The Art of War Era Khalifah Al-Makmun

Judul           : Mukhtashar Siyasah Al-Hurub

Penulis        : Al-Hartsami

Editor          : Abdurrauf ‘Aun

Penerbit       : Kementrian Budaya dan Penerangan Nasional Mesir

Tahun          : 1964

Halaman      : 71

 

Sangat sedikit dari kalangan para panglima dan prajurit Islam yang penuh antusias menulis sendiri sebuah buku tentang dunia militer, yang di sana mereka merekam pengalaman-pengalaman dan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil dari aktivitas mereka dalam dunia militer. Baik mereka sebagai panglima dalam suatu operasi pembebasan suatu negeri, atau sebagai prajurit di  berbagai operasi militer yang mereka ikuti.

Sayangnya lagi, dari sekian panglima perang Islam yang menulis tersebut, sangat sedikit yang karyanya dapat dijumpai pada hari ini. Barang kali di antara faktor penyebabnya adalah berbagai badai ujian dan cobaan yang menerpa umat Islam sehingga di antaranya terbakar dan hilangnya banyak warisan tulisan yang dimiliki mereka. Walaupun ada di antara warisan intelektual tersebut yang terselamatkan hingga hari ini, namun ia tetap ‘tertahan’ dalam  tumpukan perbendaharaan-perbendaharaan  manuskrip.

Bahkan warisan intelektual yang tersedia tersebut, saat ini, terbatas pada pidato, keputusan dan arahan yang dikaitkan dengan para panglima perang yang membawa panji-panji Islam di berbagai belahan negeri timur dan barat. Buku “Mukhtashar Siyasah Al Huruub” (Ringkasan Politik/Kebijakan Perang) karya Al Hartsami adalah di antara bukti di atas.

Buku ini pada awalnya ditulis untuk ditujukan kepada Khalifah Al-Ma’mun Abdullah bin Harun Al-Rasyid (170-218 H/786-833 M). Artinya, buku itu ditulis sekitar 1200 tahun yang lalu. Al-Ma’mun dikenal karena peperangannya melawan Bizantium dan perhatiannya pada sains dan ulama (para ilmuwan).

Muhaqqiq (editor) buku tersebut menulis bahwa buku tersebut merupakan ringkasan dari sebuah buku besar yang berjudul “Al-Hiyal fi Al-Huruub” (Trik-Trik dalam Perang), sebuah buku yang tidak lagi dijumpai sekarang, dan kemungkinan besar hilang pada masa invasi bangsa Tatar ke Baghdad. Ada kemungkinan buku tersebut (Mukhtashar Siyasah Al-Huruub) ditulis oleh orang lain; bukan penulis buku aslinya, Al-Hartsami.

Editor buku tersebut mengatakan bahwa Al-Hartsami bernama Abu Sa’id Al-Sya’rani, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al-Fahrasat  karya Ibnu An-Nadim. Dia juga mengatakan bahwa tidak dijumpai apa pun terkait biografi dari penulis buku tersebut. Dia juga menambahkan bahwa nama Al-Hartsami disandarkan berdasarkan wala’ (mantan budak) Hartsaman bin A’yun ( sekitar 200 H/816 M) yang merupakan salah satu panglima Ar-Rasyid. Atau bisa juga Al-Hartsami merupakan salah satu anak dari Hartsamah, atau kemungkinan lainnya.

Terlepas dari itu semua, Al-Hartsami adalah seorang panglima militer dan pemikir Islam yang hebat. Pandangan-pandangan militernya pantas untuk dijadikan objek studi dan penelitian. Bukunya tidak kalah berharga dan urgensinya secara militer tidak kalah penting daripada buku “The Art of War” oleh seorang panglima dan pemikir Cina Sun Tzu, yang ia tulis sekitar 2500 tahun yang lalu; yang banyak dipuji oleh banyak lembaga militer dan para penulis.

Buku “Mukhtashar Siyasah Al-Huruub” terdiri dari sekitar 70-an halaman dan terbagi menjadi 40 halaman bab, seperti yang penulis katakan. Penulis buku tersebut menambahkan bahwa masing-masing bab tersebut diberi judul agar pembacanya bisa melihat dan mengetahui maksud dari bab tersebut. Perlu dicatat bahwa bab-bab dari buku ini mencakup banyak topik militer.

Penulisnya memulai dengan urgensi takwa kepada Allah SWT pada bab pertama, dan juga selalu menaati-Nya. Buku ini lalu membahas kualifikasi-kualifasi seorang pemimpin (panglima perang); urgensi sikap waspada dan bermusyawarah; intelijen dan mata-mata; taktik dan  gerakan militer; persoalan pengintaian, penyergapan, bayat (serangan malam secara tiba-tiba);  dosa, kejahatan dan hukuman (peradilan militer); serta pesoalan penting lainnya.

Pada bab ke-40, penulis mengakhiri bukunya dengan sebuah penutup yang menarik terkait perbedaan ilmu militer apa saja yang dibutuhkan oleh para militer dan pelatih berdasarkan perbedaan pandangan aliran-aliran militer yang ada.

Penulis buku tersebut tidak melupakan pengaruh kontur permukaan bumi dan kondisi cuaca terhadap operasi militer, yang sekarang dikenal sebagai geografi militer. Pada bab ke-15 yang berjudul, “Berhati-Hati Saat Berhenti dan Menetap di Suatu Tempat”, penulisnya memulainya dengan mengatakan, “Mereka (yang berpengalaman) berkata, ‘Janganlah Anda sekali-kali menempati suatu posisi dari musuhmu hingga Anda mengetahui (keadaan) tempat tersebut; seperti memiliki persediaan air, kayu bakar,  dan memungkinkan untuk buang air. Sehingga jika Anda ingin maju (menyerang) ke arah musuh Anda mampu melakukannya, dan jika Anda ingin menundanya Anda juga bisa melakukannya. Usahakanlah  belakang pasukan Anda berperisaikan pegunungan, anak-anak bukit, sungai dan sejenisnya, serta dari setiap tempat yang aman dari penyergapan dan penyerangan malam secara tiba-tiba.”

Dengan demikian penulisnya menekankan satu prinsip penting yaitu mengetahui (kondisi) suatu tempat sebelum berhenti dan menetap di sana. Sebagaimana ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan fitur alami yang ada seperti perbukitan dan sungai sebagai perisai alami yang bisa mengamankan dari serangan musuh. Penulisnya juga menganjurkan dalam bab ini untuk menggali parit, dan tampaknya hal ini dimaksudkan untuk tempat khusus mengumpulkan para ahli dan jajaran tentara dan untuk mengamankan logistik. Dia juga menekankan pentingnya patrol-patroli penjagaan dan pengintaian.

Bab ke-16 penulis memberi judul dengan, “Memilih Tempat Memosisikan Pasukan untuk Berperang.” Ini adalah bagian terpenting dari buku ini tentang geografi militer, dan bahkan bagian terpenting dari buku ini pada umumnya,  karena mengkaji posisi perang.

Ketika posisi pasukan saat perang diatur dengan rapi saat menghadapi barisan pasukan musuh, penulisnya mengatakan, “Mereka menasehati, ‘Usahakanlah belakang pasukan Anda ketika berperang bersandar pada tempat yang aman dari celah yang bisa dimanfaatkan musuh dan dari serangan mereka. Usahakanlah posisi pasukan inti berada di perbukitan atau dataran tinggi atau sejenisnya dari tanah yang padat; yang tidak lembek dan tidak juga berdebu.”

Dari sana jelaslah pentingnya ketepatan dalam memilih kontur tanah yang gembur dan basah sehingga menghambat pergerakan, namun tanah tersebut harus stabil dan padat. Tanah tersebut juga bukan tanah berpasir yang menimbulkan debu, yang mempengaruhi pernapasan dan membatasi penglihatan.

Penulisnya juga menambahkan satu persoalan penting terkait kondisi cuaca, di mana ia menulis, “Carilah arah angin dan matahari yang berada di belakang punggung Anda. Jika Anda tidak dapat melakukan (kedua)nya, usahakanlah agar angin (bertiup dari arah belakang Anda) dengan trik apa pun. Jika itu juga tidak memungkinkan, ubahlah posisi pasukan Anda dalam menghadapi angin tersebut. Carilah agar aliran angin tersebut dari sebelah kanan (barisan pasukan) Anda menuju kiri (barisan pasukan) musuh Anda.”

Dengan demikian, ia telah menghasung untuk tidak berhadapan dengan sinar matahari dan menjadikan pihak musuh lah yang berhadapan dengannya. Inilah yang terjadi dalam perang pada Ramadhan tahun 1973, di mana pasukan Arab menetapkan jam nol pada saat pasukan Israel di timur menghadap sinar matahari di barat. Sebagaima seorang panglima juga bekerja sebisa mungkin untuk tidak melawan arah angin yang bisa mengurangi pergerakan dengan adanya debu. Selain itu, penulis juga tidak mengabaikan  usulan alternatif jika hal itu tidak dapat dilaksanakan.

Dalam bab ke-22 yang berjudul “Momosisikan Kuda yang Telah Dipersiapkan Pada Lokasi-Lokasinya  dalam Lima Kondisi” ia memperingatkan perlunya kehadiran kekuatan untuk mencari musuh atau bahaya apapun (peristiwa yang tidak diinginkan),  urgensi kekuatan pasukan pengintai berita tentang musuh di berbagai tempat seperti pegunungan, dataran rendah dan rawa-rawa yang memungkinkan mereka melakukan pemantauan terhadap musuh dan pencegahan terhadap suatu bahaya. Dalam hal ini penulisnya mengatakan,  “Mereka berkata, ‘Pastikan kuda-kuda untuk mencegah bahaya yang tidak diinginkan  dan kuda-kuda pengintai pada posisi-posinya. Hal ini untuk menguasai daerah pegunungan, benteng-benteng dan daerah yang rimbun oleh pepohonan terdekat. Selain juga untuk memotong bantuan logistik musuh dan untuk mencegah penyergapan  militer militer …”.

Penulis juga menyebutkan lokasi pasukan pengintai, bagaimana mendistribusikan kekuatan untuk memastikan keberhasilan misi pengintaian sehingga data intelijen yang diperlukan dapat sampai pada kekuatan-kekuatan terpercaya dengan cara apapun. Yaitu dengan berkonsentrasi di dataran tinggi, dan ia menyarankan supaya rute yang dilewati pasukan pengintai adalah jalan datar yang keras. Ini agar bekas kuda-kuda mereka  tidak mengepulkan debu di udara, atau meninggalkan jejak-jejak kuda mereka akan tertinggal di atas tanah, sehingga hal ini bisa dijadikan petunjuk pada lokasi mereka oleh kekuatan-kekuatan yang akan mengejar mereka, serta menyebabkan kegagalan misi pengintaian tersebut. Pada bab ke-27 yang diberi judul “Pasukan Pengintai dan Menajemennya” penulisnya mengatakan, ” … Hendaknya rute dan jalan yang mereka lalui adalah tanah datar yang keras, yaitu tanah yang tidak berdebu dan menyulitkan (pergerakan), kecuali dalam kondisi darurat …”

Penulis lalu kembali menasehati dan memberikan arahan dalam hal memanfaatkan kondisi cuaca. Demikian itu disebutkan pada bab ke-28 yang diberi judul “Penyerangan dan Manajemennya” dimana ia merekomendasikan agar waktu keberangkatan kekuatan penggempur pada saat musuh tidak memprediksikannya, seperti pada saat cuaca yang sangat panas atau sangat dingin sehingga hal itu bisa merealisasikan unsur surprise yang sesuai dengan pasal tentang  konfrontasi dan pertempuran. Hal itu tampak dalam statemennya, “Hendaknya saat muncul (penyerangan), mereka sebisa mungkin dilakukan pada waktu pagi ketika musuh mereka lalai, ketika musuh turun dari tunggangan mereka dan mengistirahatkannya, pada saat terpanas  di musim panas, dan saat terdingin di musim dingin”.

Penulis mengutarakan pendapatnya tentang benteng-benteng pertahanan pada bab ke-34 yang berjudul, ‘Membangun Benteng-Benteng’. Penulis menulis, “Mereka (ahli perang) mengatakan, ‘Benteng bukan hanya suatu bangunan kokoh yang dibangun dinding mengelilinginya, namun benteng mencakup benteng dan daerah ranjau darat, pegunungan, perairan, kota, parit, pasir, lumpur, genangan air serta laut. Semua ini dan sejenisnya merupakan  benteng dan daerah pertahanan.”

Ini berarti bahwa sangat memungkinkan untuk memanfaatkan halangan dan hambatan alami seperti penggalian terowongan bawah tanah, termasuk gudang, sejenis benteng, dan sejumlah  pepohonan di tengah-tengah area lahan terbuka, serta daerah-daerah bukan pertanian yang ditumbuhi  pepohonan yang padat. Inilah yang juga diajarkan dalam ilmu pengetahuan militer modern yang memanfaatkan kontur-kontur alami dan buatan sebagaimana yang disinggung oleh penulis sebagai benteng-benteng yang kokoh.

Dari pemaparan sebelumnya jelaslah bahwa penulis buku ini adalah seorang profesional yang berpengalaman, panglima perang yang sering memenangkan pertempuran yang mampu memimpin berbagai ekspedisi dengan berhasil. Dia telah menempuh perjalanan yang jauh ke Mesir dan beberapa Front Afrika Utara lainnya, yang jaraknya sangat jauh dari Baghdad, ibu kota khilafah. Hal ini untuk menoreh kemenangan yang tercatat untuk militer Islam sebagai aliran seni perang yang otentik berakar dari agama Islam.

Buku ini direkomendasikan untuk dicetak ulang atau dipublikasikan di Internet agar  generasi hari ini, kaum militer muda, para pemuda yang memiliki perhatian, dan generasi yang akan datang dapat membaca dan menalaahnya. Dalam buku tersebut terdapat  hikmah, nasehat, pelajaran dan pengalaman.

Di samping itu, penting untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa berbagai dunia terutama bahasa Inggris. Karena hal ini merupakan di antara bentuk menyebarkan warisan Arab-Islam pada kalangan umat Islam yang non-Arab, dan di antara bangsa dan umat lainnya. Sebab buku pemikir China (Sun Zu) sebagaimana yang disebutkan di depan tidaklah menyebar kecuali setelah diterjemahankan dari bahasa ibunya, yaitu bahasa China.

 

Sumber: http://midad.com