Konflik Yaman, Bukti Amerika Gagal Mengontrol Perang

Dengan cepatnya Perang Yaman memasuki tahun ketiga, Afghanistan memasuki tahun ke 17, Irak dan Suriah yang tampaknya merupakan perang permanen AS, dan eskalasi yang terus berlanjut di seluruh Afrika, AS terlibat dalam perang yang lebih banyak dari sebelumnya. Presiden Trump telah meningkatkan pemberian otonomi militer dalam perang tersebut, dan tampaknya AS mulai kehilangan kontrol atas kekuatan militernya.

Selama bertahun-tahun Kongres memiliki kewenangan dalam memutuskan memulai sebuah perang dengan cara yang serius, dan sekarang presiden AS mendelegasikan banyak hal kepada para jenderal. Kesempatan publik Amerika untuk memberi masukan atas perang yang dilakukan Amerika semakin terbatas.

Sebuah jajak pendapat pada bulan November 2017 oleh J. Wallin Opinion Research menunjukkan mayoritas orang Amerika, lebih dari 70%, menginginkan Kongres memaksakan beberapa batasan spesifik mengenai konflik di luar negeri dan melakukan pengawasan langsung dalam banyak hal. Ini juga menunjukkan dukungan mayoritas untuk menarik keterlibatan pasukan AS dalam Perang Yaman.

Meskipun banyak alasan yang bisa dikemukakan atas kegagalan perang Amerika, Perang Yaman tampaknya menjadi titik kritis karena sejumlah alasan. Perang Yaman tidak pernah diperdebatkan sedikit pun di AS, dan dengan cepat memasuki salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam satu generasi.

Perang Yaman telah menyebabkan terjangkitnya wabah kolera terburuk dalam sejarah manusia, dengan jumlah pasien lebih dari satu juta orang, dan telah membunuh ribuan warga sipil baik serangan udara yang difasilitasi AS maupun karena kelaparan massal dan kekurangan obat.

Publik Amerika tidak pernah menyuruh pemerintah untuk melakukan hal itu di Yaman, demikian pula Kongres. Tidak ada dalih hukum yang sah untuk penggunaan kekuatan militer di Yaman, bahkan dengan interpretasi samar-samar dari AUMF 2001 yang telah digunakan sebagai dalih untuk setiap perang lainnya.

Bahkan jika benar, seperti yang diputuskan oleh presiden baru-baru ini, AUMF 2001 benar-benar memberi wewenang untuk membuat senjata  dalam rangka memerangi musuh setelah peristiwa 9/11, namun jelas tidak berlaku di Yaman, di mana AS mendukung invasi Saudi untuk mendudukkan kembali seorang mantan jendral.

Jendral itu, Abd-Rabbu Mansour Hadi, tidak memiliki alasan lagi untuk memerintah Yaman. “Dipilih” untuk masa jabatan dua tahun dengan suara palsu yang diatur oleh AS dan PBB, Hadi berkuasa tanpa ada kandidat pesaing yang diizinkan dalam pemilihan, dan ketika masa jabatannya berakhir, dia mengumumkan bahwa dia akan tetap berkuasa. Ini akan menjadi langkah junta militer klasik, kecuali pendukung Hadi yang dengan cepat diserang oleh pesaingnya dan dia dikejar keluar dari negara tersebut.

Awalnya, tujuan Saudi untuk mendudukkan kembali Hadi, yang saat ini menjadi tahanan rumah di Riyadh, tampaknya Perang Saudi, dengan keterlibatan AS yang substansial merupakan akhir dari kekuasaan Hadi.

Publik Amerika yang semakin terkejut dengan situasi di Yaman, dan semakin menyadari akibat keterlibatan militer AS dengan apa yang telah terjadi. Yaman adalah situasi sempurna bagi Kongres, sebagai kepanjangan tangan para pemilih untuk menegaskan kembali kontrol atas konflik di luar negeri.

Keinginan publik untuk membatasi pemaksaan kehendak AS di luar negeri, dan tidak adanya mandat untuk perang Yaman menjadi alasan sangat baik untuk mencabut otorisasi perang lama dan mengantinya dengan aturan yang sangat spesifik dengan tenggat waktu yang jelas. Selain itu, Kongres AS harus memberlakukan batasan tersebut secara ketat, untuk mencegah kampanye peperangan global Amerika yang saat ini dikutuk dunia.

Masalah ini sebenarnya bisa saja diselesaikan bertahun-tahun yang lalu, namun Kongres terlalu lama percaya bahwa secara politis lebih aman untuk mengabaikan perang yang tidak sah. Dengan jajak pendapat yang menunjukkan mayoritas menginginkan batasan yang jelas, semoga hal itu tidak terjadi lagi, karena gagal mengendalikan perang akan semakin berisiko secara politis untuk mereka.

 

Sumber:  original.antiwar.com/