Napak Tilas Jejak Mujahidin Uighur di Suriah

Saat itu akhir 2009, dan Xinjiang sedang dalam isolasi dan pemblokiran. Empat bulan sebelumnya, ratusan orang Uighur bereaksi atas penindasan Pemerintah Cina. Mereka pun dituding melakukan kerusuhan dan menyerang kelompok etnis Han di Urumqi, ibu kota Xinjiang. Diperkirakan 200 orang tewas dalam kerusuhan malam itu; konflik antaretnis paling berdarah yang disaksikan Cina dalam beberapa dasawarsa. Peristiwa ini menjadi titik awal yang membawa perubahan dalam kehidupan Ali dan 10 juta warga Uighur di Xinjiang.

Pemerintah Cina merasa kecolongan oleh kerusuhan tersebut. Digelarlah program penanggulangan keamanan ekspansif dan program pengawasan ketat di wilayah Xinjiang, yang dipercepat setahun lalu. Ribuan orang Uighur—termasuk kalangan intelektual Uighur yang dinilai moderat—diyakini telah ditangkap atau ditahan, bahkan ada yang tidak diadili.

Ali, pemuda Uighur yang diceritakan dalam tulisan sebelumnya, termasuk yang ditangkap dan diinterogasi dengan siksaan. Akhirnya orang tua Ali berhasil membebaskannya dari penahanan, tetapi mereka harus mengeluarkan uang 10.000 yuan ($1.500) untuk menyuap pejabat setempat; jumlah yang tidak kecil untuk keluarga petani.

Meski dibebaskan, Ali tidak benar-benar bebas. Ali terus-menerus dihadang dan ditanyai ke mana saja ia pergi. Ia tidak bisa checkin di hotel, membeli tiket kereta api, atau mendapatkan paspor. “Saya tidak punya tempat untuk pergi,” katanya, “Kecuali (kabur) ke luar (negeri).”

(Baca juga: Muslim Uighur, Dari Tindakan Represif China Hingga Berjihad ke Suriah)

Seiring meningkatnya represi, apa yang semula hanya segelintir warga Uighur yang kabur dari Cina tumbuh menjadi eksodus massal. Pada tahun 2013, lebih dari 10 ribu orang meninggalkan perbatasan selatan Cina yang—menurut orang-orang Uighur di perantauan—punya banyak celah. Hampir semua Uighur yang diwawancarai kantor berita Associated Press (AP), yang pernah ke Suriah dan kembali ke Turki, menceritakan bahwa penganiayaan oleh pihak berwenang Cina mendorong mereka untuk mengangkat senjata.

“Pemerintah Cina telah menuduh warga Uighur sebagai orang-orang militan sejak lama, ketika tidak banyak ancaman,” kata Sean R. Roberts, pakar persoalan Uighur di Universitas George Washington. “HaI itu berubah setelah tindakan keras pada tahun 2009. Militansi Ughur pun menjadi ramalan yang diwujudkan sendiri (oleh Pemerintah Cina).”

Seperti Ali, Rozi Mehmet ingin melakukan sesuatu untuk membantu bangsanya melawan penindasan Cina. Kakeknya, seorang petani Uighur yang cukup kaya, telah dieksekusi dalam keributan Revolusi Kebudayaan Cina pada tahun 1960-an.

Tiga tahun yang lalu, Rozi Mehmet meninggalkan kota oasis kuno Hotan dan menjejakkan kaki di Suriah untuk mengikuti kelas pelatihan bersama 52 kader Turkistan Islamic Party (TIP). Dalam enam bulan, dia akan berada di garis depan dengan peluncur granat roket yang diikat di punggungnya dan bergerak ke posisi pihak rezim Assad di dekat kota Jisr Al-Shughour.

 

Baca halaman selanjutnya: Dari Istanbul ke Jisr Al-Shughour

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *