Sejarah Toleransi: Yerusalem dan Orang-Orang Kristen Dalam Naungan Islam

Judul Buku: Islamic Jerusalem and its Christians: A History of Tolerance and Tensions

Penulis: Maher Y. Abu-Munshar (Assistant Professor of Islamic History at Qatar University)

Penerbit: I.B.Tauris (2012)

Genre: Kajian Politik

Tebal: 260 halaman

ISBN: 9781780764795 (paperback)

 

Ada banyak buku yang ditulis tentang Islam sebelum “Serangan 11 September”, dan bahkan lebih banyak setelah itu karena ada persepsi soal: Bagaimana Islam adalah sumber ketakutan dan penderitaan; bagaimana Islam menindas para pengikutnya ke dalam ketundukan yang menghancurkan diri. Sudah banyak buku yang ditulis tentang Islam dan hubungannya dengan Barat dengan stigma negatif: Bagaimana Muslim menaklukkan lawan-lawannya dengan pengkhianatan dan teror; bagaimana Muslim memperlakukan orang yang tidak beriman dengan pretensi dan kekejaman.

Sementara banyak topik seputar ini sering dibahas oleh para penulis Barat—ada yang dengan enteng mencemooh dan menghina, sementara ada pula yang ngotot dengan berbagai alasan, kohesi, perdamaian, dan rekonsiliasi—tema ini jarang dibedah oleh penulis Muslim dengan gaya akademis (umum).  

Banyak Muslim yang menanggapi tuduhan semacam itu dengan cara yang defensif, yang sering kali mengurangi martabat mereka dalam perjuangan untuk membenarkan keyakinan mereka melawan kritik Barat, atau bersikap “kekanak-kanakan” dan “kurang humanis” ketika menyerang balik Barat.

Namun, Maher Y. Abu-Manshar—assistant professor Sejarah Islami di Universitas Qatar—tampaknya tidak mengikuti salah satu dari dua gaya tadi di dalam bukunya, Islamic Jerusalem and its Christians: A History of Tolerance and Tensions. Penulis membahas hubungan historis Islam dengan Barat dengan cara yang khas akademis, dengan memosisikan diri sebagai mahasiswa kajian “Yerusalem Islam”.

Penulis berkata, “Bidang studi khusus ini berkembang ketika Profesor Abdul Fattah El-Awaisi, yang berkarya di Inggris Raya, menjadi sangat sadar akan kurangnya penelitian akademis yang serius mengenai Yerusalem dari sudut pandang Arab dan Muslim, karena kebanyakan penelitian memiliki telah dilakukan oleh para penulis dari kalangan orientalis, Barat, atau Israel. Oleh karena itu, sejarah wilayah di bawah pemerintahan Muslim telah mengalami banyak perubahan dan distorsi.

Meskipun ada banyak literatur dari para penulis Arab dan Muslim yang berkenaan dengan isu Palestina pada umumnya dan Yerusalem pada khususnya, sebagian besar penelitian ini berkualitas rendah, ketika mereka membahas masalah ini secara emosional maupun politis. Adapun mereka yang mengambil pendekatan akademis hanya membahas Yerusalem kontemporer, sebagai kota dengan bagian timur dan barat. Seperti yang ditunjukkan, perbedaan utama antara kajian Yerusalem Islam dan studi Yerusalem adalah bahwa yang pertama tidak membatasi dirinya ke Yerusalem sebagai kota, namun menganggapnya sebagai wilayah, seperti yang dijelaskan oleh El-Awaisi:

‘Studi Yerusalem Islam pada akhirnya dapat dicirikan dan didefinisikan sebagai cabang baru pengetahuan manusia berdasarkan pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Ini bertujuan untuk menyelidiki semua hal yang berkaitan dengan wilayah Yerusalem Islam, mengeksplorasi dan memeriksa berbagai aspeknya, dan untuk memberikan pemahaman analitik yang penting tentang kerangka acuan yang baru; untuk mengidentifikasi sifat Yerusalem Islam dan untuk memahami keunikan daerah ini dan pengaruhnya terhadap bagian dunia lainnya dalam konteks historis maupun kontemporer.’” (Hlm. 13–14).

Kerangka kerja akademis ini adalah fondasi di mana Abu-Manshar memaparkan analisisnya tentang hubungan historis Muslim-Kristen. Dia memulai dengan sebuah kajian tentang Fikih Islam kemudian melanjutkan kajian tentang praktik yurisprudensi ini oleh dua sosok: Khalifah Kedua Umar bin al-Khatthab dan Sultan Shalahuddin.

(Baca juga: Sejarah Yerusalem, dari Kekuasaan Utsmaniyah ke Inggris)

Buku ini menyajikan pandangan kritis terhadap peristiwa sejarah selama dua era tokoh kunci tersebut, yang dikenal sebagai figur yang menaklukkan kembali Yerusalam untuk Islam. Penulis juga menganalisis laporan tentang komunikasi antara Shalahuddin dan Tentara Salib serta perundingan perdamaian antara Shalahuddin dan Richard the Lion-Heart, Raja Inggris.

Penulis berhati-hati untuk menyusun ajaran Islam yang sebenarnya dan untuk menempatkan tindakan Khalifah dan Sultan dalam konteks ketentuan-ketentuan fikih tersebut daripada mendasarkan perilaku mereka dari aspek pribadi semata. Penulis melakukan ini dalam rangka membedakan Islam sebagai standar yang terpisah dari perilaku para pengikutnya. Tujuannya adalah untuk menetapkan bahwa penguasa-penguasa yang menganiaya kaum minoritas melakukannya dengan sewenang-wenang; bukan atas dasar ajaran Islam, namun atas dasar keuntungan politik dan/atau kekurangan pribadi mereka sendiri. Dinasti Fathimiyah adalah contoh kasusnya (hlm. 19).

Kemudian Penulis menyatakan bahwa sebagian besar ilmuwan Barat gagal untuk menyoroti perbedaan antara perilaku pemeluk Islam dan ketentuan Al-Quran sebagai sumber ajarannya. Dengan demikian, untuk tujuan kejelasan dan untuk menekankan unsur toleransi dalam Islam—yang mana para pemeluknya tidak selalu sinkron dengan ajarannya—Abu-Manshar pertama-tama berfokus pada Fikih Islam dan dengan demikian meletakkan dasar dari perilaku islami.

Sebagai contoh, Penulis menjelaskan konsep Ahli Kitab yang meliputi orang-orang Kristen dan Yahudi, yang maknanya adalah kaum yang pernah disampaikan kepada mereka wahyu ilahi. Abu-Munshar menyatakan bahwa Al-Quran menekankan umat Islam untuk bersikap dengan baik terhadap Ahli Kitab dari kalangan orang-orang yang tidak beriman dan agar terlibat dalam diskusi dengan mereka dengan cara yang khusus. Dia juga mengutip fakta bahwa umat Islam diizinkan memakan sembelihan halal oleh Ahli Kitab dan bahwa seorang Muslim juga diizinkan untuk menikahi wanita Ahli Kitab (hlm. 21).

Lewat studi rintisan ini, Penulis berhasil melakukan penelitian yang ekstensif untuk mengeksplorasi perlakuan Muslim terhadap non-Muslim pada abad ke-7 dan Abad Pertengahan, sambil juga melihat secara rinci situasi orang-orang Kristen di Yerusalem Islam, termasuk reaksi dan sikap mereka terhadap penaklukan oleh Muslimin.

Penulis berhasil membuktikan bahwa kaum Muslimin—setidaknya pada era Khalifah Umar (w. 24 H/644 M) dan Sultan Shalahuddin (w. 589 H/1193 M)—telah menghargai dan memperlakukan Ahli Kitab dengan terhormat. Penulis juga mengisyaratkan (di hlm. 23) adanya empat elemen utama yang mencirikan hubungan antara Muslim dengan non-Muslim menurut Al-Qur’an:

  1. Persaudaraan sebagai sesama manusia.
  2. Toleransi keagamaan.
  3. Keadilan dan perlakuan yang layak.
  4. Loyalitas dan aliansi.

Meskipun buku ini agak mirip dengan “kombinasi” antara Tarikh dan Fikih Islam, buku ini adalah hasil pembacaan yang sangat produktif dan terperinci serta menunjukkan ketekunan Penulis. Klaim-klaim yang ia kemukakan didukung oleh banyak sumber dan contoh.

Mungkin kekurangan dari karya Abu-Munshar ini adalah kegagalan dalam menjelaskan mengapa kesalahpahaman tentang Islam yang ia hadapi itu ada. Idealnya, ia berusaha mengidentifikasi akar penyebab kesalahpahaman semacam itu. Meski demikian, karya Abu-Munshar adalah teks referensi yang berguna dan merupakan prestasi akademis tersendiri.

Mungkin ada yang merasa buku ini telat terbit. Setelah 11 September, hubungan Timur dan Barat menjadi tegang dan kesalahpahaman tentang Islam berkembang, meskipun ajaran Islam yang sebenarnya juga semakin tersebar luas. Namun, menjadi penting jika kesalahpahaman historis dihapus, realitas ditata, dan pola pikir orientalis didekonstruksi, sehingga kebencian terhadap Islam yang dibangun di masa lalu dapat dipensiunkan—sebagai tidak berdasar—dan jembatan dialog bisa dibangun di antara penganut agama-agama.

Yang jelas, Yerusalem memiliki tempat khusus di dalam hati tiga pemeluk agama, yaitu Yudaisme, Kristen, dan Islam. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem memang menjadi lokasi toleransi dan ketegangan, bahkan diyakini akan tetap demikian hingga menjelang Hari Kiamat.