Dunia arab di Bawah Naungan Kekhalifahan Turki Utsmani 1516-1918

Buku yang berjudul THE ARABS OF THE OTTOMAN EMPIRE, 1516-1918: A Social and Cultural History secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Dunia Arab dibawah Kekaisaran Ottoman, 1516-1918: Sejarah Sosial dan Budaya”. Buku ini ditulis Bruce Masters dan diterbitkan oleh  Cambridge University Press, New York Amerika Serikat pada bulan April 2013.

Buku dengan ketebalan sebanyak 276 halaman ini mempunyai ISBN 978-1107619036 untuk versi cetak. Isi buku ini disusun menjadi 7 bab diluar bagian Pendahuluan dan bagian Kesimpulan. Buku ini juga dilengkapi dengan Daftar Pustaka dan Daftar Indeks.

Bruce Masters, penulis buku ini adalah seorang Professor bidang kajian sejarah di Wesleyan University, AS. Karya-karyanya yang telah dipublikasikan sebelum buku ini diantaranya adalah Christians and Jews in the Ottoman Arab World (2001); The Origins of Western Economic Dominance in the Middle East: Mercantilism and the Islamic Economy in Aleppo, 1600-1750 (1988); The Ottoman City between East and West, sebagai penulis kedua dengan Edhem Eldem dan Daniel Goffman (1999); Encyclopedia of the Ottoman Empire, sebagai penulis kedua bersama Gabor Agoston (2009); Kontributor pada The Cambridge History of Turkey (2006) dan The Cambridge History of Islam (2010); penulis berbagai artikel dan Bab dalam buku teredit.

Ottoman menguasai sebagian besar Dunia Arab selama empat abad. Survei yang dilakukan oleh Bruce Masters pada periode ini, menekankan perubahan budaya dan sosial yang terjadi dengan latar belakang realitas politik yang dialami orang Arab sebagai subyek sultan Ottoman. Kegigihan penguasa Ottoman di wilayah yang luas ini selama beberapa abad mengharuskan beberapa orang Arab berkolaborasi dalam perusahaan kekaisaran itu.

Masters menyoroti peran dua kelas sosial yang membuat kekaisaran itu menjadi sukses: para ilmuwan agama Muslim Sunni, ulama, dan tokoh-tokoh kota, a’yan. Kedua kelompok tersebut diidentifikasikan dengan kesultanan Ottoman dan merupakan pendukungnya yang paling kuat, walaupun dengan alasan yang berbeda.

Ulama melegitimasi kekaisaran Ottoman sebagai kesultanan Muslim yang benar, sementara  para a’yan muncul sebagai kelas politik dan ekonomi yang dominan di sebagian besar kota-kota Arab karena hubungannya dengan penguasa. Bersama-sama, keduanya membantu mempertahankan kekaisaran tersebut.

 

Ulasan Buku Ini

Berikut adalah ulasan terhadap buku ini yang diberikan oleh David Mason, PhD, seorang akademisi dari Zayed University. Abu Dhabi, UAE. Ulasan ini dimuat dalam Middle East Media and Book Reviews, volume 2, edisi 5 Mei 2014.

Buku terbaru Bruce Masters, The Arabs of the Ottoman Empire, 1516-1918: A Social and Cultural History, adalah analisis yang sangat baik tentang orang-orang Arab di Kekhalifahan Ottoman dimulai sejak dari kemenangan Selim I dalam Pertempuran Marj Dabiq dan selanjutnya berpindah ke tanah Arab sampai berakhir pada perang Perang Dunia I dan pembagian wilatah Ottoman.

Masters, yang saat ini adalah Profesor Sejarah John Andrus di Wesleyan University, menyatakan bahwa dia memulai studinya tentang wilayah Arab Ottoman “dengan sungguh-sungguh” tiga puluh tujuh tahun yang lalu. Dalam karya ini, Masters menunjukkan kedalaman dan keluasan pengetahuannya yang luar biasa di bidang ini dan, sebagai hasilnya, teks ini merupakan tambahan yang sangat baik untuk keilmuan.

Dalam tujuh bab setelah bagian Pendahuluan, Masters membahas: Pendirian dan Kelangsungan hidup Pemerintahan Ottoman di tanah Arab (bab 1); Institusi Pemerintahan Ottoman (bab 2); Ekonomi dan Masyarakat diawal era Modern (bab 3); Ilmuwan dan Orang-orang Suci (bab 4); Perang Melawan Napoleon, Wahhabi, dan Mehmed Ali (bab 5); Tanzimat (bab 6); dan Akhir Hubungan (bab 7). Dalam bab-bab ini, Masters dengan tangkas menjelaskan nuansa pemerintahan Ottoman di wilayah Arab.

Masters memulai bukunya dengan analisis historiografi Arab pada periode tersebut. Dia menegaskan bahwa sejarawan Arab di abad kedua puluh “jarang mempresentasikan periode Ottoman secara positif.” Faktanya, sampai tahun 1970-an, para sejarawan ini mengemukakan narasi tuan-budak yang melaluinya mereka menjelaskan periode dari Mongol (1258) sampai ke Nasser (halaman 2).

Selama tahun 1970an, Masters menjelaskan bahwa sejarawan Arab mulai mengembangkan “pemahaman yang lebih bernuansa” tentang pemerintahan Ottoman atas tanah Arab (halaman 3). Dengan menggunakan sumber-sumber baru ini, Masters mampu memperluas pemahaman akademis tentang tanah Arab yang diduduki Ottoman melalui karya Holt (Egypt and the Fertile Crescent 1616-1922 [1966]) dan murid Holt, Rafeq (al-‘Arab wa al-‘uthmaniyyun, 1516-1916 [1974]).

Hal yang lebih penting bagi Masters adalah bahwa dia menjawab pertanyaan apakah “pengecualian Arab” ada selama periode Ottoman. Berdasarkan fakta bahwa provinsi-provinsi Arab Istanbul “tidak dapat dibedakan secara politis” dengan provinsi-provinsi lain, namun Masters menemukan bahwa ada pengecualian dalam hal budaya. Sebagai Muslim, orang Arab berbagi aspek-aspek budaya tertentu dan dikeluarkan dari sistem devithirme Ottoman -pungutan kecil yang dibayarkan oleh orang Kristen Balkan dan Anatolia.

Contoh lain dari revisi pemahaman akademis diberikan oleh diskusi Masters tentang a’yan. Kategori a’yan telah diterima secara luas oleh sejarawan Ottoman sejak Hourani melabeli mereka sebagai “tokoh-tokoh” pada tahun 1968.

Masters, menemukan bahwa kategori ini terlalu luas sehingga kurang bermakna. Ia menambah nuansa dan fokus pada kategori ini dengan menunjukkan bahwa sebenarnya ada tingkatan-tingkatan dalam a’yan.

Beberapa a’yan memegang kekuasaan politik, namun tidak memiliki status sosial yang sama, terbukti dengan fakta bahwa a’yan lain tidak akan menikahkan anak perempuannya  kepada mereka.

Setelah membahas tentang berbagai tingkat yang berbeda dalam kategori a’yan, Masters menyarankan bahwa mungkin para penulis sejarah saat itu “dianggap sebagai suara bagi a’yan sejati” (halaman 86).

Melalui karya ini, Masters melakukan pekerjaan yang baik dengan menjelaskan nuansa identitas, gubernur dan hakim di provinsi-provinsi Arab, serikat pekerja, dan institusi-institusi Ottoman lainnya.

Pada saat yang sama, Masters menghadirkan tema istimewanya tentang pengecualian Arab. Ini terkadang dia lakukan dengan cara yang sangat menarik dan memprovokasi. Contoh dari ini terlihat pada pembahasannya tentang para ilmuwan dan sufi. Sufi memainkan peran dalam pemerintahan Ottoman sejak awal.

Masters menjelaskan bahwa sejak dari pertempuran awal yang menyebabkan penaklukan tanah Arab, Pertempuran Marj Dabiq, para Sufi telah terlibat. Di satu sisi, Sultan Mamluk, al-Ghawri didampingi oleh pemuka  aliran sufi Badawiyya, Rifa’iyya, dan Qadiriyya (aliran sufi paling penting di Mesir pada saat itu). Sementara di sisi lain, Sultan Selim I telah bersama perwakilannya di aliran Bektaşi – yang populer dengan pasukan janissary-nya – dan aliran Mevlevi.

Daya tarik terhadap agama ini penting bagi Selim karena dia telah menegosiasikan sebuah perubahan dalam kebijakan ekspansi Ottoman, yang saat itu telah banyak berkembang masuk ke Anatolia dan Eropa Timur.

Hubungan Selim dengan para Sufi tidak berakhir hanya di sini. Masters menggambarkan sebuah ramalan yang menarik mengenai mistik sufi terkenal, al-‘Arabi, yang meninggal di Damaskus pada 1240 dan menjadi “tokoh dengan status kultus dalam periode Ottoman” (hal 115).

Salah satu tindakan pertama Selim saat memasuki Damaskus adalah mengunjungi makam al-‘Arabi. Menurut Evliyya Çelebi, yang menulis lebih dari satu setengah abad setelah kejadian tersebut, Selim tidak yakin apakah akan mengejar Mamluk ke Mesir atau tidak. Pada saat dalam keraguan itu, al-‘Arabi menampakkan diri pada Selim dalam mimpi dan berjanji kepadanya bahwa dia akan membawa Kairo jika dia memperbaiki makamnya.

Cerita lain dari sebuah teks apokrif tentang hubungan antara Selim I dan al-‘Arabi adalah bahwa al-‘Arabi sendiri telah meramalkan perbaikan makamnya dengan mengatakan, ”Ketika huruf Sin memasuki huruf Shin, makam ibn al-‘Arabi akan muncul” (halaman 117). Ini dipahami bahwa Sin singkatan untuk Selim sementara Shin berarti Syam (Damaskus dalam bahasa Arab).

Terkadang menghibur, seperti yang dibuktikan dengan contoh di atas, di lain waktu memberikan revisi, namun selalu mendidik, The Arabs of the Ottoman Empire, 1516-1918 adalah tambahan yang bagus untuk keilmuan. Ini adalah teks yang akan dinikmati dan dihargai oleh para ilmuwan Timur Tengah dan tentunya merupakan teks yang harus ada di perpustakaan universitas. Buku ini akan berada dalam daftar pembacaan materi kuliah – ini pasti menjadi salah satu yang akan saya gunakan dalam mata kuliah sejarah Ottoman saya.

 

Sumber: http://middleeastreviewsonline.com

 

           

 

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *