Blacklist Israel Bagi Pendukung BDS Memicu Kemarahan Publik

“Israel mengisolasi dirinya lebih jauh lagi sebagai negara apartheid,” kata CODEPINK

“Anggota JVP (Jewish Voice for Peace) sekarang bergabung dengan orang-orang Palestina dan juga Muslim dari seluruh dunia, orang-orang kulit berwarna, dan aktivis lainnya yang sering dilarang masuk,” kata direktur eksekutif Suara Yahudi untuk Perdamaian, Rebecca Vilkomerson.

Kelompok-kelompok advokasi bersumpah untuk melanjutkan perjuangan mereka untuk perdamaian dan keadilan pada hari Ahad (7/1) setelah pemerintah Israel mengumumkan bahwa mereka dilarang masuk wilayah Israel karena dukungan mereka terhadap gerakan Boycott, Divestment and Sanctions (boikot, divestasi, dan sanksi) yang dikenal dengan nama BDS.

Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) adalah kampanye global untuk menekan Israel dari segi ekonomi dan politik agar mau mematuhi tujuan gerakan ini: mengakhiri pendudukan dan kolonisasi Israel terhadap tanah Palestina, kesetaraan hak warga Arab-Palestina di Israel, dan menghormati hak pulang bagi para pengungsi Palestina.

Kampanye ini dimulai tanggal 9 Juli 2005 oleh 171 lembaga swadaya masyarakat Palestina yang mendukung tujuan pergerakan Palestina berupa boikot, divestasi, dan sanksi internasional terhadap Israel. Sambil mengutip resolusi PBB dan menggaungkan kampanye anti-apartheid terhadap pemerintah minoritas kulit putih di Afrika Selatan era apartheid, kampanye BDS menuntut dilancarkannya “segala bentuk boikot terhadap Israel sampai negara tersebut memenuhi kewajibannya sesuai hukum internasional.”

(Baca juga: Mampukah Gerakan BDS Membungkam Hegemoni Israel?)

“Dengan melarang para pemimpin organisasi perdamaian seperti CODEPINK, Israel telah mengisolasi dirinya sendiri dan menyatakan diri sebagai negara apartheid,” kata Ariel Gold, direktur nasional CODEPINK. “Daftar hitam BDS mereka bertentangan dengan prinsip demokrasi dan nilai-nilai Yahudi. Sebagai seorang Yahudi Amerika, saya bangga dengan pekerjaan saya untuk menantang kebijakan penindasan Israel, saya tidak akan menyerah dalam perjuangan.”

“Upaya putus asa Israel untuk melawan gerakan BDS dengan blacklist terbaru ini, bersamaan dengan jutaan dolar yang mereka keluarkan untuk kampanye propaganda internet, tidak akan menghentikan dukungan kami pada perjuangan rakyat Palestina untuk berprinsip dan kesetaraan.

-Nancy Kricorian, CODEPINK

Daftar 20 kelompok tersebut diterbitkan pada hari Minggu oleh Menteri Urusan Strategis, dan mengikuti peraturan undang-undang Israel pada bulan Maret 2017 yang melarang pendukung BDS memasuki negara tersebut.

“Kami telah beralih dari pertahanan ke pelanggaran,” kata Menteri Urusan Strategis Gilad Erdan. “Organisasi boikot perlu mengetahui bahwa Negara Israel akan bertindak melawan mereka dan tidak membiarkan mereka memasuki wilayahnya untuk menyakiti warganya.”

Selain CODEPINK, kelompok-kelompok yang berbasis di AS yang masuk dalam daftar tersebut antara lain organisasi pemenang Hadiah Nobel Perdamaian American Friends Service Committee (AFSC), American Muslims for Palestine, Jewish Voice for Peace (JVP), National Students for Justice in Palestine, and U.S. Campaign for Palestinian Rights. Di antara organisasi Eropa yang masuk dalam daftar adalah War on Want and Palestine Solidarity Campaign.

Menurut direktur eksekutif JVP, Rebecca Vilkomerson, perkembangannya membingungkan namun tidak mengherankan, mengingat mulai terkikisnya norma-norma demokrasi yang semakin dalam serta meningkatnya kecemasan tentang kekuatan BDS sebagai alat untuk menuntut kebebasan. Anggota JVP sekarang bergabung dengan orang-orang Palestina dan juga Muslim dari seluruh dunia, orang kulit berwarna, dan aktivis lainnya yang sering dilarang masuk ke Israel.”

“Dengan melarang saya dan aktivis rekan-rekan saya, Israel telah mengisolasi diri sendiri lebih jauh lagi.” tweet @ArielElyseGold @jdforward @codepink

Bagi anggota CODEPINK, Nancy Kricorian, dengan masuk dalam daftar blacklist sebenarnya adalah sebuah kebanggaan.

“Ketika saya membaca beberapa nama kelompok yang sekarang dilarang memasuki Israel karena advokasi mereka untuk hak-hak Palestina. Saya pikir daftar ini merupakan sebuah kehormatan. Upaya putus asa Israel untuk melawan gerakan BDS dengan daftar hitam terbaru ini, bersama dengan jutaan dolar yang mereka keluarkan untuk kampanye dan propaganda internet, tidak akan menghentikan dukungan berprinsip dan kesetaraan kami untuk rakyat Palestina.” katanya dalam sebuah pernyataan.

 

sumber:  www.commondreams.org