Ketika Al-Qaeda Begitu ‘Dirindukan’ di Hadramaut Yaman

Mobil-mobil yang terbakar, selongsong peluru, dan puing-puing dari bangunan yang rata melintang di jalan-jalan sempit yang berkelok-kelok. Sebuah kenangan yang terlintas dari pertempuran sengit yang melanda Mukalla—ibu kota Provinsi Hadramaut, Yaman—hampir tiga tahun lalu.

Ketika itu—April  2015—ratusan pejuang Al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) menyerbu kota pelabuhan tersebut. Dengan metode perang cepat, yang diujungtombaki oleh infantri dengan kendaraan lapis baja, AQAP dengan cepat menguasai Mukalla seperti ketika the Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) dengan cepat menguasai Irak dan Suriah.

AQAP berhasil mengeksploitasi kekacauan yang timbul akibat perang antara koalisi pimpinan Arab Saudi dengan pemberontak Houthi di utara. Gejolak yang terjadi—yang telah menewaskan dan melukai lebih dari 60.000 orang sejak Maret 2015—menghadirkan kesempatan bagi AQAP untuk meraih keuntungan teritorial yang besar.

Houthi, sekelompok pemberontak yang muncul dari dataran tinggi utara Yaman di mana penganut Syiah Zaidiyah terkonsentrasi, bersekutu dengan tentara yang setia kepada mantan Presiden Ali Abdullah Shalih pada awal tahun 2015. Mereka berhasil merebut wilayah yang cukup luas di negara tersebut, termasuk ibu kota Sanaa.

Arab Saudi dan koalisi negara-negara Arab Sunni mulai turut campur dalam konflik Yaman sejak bulan Maret tahun itu juga. Pihak koalisi meluncurkan serangan udara besar-besaran untuk mengembalikan pemerintahan Presiden Abdu Rabbuh Manshur Hadi, yang terpaksa mengungsi ke pengasingan meskipun banyak diakui secara internasional.

Serangan udara menghancurkan daerah-daerah yang dikuasai oleh Houthi sehingga mereka mundur dari sebagian besar wilayah selatan. Meski demikian, sampai saat ini kelompok pemberontak tersebut masih mengontrol area yang lebih luas dari Inggris dan menguasai sekitar 18 juta orang.

AQAP memanfaatkan situasi yang kacau ini untuk menyerang Mukalla pada tanggal 2 April 2015. Kota berpenduduk lebih dari 300 ribu orang itu menjadi saksi kekalahan militer Yaman secara spektakuler. Para pejuang Al-Qaeda cabang Yaman ini menggempur instalasi militer dengan mortir dan RPG yang mereka rebut dalam pertempuran sebelumnya.

(Baca juga: AQAP Memilih Fokus Memerangi Syiah Hutsi)

Pasukan pemerintah Yaman tidak mampu menghalangi gerak maju AQAP. Mereka membuang senjata bahkan seragam mereka, kemudian melarikan diri melalui lembah dan padang pasir yang gersang ke daerah yang dikuasai pemerintah di sebelah barat provinsi Hadramaut. Dengan basis militer yang ditinggal kabur, AQAP datang untuk memborong beberapa senjata yang menakutkan—seperti tank, kendaraan Humvee buatan Amerika, dan persenjataan berat—sebagai rampasan perang.

Namun, mesin perang yang hebat bukanlah satu-satunya yang dikuasai AQAP. Kelompok ini juga menguasai sekitar $100 juta dari bank lokal. Dana itu diduga telah digunakan untuk kampanye pelayanan masyarakat untuk menggalang dukungan publik bagi proyek yang mengarah kepada pembentukan pemerintahan Islam.

AQAP diperkirakan memperoleh pemasukan sekitar $2 juta/hari dari perusahaan nasional dan pajak barang yang masuk ke pelabuhan Mukalla yang menguntungkan. Kelompok itu pun menggunakan kekuatan ekonominya yang sedang tumbuh untuk menyediakan air minum, listrik, perawatan kesehatan, dan layanan dasar lainnya kepada penduduk.

AQAP juga menghapuskan pajak atas penduduk setempat dan membayar gaji pegawai negeri sipil tepat waktu. Selain itu, AQAP terus-menerus membuat video penerangan yang apik, di mana mereka menyosialisasikan proyek perintisan negara mereka sebagai gerakan pembebasan.

Namun, tepat setahun kemudian, AQAP meninggalkan hasil capaian mereka secara tiba-tiba dan menarik diri tanpa pertumpahan darah. Kelompok yang—sebenarnya—telah lama menegaskan kesiapan para pejuangnya untuk “syahid” itu mengatakan bahwa mereka menarik diri dalam rangka melindungi warga sipil dari kekuatan pro-pemerintah yang bergerak maju.

Akhirnya tentara Yaman, yang didukung oleh pasukan khusus Uni Emirat Arab (UEA), memasuki Mukalla pada 24 April 2016. AQAP mengundurkan diri—menyusul perundingan rahasia—ke Pegunungan Shabwah, Provinsi Al-Baidha’ dan Ma’rib yang padat. Hanya segelintir pejuang yang tersisa dan melebur dengan penduduk setempat.

 

Baca halaman selanjutnya: Hidup di Bawah AQAP