Memetakan Lokasi War on Terror Amerika

Dia meninggalkan Boeing C-32, dan tanpa pemberitahuan, penuh rahasia, menerbangkan pesawat transport C-17 tanpa kawalan ke Pangkalan Udara Bagram, garnisun Amerika terbesar di Afghanistan. Semua berita tentang kunjungannya ditutup rapat sampai satu jam sebelum dia berangkat ke negara tersebut.

Lebih dari 16 tahun setelah invasi Amerika untuk “membebaskan” Afghanistan, dia berada di sana untuk menawarkan kabar baik kepada kontingen pasukan AS sekali lagi tentang peningkatan jumlah. Sebelumnya, bendera Amerika setinggi 40 kaki, mengawali kedatangan 500 tentara Amerika.

Wakil Presiden Mike Pence memuji mereka sebagai satu-satunya kekuatan terbesar di dunia yang membela kebaikan. Membual bahwa serangan udara Amerika baru-baru ini meningkat secara dramatis, bersumpah bahwa negara mereka “berada di sana untuk tinggal “, dan menegaskan bahwa kemenangan lebih dekat dari sebelumnya. Namun, seperti yang dicatat oleh pengamat, para audiens mendengarkan dengan tunduk. (Beberapa tentara berdiri dengan lengan disilangkan atau tangan mereka terlipat di belakang punggung mereka dan mendengarkannya, tapi tidak bertepuk tangan).

Anggap ini sebagai episode terakhir dalam dongeng geopolitik terbalik, sebuah cerita suram, bukan kisah yang indah, untuk zaman kita yang mungkin dimulai: Dahulu kala, tepatnya pada Oktober 2001, Washington meluncurkan perangnya melawan teror.

Saat itu hanya ada satu negara yang menjadi sasaran, yaitu di mana, pada lebih dari satu dekade sebelumnya, AS telah mengakhiri perang proxy yang panjang melawan Uni Soviet, yang mana AS telah mendanai, mempersenjatai, atau mendukung kelompok fundamentalis ekstrem Islam, termasuk seorang pemuda kaya Saudi dengan nama Osama bin Laden.

Pada tahun 2001, saat mulainya perang melawan teror tersebut, yang juga berandil membantu Uni Soviet ke jalan menuju kehancuran, Afghanistan sebagian besar (tapi tidak sepenuhnya) diperintah oleh Taliban. Osama bin Laden juga ada di sana, dengan ikatan kelompok yang relatif sederhana.

Pada awal 2002, dia telah melarikan diri ke Pakistan, meninggalkan banyak rekannya yang meninggal dan organisasinya, al-Qaeda, dalam keadaan berantakan. Taliban, yang dikalahkan, memohon untuk diizinkan meletakkan senjata mereka dan kembali ke desa mereka, sebuah proses yang gagal yang secara gamblang digambarkan Anand Gopal dalam bukunya, No Good Men Among the Living.

Memang, sepertinya, semuanya sudah terjadi, tentu saja, perencanaan yang lebih besar dibutuhkan di seluruh wilayah ini. Sebagai pejabat puncak dalam pemerintahan AS, Presiden George W. Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney adalah pemimpi geopolitik dari orde pertama yang tidak memiliki gagasan yang lebih luas tentang bagaimana cara memperpanjang keberhasilan untuk melawan kelompok teror atau gerilyawan di lebih dari 60 negara.

Presiden Bush menekankan kembali sembilan bulan kemudian dalam pidato kelulusan di West Point. Pada saat itu, perjuangan yang mereka lakukan dengan cepat, yang dijuluki Global War on Terrorism masih merupakan urusan satu negara. Namun, mereka sudah dalam persiapan untuk memperluasnya dengan cara yang lebih radikal dan menghancurkan lebih daripada yang bisa mereka bayangkan dengan invasi dan pendudukan Irak dan dominasi di jantung minyak di planet ini. Dalam sebuah komentar, Newsweek mengutip seorang pejabat Inggris yang dekat dengan orang-orang Bush, yang mengatakan, “Semua orang ingin pergi ke Baghdad. Tapi manusia sejati ingin pergi ke Teheran.”

Bertahun-tahun kemudian, mungkin ini tidak akan mengejutkan Anda, sebagaimana juga tidak akan mengejutkan ratusan ribu pemrotes yang turun di jalanan kota-kota Amerika pada awal tahun 2003 untuk menentang invasi ke Irak, bahwa ini adalah salah satu cerita tentang terwujudnya pepatah“hati-hatilah terhadap apa yang anda harapkan”.
Melihat perang

Dan ini adalah kisah yang belum berakhir. Tentu saja. Sebagai permulaan, di era Trump, perang terpanjang dalam sejarah Amerika, di Afghanistan, akan menjadi semakin lama. Ada peningkatan jumlah pasukan AS; serangan udara yang meningkat; Taliban mengendalikan bagian-bagian penting negara ini; sebuah kelompok teror bermerek Islamic State yang menyebar di wilayah timurnya; dan, menurut laporan terbaru dari Pentagon, terdapat lebih dari 20 kelompok teroris atau gerilyawan di Afghanistan dan Pakistan.”

Pikirkan itu: 20 kelompok. Dengan kata lain, bertahun-tahun kemudian, perang melawan teror harus dilihat seolah sebagai latihan tanpa henti dalam penggunaan tabel perkalian, dan tidak hanya di Afghanistan saja.

Lebih dari satu setengah dekade setelah seorang presiden Amerika berbicara tentang 60 atau lebih negara sebagai target potensial, berkat kerja dari satu kelompok peneliti, the Costs of War Project oleh Watson Institute for International and Public Affairs dari Brown University, akhirnya kami memiliki representasi visual dari kondisi sebenarnya dalam perang melawan teror. Masa tunggu yang lama telah memberi tahu kita sesuatu tentang sifat dari perang permanen ini.

The Costs of War Project tidak hanya menghasilkan peta perang melawan teror, 2015-2017, tapi ini merupakan peta pertama dari jenisnya yang pernah ada. Ini menawarkan penglihatan yang menakjubkan tentang perang kontra-teror Washington di seluruh dunia: penyebaran mereka, penempatan pasukan AS, misi yang meluas untuk melatih pasukan kontra-teror asing, pangkalan Amerika yang mendukung mereka, serangan pesawat tak berawak dan serangan udara lainnya yang penting bagi mereka, dan pasukan darat AS yang membantu mereka. (Kelompok teror tentu saja telah berubah dan berkembang sebagai bagian tak terpisahkan dari proses yang sama.)

Sekilas gambaran di peta memberitahu Anda bahwa perang melawan teror, serangkaian pertikaian yang semakin kompleks, sekarang merupakan fenomena yang sangat global. Ia membentang dari Filipina (dengan kelompok afiliasi ISIS yang baru saja melakukan kampanye hampir lima bulan yang menghancurkan Marawi, sebuah kota berpenduduk 300.000) melalui Asia Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika Utara, dan jauh ke dalam Afrika Barat dimana, baru-baru ini, empat anggota Baret Hijau tewas dalam sebuah penyergapan di Niger.

Tak kalah menakjubkannya , jumlah negara yang tersentuh oleh perang melawan terror yang dilancarkan Washington. Sekarang, the Costs of War Project mengidentifikasi tidak kurang dari 76 negara, 39% dari jumlah negara di planet ini, terlibat dalam konflik global tersebut. Itu berarti tempat-tempat seperti Afghanistan, Suriah, Irak, Yaman, Somalia, dan Libya, dimana kehadiran pesawat tak berawak AS atau serangan udara lainnya adalah pemandangan sehari-hari dan pasukan darat AS (seringkali pasukan Spesial Force) telah terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pertempuran.

Ini juga berarti negara-negara di mana AS terlibat sebagai pelatih militer lokal atau bahkan milisi dalam taktik kontra teror dan mereka yang memiliki basis yang sangat penting untuk serangkaian konflik yang berkembang ini. Peta ini telah membuat semuanya lebih jelas.

Dalam sebuah studi terpisah, yang dirilis pada bulan November, the Costs of War Project memperkirakan bahwa anggaran pada perang melawan teror (termasuk biaya di masa depan) telah mencapai angka 5,6 triliun dollar AS. Baru belakangan ini, Presiden Trump meningkatkan konflik tersebut, ia men-tweet angka yang lebih mengejutkan lagi, “Setelah dengan bodoh menghabiskan 7 triliun dollar AS di Timur Tengah, sekarang saatnya untuk mulai membangun kembali negara kita!” (The Cost of War memperkirakan bahwa “pembayaran bunga hutang di masa depan untuk pinjaman yang digunakan untuk perang kemungkinan akan menambah lebih dari 7,9 triliun dollar AS untuk utang nasional” pada pertengahan abad.)

Hal ini tampaknya tidak menarik untuk dikomentari oleh politisi Amerika, karena dalam tahun-tahun ini penilaian biaya uang dan korban perang sebagian besar dikeluarkan oleh sekelompok kecil ilmuwan dan aktivis. Perang melawan teror berjalan hampir tanpa perdebatan serius di negara ini mengenai akibat atau hasilnya. Jika dokumen yang dihasilkan oleh the Costs of War Project sebenarnya adalah “peta dari neraka”, ini juga merupakan peta skala penuh pertama dari perang ini yang pernah dihasilkan.

Pikirkan hal itu sejenak. Selama 16 tahun terakhir, rakyat Amerika, yang mendanai serangkaian konflik yang kompleks ini hingga menelan triliunan dolar, tidak memiliki satu peta pun dari perang yang dilakukan Washington.

Sebagian dari ini dapat dijelaskan oleh sifat dari “perang” tersebut. Tidak ada front, tidak ada tentara yang maju ke Berlin, tidak ada armada yang mendarat di tanah Jepang. Belum ada, seperti di Korea pada awal 1950-an, bahkan paralel untuk menyeberang. Dalam perang ini, tidak ada rencana yang jelas dan, setelah memasuki kota Baghdad pada tahun 2003, hanya sedikit kemajuan yang terjadi.

Sulit bahkan untuk memetakan bagian-bagian komponennya dan ketika Anda melakukannya gambar itu rumit dan hanya berdampak terbatas. Umumnya, , orang-orang, telah didemobilisasikan oleh semua cara di tahun-tahun ini, bahkan untuk sekadar mengikuti peperangan dan konflik tak berujung yang berada di bawah label perang melawan teror.

Pemetaan 2018 dan Seterusnya

Izinkan saya mengulangi mantra ini: pada suatu kali, hampir tujuh belas tahun yang lalu, hanya ada satu; sekarang, jumlahnya adalah 76 dan terus naik. Sementara itu, kota-kota besar telah berubah menjadi puing-puing; puluhan juta manusia telah mengungsi dari rumah mereka; jutaan manusia pengungsi terus melintasi perbatasan, meninggalkan tanah-tanah mereka; kelompok teror telah menjadi nama merek di beberapa bagian penting planet ini; dan Amerika terus melakukan invasi militer.

Ini harus dianggap sebagai jenis perang global yang benar-benar baru. Penting untuk mencoba membayangkan apa yang terjadi secara visual, karena kita menghadapi bencana baru, sebuah militerisasi planet yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Tidak peduli “keberhasilan” perang Washington, mulai dari invasi Afghanistan pada tahun 2001 hingga pengambilalihan Baghdad pada tahun 2003 hingga penghancuran “kekhalifahan” Islamic State baru-baru ini di Suriah dan Irak (atau sebagian besar lagi, karena pada saat ini Saat pesawat Amerika masih menjatuhkan bom dan menembakkan rudal di wilayah Suriah), konflik tampaknya hanya berubah bentuk dan terus bergulir.

Kita sekarang berada di era di mana militer AS adalah garda terdepan dari “kebijakan luar negeri Amerika” dan Departemen Luar Negeri telah dirampingkan secara radikal. Pasukan Operasi Khusus Amerika Serikat dikirim ke 149 negara pada 2017 saja dan AS memiliki begitu banyak tentara di banyak basis di begitu banyak tempat di Bumi sehingga Pentagon bahkan tidak dapat menjelaskan keberadaan 44.000 di antaranya. Mungkin, pada kenyataannya, tidak ada cara untuk benar-benar memetakan semua ini, meskipun ilustrasi dari the Costs of War Project adalah hasil yang dapat dilihat.

Melihat ke masa depan, mari kita berdoa untuk satu hal: bahwa orang-orang di the Costs of War Project memiliki banyak stamina. Karena memang demikian, pada tahun-tahun Trump (dan mungkin jauh ke depan), biaya perang hanya akan terus meningkat. Anggaran Pentagon pertama dari era Trump, yang disahkan dengan kebulatan suara oleh Kongres dan ditandatangani oleh presiden, adalah sebuah hal yang mengejutkan, 700 miliar dollar AS. Sementara itu, orang-orang militer terkemuka Amerika dan presiden, sambil meningkatkan konflik negara-negara tersebut dari Niger ke Yaman, Somalia ke Afghanistan, tampaknya masih akan mencari lebih banyak perang lagi untuk diluncurkan.

Dengan kata lain, pada tahun 2018 dan seterusnya, peta baru mungkin dibutuhkan hanya untuk memulai perang Amerika terbaru. Pertimbangkan, misalnya, sebuah laporan baru-baru ini di New York Times bahwa sekitar 2.000 pegawai Departemen Keamanan Dalam Negeri telah “dikirim ke lebih dari 70 negara di seluruh dunia,” untuk mencegah serangan teror. Dan begitulah yang terjadi di abad kedua puluh satu.

Jadi selamat datang di tahun 2018, tahun lain dari tahun-tahun berisi perang tanpa henti, dan sementara kita membicarakan masalah ini, sebuah peringatan kecil bagi para pemimpin kita: diberikan dalam 16 tahun terakhir, hati-hati dengan apa yang Anda inginkan.

Ada 76 Negara yang Bersinggungan dengan Perang Melawan Terorisme. Setara dengan 39% dari jumlah seluruh Negara di dunia. Dari 76 negara tersebut, 7 Negara merupakan wilayah operasi drone AS: Iraq, Suriah, Afghanistan, Pakistan, Libya, Yaman, Somalia. 15 negara merupakan wilayah operasi pasukan darat AS. 44 negara memiliki pangkalan militer AS.

 

Sumber: www.counterpunch.org