Apakah Serangan ‘Teroris’ Berdampak Pada Kondisi Perekonomian?

Judul Buku: Globalization and the Economic Consequences of Terrorism

Penulis: Brenda J. Lutz, James M. Lutz

Penerbit:  Palgrave Macmillan UK

Tahun Terbit:  2017

Buku ini menganalisis dampak gangguan ekonomi, sosial, dan politik yang datang bersamaan dengan ekonomi global untuk negara-negara di lima wilayah yang berbeda dan negara berkembang secara keseluruhan. Salah satu konsekuensi dari gangguan tersebut adalah meningkatnya tingkat terorisme di banyak negara. Selain itu, efek terorisme terhadap kegiatan ekonomi juga diukur. Meskipun polanya bervariasi untuk tiap daerah, tapi tidak ada keraguan bahwa hal-hal tersebut berhubungan.

Buku ini ditulis oleh dua Orang, Brenda J. Lutz dan James M Luitz. Brenda merupakan PhD di bidang politik dari University of Dundee di Skotlandia, dan James M. Luitz merupakan profesor di bidang Politik dari Indiana University-Purdue University at Fort Wayne.

Salah satu efek yang tersisa dari serangan 9/11 di AS adalah bahwa “terorisme” telah menjadi salah satu teknik yang paling banyak dianalisis pada abad ke-20 dan ke-21. Telah terjadi lonjakan studi, analisis, dan komentar mengenai teknik dan semua kelompok yang berbeda yang memanfaatkan terorisme. Di antara semua studi ini, relatif sedikit perhatian yang diberikan pada potensi keterkaitan antara globalisasi dan terorisme dan dampak yang dapat ditimbulkan terorisme terhadap kegiatan ekonomi. Buku ini akan menguraikan beberapa penyebab kekerasan politik dalam bentuk terorisme dan apakah globalisasi juga memiliki dampak terhadap ekonomi, dan apakah hal tersebut terjadi secara sistematis.

Buku ini juga mencakup analisis efek atas globalisasi yang semakin meningkat, terhadap sistem ekonomi, politik, dan sosial. Globalisasi adalah realitas yang selalu hadir di dunia sekarang ini. Ia telah menghasilkan manfaat bagi banyak kelompok di masyarakat. Globalisasi, bagaimanapun, juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem ekonomi, sosial, budaya, dan ekonomi lokal. Gangguan ini dapat menimbulkan ketidakpuasan, frustrasi, dan penolakan terhadap perubahan yang dapat menyebabkan pecahnya kekerasan politik. Kekerasan politik dalam keadaan seperti itu dapat mengambil sejumlah bentuk termasuk kerusuhan, kudeta militer, perang saudara, gerakan gerilya, dan terorisme.

Membahas bentuk kekerasan tersebut adalah hal yang penting, tetapi buku ini berfokus pada pertanyaan mengenai sejauh mana globalisasi telah menjadi faktor dalam wabah terorisme. Ada banyak teori tentang penyebab terorisme, namun cukup jelas bahwa tidak ada satu variabel pun yang akan menjelaskan terorisme. Globalisasi adalah salah satu faktor yang mungkin membentuk terorisme, yang akan dianalisis secara mendalam untuk mengetahui perannya dalam terjadinya terorisme.

Globalisasi adalah fenomena yang meluas, namun kegiatan ekonomi telah mendorong sebagian besar proses terlibat dalam peningkatan hubungan internasional. Dampak perubahan ekonomi yang menyertai globalisasi juga telah digabungkan dengan perubahan lain yang telah terjadi. Perubahan keadaan ekonomi, sosial, politik, dan budaya telah menyebabkan usaha individu, kelompok, institusi, dan negara mendapatkan keuntungan dari peluang ekonomi baru.

Pelayaran eksplorasi Eropa dan Cina di abad-abad sebelumnya, misalnya, membawa kekayaan dan akses ke barang-barang dan pasar luar negeri kepada para penjelajah. Pos-pos dagang dan koloni didirikan untuk mengendalikan jalur perdagangan atau untuk melindungi perdagangan dan menjamin akses terhadap sumber daya, dalam banyak kasus mencegah pesaing mendapat akses terhadap sumber daya tersebut.

Meskipun globalisasi dalam semua bentuknya, termasuk kekuatan ekonomi, dihipotesiskan telah berkontribusi terhadap wabah terorisme, ada sejumlah bukti yang signifikan bahwa terorisme seringkali berdampak negatif terhadap aktivitas ekonomi di negara-negara sasaran. Efek ekonomi yang merugikan dari tragedi 9/11 adalah salah satu contoh yang paling jelas. Semua jenis kekerasan politik dapat mengganggu kegiatan ekonomi dan membatasi kemampuan individu dan kelompok untuk mewujudkan potensi ekonomi negara dan wilayah atau untuk mendapatkan manfaat yang telah diperhitungkan.

Kekerasan teroris juga tidak terkecuali dengan kecenderungan ini. Seperti yang dicatat dalam buku ini, sejumlah organisasi teroris berpendapat bahwa mengganggu aktivitas ekonomi merupakan teknik penting. Beberapa kelompok teroris telah meluncurkan kampanye yang secara langsung menargetkan kegiatan ekonomi. Upaya sengaja dari kelompok-kelompok ini untuk mengganggu ekonomi dan untuk menaikkan biaya bagi pemerintah dan penduduk telah menjadi indikasi pentingnya pencapaian target ekonomi.

Analisis dalam bab pertama buku ini berfokus pada dua bagian hubungan; antara globalisasi dan terorisme dan antara terorisme dan kegiatan ekonomi. Secara diagram, hubungan yang dihipotesiskan adalah: Tingkat globalisasi yang lebih tinggi diprediksi terkait dengan tingkat terorisme yang lebih tinggi. Tingkat terorisme yang lebih tinggi, pada gilirannya, dihipotesiskan untuk menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi negatif.

Pengujian keterkaitan antara globalisasi dan terorisme memberikan hasil yang lebih sesuai dengan hipotesis bahwa gangguan yang datang seiring dengan globalisasi akan menyebabkan meningkatnya kekerasan teroris karena kelompok teroris akan menarik minat masyarakat yang tidak puas. Motivasi politik kelompok tersebut dapat menyebabkan mereka memilih sasaran simbolis, pegawai pemerintah atau kantor, atau masyarakat umum. Jika kelompok teroris tersebut tidak melakukan peperangan ekonomi (economic warfare), efek di bidang ekonomi pun hanya sedikit.

Tingkat globalisasi sosial, bagaimanapun, paling sering memiliki hubungan dengan terorisme. Globalisasi politik dalam sejumlah kasus menunjukkan bahwa negara-negara dengan koneksi terbesar ke dunia luar memiliki tingkat terorisme yang lebih rendah. Bisa dikatakan bahwa negara-negara yang memiliki koneksi ke negara lain, termasuk memiliki sekutu, menemukan cara untuk membatasi terorisme, mungkin dengan mengandalkan tambahan pasukan dari negara lain.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa globalisasi dapat menyebabkan pengurangan terorisme. Simpulan dari buku ini menunjukkan bahwa setidaknya ada kemungkinan situasi seperti itu mungkin terjadi. Buku ini menunjukkan bahwa negara dengan hubungan internasional paling hebat kadang-kadang adalah negara dengan terorisme yang relatif sedikit di tahun-tahun berikutnya. Karena terorisme telah meningkat dari waktu ke waktu, hubungan semacam itu mungkin telah menyebabkan lambatnya peningkatan jumlah terorisme di negara-negara tersebut.

Bahkan negara-negara dengan hubungan politik yang hebat dengan negara-negara lain juga dapat mengalami terorisme seperti serangan tahun 2015 di Paris dan 2016 di Brussels. Organisasi teroris telah membuktikan dirinya sangat adaptif. Mereka cukup bersedia untuk beralih ke target yang lebih rentan karena banyak kelompok oposisi, baik domestik maupun internasional, yang beroperasi di lingkungan yang kaya target.

Sangat jelas bahwa globalisasi memang merupakan proses yang rumit. Sementara prosesnya mungkin rumit, ada bukti signifikan bahwa globalisasi memang memiliki beberapa efek. Gangguan yang datang bersama dengan globalisasi memang menyebabkan individu dan kelompok mengadopsi kekerasan sebagai respons. Penelitian berikutnya diperlukan untuk menentukan perbedaan antara proses sosial, ekonomi, dan politik dan mungkin lebih spesifik lagi tantangan budaya. Kompleksitas globalisasi dan efek ekonomi dari terorisme adalah bidang yang membutuhkan lebih banyak eksplorasi dan analisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *