoritnya, dengan hanya 9 negara saja yang menolak resulusi, dan semuanya negara kecil dan lemah yang khawatir dengan ancaman AS dan 35 negara abstain. Itu berarti keseluruhan komunitas dunia minus 9 negara yang rentan secara finansial dan politik tidak memiliki alasan untuk diintimidasi oleh AS / Israel – bahwa negara-negara kembar paria ini (AS-Israel) telah terjangkiti kerusakan moral dan kebodohan politik mereka, bahwa mereka tidak berarti sama sekali kecuali dengan menggunakan ancaman militer pada dunia pada umumnya.

Empat. Ini menunjukkan ketidakmampuan diplomatik Nikki Haley dan mitranya dari Israel untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi seperti dua bulldog (anjing) yang menggonggong di komunitas dunia, bahwa mereka akan menghukum negara manapun yang menentang imperialisme mereka yang tumpul dan tak tahu malu. Utusan Trump dari PBB adalah seorang yang menunjukkan kebencian militan, tanpa keterampilan diplomatik dan tidak punya pengaruh politik. Dia telah mempermalukan setiap warga Amerika di hadapan dunia.

Lima. Pemungutan suara tersebut mengungkapkan bahwa kasus Palestina telah menjadi keprihatinan global yang memuncak, tidak terbatas pada negara-negara Arab dan Muslim saja – bahwa propaganda “anti-Semitisme” yang tidak berdasar dan merusak Zionis yang tak tahu malu akan disematkan pada siapa pun yang mengkritik Israel tidak lagi bisa mencegah dunia untuk menyatakan dengan keras menolak terhadap tindakan perampasan sistematis atas tanah Palestina. Apakah seluruh dunia “anti-Semit” – kecuali AS / Israel dan beberapa pulau kecil di Pasifik?

Enam. Menantu Trump Jared Kushner dan bersamanya seluruh komplotan Zionis fanatik yang membiayai koloni pemukim Illegal Israel telah menciptakan momen tentang kebejatan moral orang-orang yang mendukung Israel, bahwa setiap warga negara AS dan setiap penjajah Israel harus instrospeksi terhadap diri mereka sendiri di cermin dan lihat apakah mereka bisa dan layak tinggal di sana selama beberapa detik saja.

Tujuh. Seiring dengan deklarasi Trump awal yang telah berusaha melegalkan penjajahan Zionis di Yerusalem, pembelaan PBB ini selamanya menyangkal AS bahwa ada kepura-puraan untuk bersikap adil dan netral terhadap perdamaian, baik dari Partai Republik maupun Demokrat, dan telah menjadi pendukung penjajahan Israel terhadap Palestina.

Delapan. Kegagalan menyedihkan Nikki Haley di PBB – baik di Dewan Keamanan dan pemilihan Majelis Umum – mengakhiri aksi perdamaian Oslo dan dengan itu delusi “dua negara”. Mulai sekarang siapa pun yang mengucapkan kata “solusi dua negara” adalah pengkhianatan terhadap gerakan pembebasan nasional Palestina, terlibat dalam mempromosikan pemusnahan yang dilakukan Israel yang jahat untuk menutupi perampokan secara terus-menerus atas tanah Palestina tanpa upaya apapun untuk memberi ruang sebuah negara Palestina merdeka.

Sembilan. Dengan menyatakan PBB sebuah “rumah kebohongan” dalam pemungutan suara ini, Benjamin Netanyahu telah menuduh seluruh dunia telah berkhayal – sebuah bukti nyata tentang psychological   proyeksi. Bahwa sebagai perdana menteri penjajah dia dan kepentingan yang dia wakili hidup di alam semesta alternatif – bahwa “Israel” adalah berita palsu dan fiksi alternatif, bahwa seluruh dunia adalah “rumah dusta” atau Benjamin Netanyahu adalah perdana menteri “dagelan”.

Sepuluh. Upaya penghukuman dan penghinaan pemerintahan Trump terhadap negara penentangnya di PBB secara terang-terangan bertentangan dengan meningkatnya kesadaran pro-Palestina di AS sendiri. Pemerintahan ini, lain dari yang sebelumnya, menunjukkan kekuatan jahat Lobby Israel di AS untuk memaksa elit politiknya melawan kehendak rakyat Amerika dan mempermalukan mereka di depan masyarakat dunia. Hanya masalah waktu ketika orang Amerika juga akan membebaskan diri dari perbudakan asing ini.

 

sumber: www.aljazeera.com/

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *