Siapa yang Tersisa di Guantanamo?

Bertentangan dengan apa yang diharapkan, Barack Obama tidak menutup fasilitas penahanan Guantánamo Bay pada Januari 2010, seperti yang dia janjikan sebelumnya. Sebaliknya, pada hari dia menanggalkan jabatan presiden pada bulan Januari 2017, masih ada 41 tahanan yang ditahan di penjara yang pernah dia sebut “eksperimen yang salah arah”.

Di bawah Donald Trump, percobaan berlanjut cukup banyak, seperti yang terjadi di bawah Obama. Terlepas dari ancaman Trump untuk “memasukkan” para penjahat ke Guantánamo, jumlah tahanan yang tersisa di Guantanamo masih sama. Perhatian publik terhadap masalah ini, dan nasib para tahanan telah jatuh jauh di bawah radar sehingga tidak mengherankan jika banyak orang percaya bahwa ini adalah babak sejarah yang tertutup.

Hampir 800 pria dan anak laki-laki ditahan di Guantánamo Bay sejak dibuka pada tanggal 11 Januari 2002. Delapan puluh enam persen tahanan tersebut diserahkan ke militer AS oleh milisi Afghanistan, seperti Aliansi Utara, atau pasukan Pakistan untuk mendapatkan imbalan.

Mantan Presiden Pakistan, Jenderal Pervez Musharraf, menyebut imbalan ini sebagai “hadiah uang”. Perdagangan budak yang terkait dengan konflik saat ini di Libya memiliki banyak kesamaan dengan penjualan narapidana ke militer AS dan situasi di Pakistan dan Afghanistan pada awal tahun 2000an.

Dua dari 41 tahanan yang tersisa, telah berada di Guantanamo sejak awal 2002 dan tidak ada yang langsung ditangkap oleh militer AS. Lebih dari setengahnya “dijual” ke AS oleh pihak berwenang Pakistan, dan mayoritas ditahan di tempat rahasia CIA, fasilitas penyiksaan rahasia di seluruh dunia – sebelum mereka tiba di Guantánamo.

Zayn al Abdeen Mohammed al Hussein, yang berjuluk “Tahanan abadi”, seorang Palestina yang tidak memiliki kewarganegaraan, yang lebih dikenal sebagai Abu Zubaydah, telah menghabiskan lebih dari 1500 hari di penjara rahasia CIA tersebut, di Thailand, Afghanistan, Polandia dan Maroko, setelah ditahan di Pakistan pada Maret 2002. Ia dianggap sebagai “Tahanan bernilai tinggi” (High Value Detainee / HVD), kepalanya dihargai 20.000 dolar AS.

Surat kabar Guardian memanggilnya “anak buah Osama bin Laden yang paling berpengaruh.” Sebuah media yang bersumber dari “intelijen” mengatakan bahwa ada penyiksaan yang jelas, sesuatu yang media ketahui, namun mengklaim bahwa hal ini adalah teknik yang pantas dilakukan.

Ketika Abu Zubaydah tiba di Guantánamo pada bulan September 2006, bersama dengan HVD lainnya, George Bush mengakui bahwa penjara penyiksaan CIA adalah benar-benar ada dan menyatakan bahwa “Zubaydah telah dilatih tentang bagaimana melawan interogasi, CIA” sehingga CIA menggunakan seperangkat prosedur alternatif”. Abu Zubaydah tidak pernah dituntut ke pengadilan,hingga pada tahun 2008, AS akan mengakui bahwa selama ini menangkap orang yang salah.

Abu Zubaydah berhasil menggugat Polandia (dibayar 30 juta dollar AS oleh AS untuk menjalankan fasilitas penyiksaan CIA) atas penahanan dan penyiksaan di sana, dan memiliki kasus yang masih tertunda di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa melawan Lithuania karena dugaan kolusi tersebut. Abu Zubaydah adalah narapidana pertama yang menjadi korban waterboarding dan merupakan kelinci percobaan dalam bab terakhir sejarah percobaan penyiksaan CIA.

Pengacaranya Joseph Margulies menyatakan bahwa sidang peninjauan kembali tahun 2016-nya, di mana tahanan membela diri untuk meminta dibebaskan, hanyalah formalitas dan Abu Zubaydah tidak akan dibebaskan.

Asumsi kuat yang terbangun tentang Guantánamo Bay adalah, AS tidak tertarik untuk menutup fasilitas tersebut dan melepaskan penghuninya, bukan karena ancaman yang mereka hadapi terhadap keamanan AS namun ancaman yang mereka berikan terhadap kredibilitas AS dan narasi yang membenarkan perang neo-kolonialnya di seluruh dunia dengan kedok memerangi terorisme. Lupakan bahwa salah satu dari tahanan ini harus memiliki akses ke dokter independen atau akses bebas ke dunia luar.

Bukti penyiksaan tersebut dapat diterima di komisi khusus yang dibentuk oleh militer. Hal ini cukup banyak ditunjukkan dalam sidang keputusan HVD lain, warga Pakistan, Majid Khan, yang dalam sebuah pembelaan diri di tahun 2012, didakwa bersalah atas lima tuduhan, termasuk pembunuhan, konspirasi dan mata-mata.

Bagian dari pembelaan diri mensyaratkan bahwa Khan akan sementara memberhentikan tuntutan penahanannya dan setuju untuk tidak menuntut pemerintah, termasuk CIA, atas penangkapan, penahanan, atau interogasi yang dilakukan dan bahwa Khan mengakui dan menyetujui bahwa pemerintah memiliki otoritas hukum , di bawah hukum perang, untuk menahannya sebagai pejuang musuh bahkan setelah dia menjalani hukuman pidana 19 tahun.

Sementara menunggu hukuman, dia adalah satu dari tiga terpidana tahanan yang ditahan di Guantánamo. Pengakuan Khan saat melalui penyiksaan kemudian diungkap:

“Majid disiksa dengan waterboarding dua kali, digantung di tangannya, telanjang dan terbelenggu, dan direndam dalam air bak es sampai dia mengira akan tenggelam. Dia diserang secara seksual sambil digantung telanjang dari langit-langit. Interogator mengancam untuk memukul kepalanya dengan palu, dan mengancam akan menyakiti adik perempuannya. Majid hidup dalam kegelapan total selama tahun 2003, dan dalam kurungan isolasi dari tahun 2004 sampai 2006.”

Tujuh tahanan lainnya telah dituntut dan saat ini sedang menunggu persidangan; semua adalah HVD yang tiba di Guantánamo pada tahun 2006 dan 2007. Semua telah merasakan berbagai bentuk penyiksaan yang brutal sehingga perjalanan ke dan dari ruang sidang sangat sulit dan banyak yang tidak dapat duduk dalam waktu lama karena bentuk penyiksaan seksual yang parah yang mereka alami. .

Ketika salah satu dari terdakwa 9/11, Mustafa al Hawsawi, diizinkan menjalani operasi dubur pada tahun 2016. Hal itu muncul karena ia telah disiksa begitu parah setelah dia ditangkap di Pakistan pada tahun 2003. Hingga dia harus memasukkan kembali bagian anusnya secara manual dari rongga analnya untuk buang air besar. Ketika dia mengalami buang air besar, dia harus memasukkan kembali bagian anusnya ke rongga analnya “[…] yang menyebabkan dia berdarah, membuatnya merasakan rasa sakit yang menyiksa. Operasi itu dilakukan, bagaimanapun, bukanlah untuk mengatasi masalah khusus ini.

Pengamatan terbaru tentang bagaimana personil militer menangani tahanan yang mogok makan juga membuat aspek kesehatan yang dilakukan Guantánamo kepada penghuninya harus turut diperhatikan. Meski banyak yang mengalami perlakuan buruk sebelum tiba di Guantánamo, perawatan medis seringkali tidak memadai. Pemindai MRI yang rusak, yang dikirim dua tahun setelah diperintahkan oleh hakim mungkin merupakan ilustrasi sempurna perawatan kesehatan Guantánamo.

Meski Donald Trump dengan gigih berkeras untuk menjaga agar Guantanamo tetap terbuka, keinginan Barack Obama untuk menutupnya tidak selalu berarti dengan membebaskan tahanan. Menjelang akhir masa kepresidenannya, dia berusaha mengirim seorang tahanan Kenya ke Israel untuk menjalani penuntutan sehubungan dengan serangan terhadap turis Israel di Mombasa pada tahun 2002, namun FBI tidak akan berkolaborasi dan memberikan informasi kepada pihak berwenang Israel. Pemerintahannya juga mencoba mengirim seorang tahanan Indonesia ke Malaysia untuk diadili di mana hasilnya kemungkinan besar adalah hukuman mati.

Tahanan itu, Riduan Isomuddin, yang lebih dikenal dengan sebutan “Hambali”, dikenai hukuman pada bulan Juni 2017 sehubungan dengan pemboman di Indonesia pada tahun 2002 dan 2003. Dia ditangkap di Thailand pada tahun 2003, dan masuk ke penjara-penjara CIA di Maroko dan Rumania sebelum tiba di Guantánamo pada tahun 2006, sekitar waktu yang sama dengan tahanan HDV lainnya.

Pada bulan Desember 2017, beberapa tuntutan ditambahkan dan dua tahanan Malaysia juga dikenai tuduhan terkait. Semua dakwaan bukan dakwaan utama. Untuk alasan administratif yang tidak ditentukan, Pentagon belum menyetujuinya. Laporan Penyiksaan Senat AS menyatakan bahwa meskipun Hambali tidak pernah mengalami waterboarding, dia mengalami perlakuan “tubuh terentang dalam posisi yang menyakitkan, ditampar atau dibanting ke dinding, dibiarkan telanjang atau dipakaikan popok, terkurung dalam kotak peti mati, kurang tidur dan manipulasi makanan.”

Mereka tetap berada di antara 26 tahanan yang berpotensi menghadapi kenyataan untuk tidak pernah meninggalkan Guantánamo hidup-hidup. 16 tahun Guantánamo telah menciptakan suatu iklim penyiksaan, dengan korban penyiksaan itu lalu dijadwalkan untuk diadili atas dasar bukti yang dipaksakan, tidak ada pejabat AS yang pernah dituntut, apalagi diperiksa, atas lebih dari 700 tahanan yang telah bebas yang telah mengalami siksaan dan penderitaan.

Bahkan penuntutan konsultan CIA yang membantu merancang program penyiksaan berakhir dengan penyelesaian di luar pengadilan yang menafikan korban. Sembari beberapa korban mereka masih merana di Guantánamo, salah satu konsultan ini terus menyumbang penyiksaan melalui promosi buku dan dialog.

Cerita tentang orang-orang ini sengaja dibiarkan tidak jelas, bukan karena mereka kurang tertarik. Namun karena ada kepentingan yang kuat, yang berarti mereka tidak boleh diungkapkan. Kabut perang melawan teror telah membuat ketertarikan public terhadap para penghuni Guantanamo menjadi minimal dan memunculkan sikap apatis publik sehingga Guantánamo tetap terbuka, sambil memberikan pembenaran atas perang tanpa henti dan meningkatnya militerisasi dan pengawasan masyarakat dan negara, tidak hanya di AS, tapi di sekian banyak negara-negara sekutu.

 

Sumber: www.stopwar.org.uk