Trump, Penggila Drone yang Kecanduan Perang

Di kala media arus utama tidak pernah berfokus pada topic seputar intervensi AS saat ini di Timur Tengah, pemerintahan Trump memecahkan rekor dengan mengumpulkan sejumlah angka kematian warga sipil hingga mencapai jumlah yang mengerikan.

Mantan Presiden Obama mendapat julukan “Raja Drone ” saat dia secara dramatis meningkatkan penggunaan serangan drone, di samping juga bersikap meremehkan terhadap jumlah warga sipil tak berdosa yang menjadi korban. Dalam dua tahun masa Obama menjalankan perang melawan ISIS, ia telang menghabiskan uang jutaan dollar milik para pembayar pajak, perkiraan jumlah korban tewas warga sipil berkisar antara 2.300 sampai 3.400, menurut Airwars, sebuah organisasi yang meneliti angka kematian dalam perang melawan ISIS.

Presiden Trump baru berada di Gedung Putih selama 9 bulan, dan dia telah melampaui rekor pembunuhan Obama dengan jumlah perkiraan sekira 4.500 kematian warga sipil.

Trump menjadi berita utama pada bulan Desember 2015, ketika dia menyatakan bahwa jika terpilih, dia tidak hanya akan membunuh anggota ISIS, dia juga akan “menghabisi keluarga mereka.” Kini, ia sedang menepati janji tersebut, menurut sebuah laporan dari Steven Feldstein, mantan Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS.

Feldstein mencatat bahwa para periset telah mendokumentasikan peningkatan “seringnya pembunuhan seluruh anggota keluarga dalam kemungkinan serangan udara yang dilakukan oleh pasukan koalisi” di masa pemerintahan Trump. Tren ini menyebabkan “kematian setidaknya 57 wanita dan 52 anak di Irak dan Suriah” pada bulan Mei 2017.

(Baca juga: Amerika Membunuh Rakyat Sipil Untuk Kembali Menjadi Hebat)

Meskipun hal ini tidak mengherankan, mengingat fakta bahwa Trump berjanji untuk “membom ISIS habis-habisan” pada masa kampanye, serangan pemerintahnya terhadap ISIS bukanlah satu-satunya perang yang sedang berlangsung, yang membunuh warga sipil.

Menurut sebuah laporan dari United Nations Assistance Mission in Afghanistan yang mendokumentasikan kematian korban sipil selama paruh pertama tahun 2017, operasi serangan udara AS dan koalisi menyebabkan “peningkatan korban sipil sebesar 43 persen dibandingkan dengan enam bulan pertama tahun 2016, termasuk kenaikan 67 persen pada kematian warga sipil.”

Sembari Trump membual tentang memberi komandan militer “otorisas total” untuk membuat keputusan tempur di Afghanistan, anggota senat dari Washington, Adam Smith mengatakan bahwa dia yakin bahwa langkah itu telah menjadi sebab peningkatan kematian warga sipil.

“Anda benar-benar menjalankan “keputusan di tangan militer” yang sengaja dirancang oleh otoritas sipil yang menjalankan militer,” kata Smith. “Kita telah melihat peningkatan jumlah korban sipil. … Saya pikir mereka telah menjadi sedikit terlalu ngawur dalam apa yang mereka lakukan.”

Laporan dari Feldstein mencatat bahwa pemerintahan Trump telah secara substansial meningkatkan serangan udara dan pemboman, dan militer AS telah menggunakan rudal dan bom 20 persen lebih banyak dalam operasi gabungan udara pada tahun 2017 daripada di tahun 2016.

Jumlah korban tewas warga sipil yang sangat tinggi terus meningkat selama berbulan-bulan. Misalnya, dari tanggal 23 sampai 23 Juni 2017, setidaknya 472 warga sipil terbunuh oleh serangan udara AS. Jumlah tersebut adalah lebih banyak dari 459 warga sipil yang telah terbunuh oleh serangan teroris di Eropa dalam 12 tahun terakhir.

Sebuah argumen berujar bahwa tindakan Trump ini juga akan dilakukan oleh Hillary Clinton, jika Hillary terpilih. Pertanyaan yang harus diajukan adalah bagaimana seseorang bisa membenarkan kekejian menjadi pembunuh nomer wahid warga sipil yang tidak berdosa.

Obama melampaui rekor Bush, dan sekarang Trump telah melampaui rekor Obama – tapi satu-satunya hal yang benar-benar telah “dicapai” adalah bahwa ribuan warga sipil yang tidak berdosa telah kehilangan nyawa mereka, ratusan ribu warga sipil telah kehilangan rumah dan komunitas mereka, dan warga sipil yang bertahan di negara-negara yang ditargetkan Amerika Serikat sekarang, akan tumbuh membenci Amerika karena menghancurkan rumah mereka atas nama “kebebasan.”

 

Sumber: www.activistpost.com