Membongkar Al-Qaeda; Akankah Amerika Mampu Menggulungnya?

Sebuah lembaga riset asal AS, bernama CNA (Center for Naval Analysis) baru-baru ini mengeluarkan rilis tentang efektivitas kebijakan AS dalam melawan Al Qaeda. Rilisan berjudul asli Independent Assessment of US Government Efforts against Al-Qaeda ini berisi 60 halaman. Rilisan ini merupakan feedback dari permintaan Asisten Menteri Pertahanan AS untuk CNA agar mengadakan penilaian independen terhadap efektivitas kinerja AS untuk mengganggu (disrupt), merobohkan (dismantle), dan mengalahkan (defeat) Al Qaeda. Berikut adalah intisari dari rilis CNA tersebut.

 

Hasil Temuan terhadap Anggota Inti Al-Qaeda

Setelah 16 tahun pasca tragedi 11 September 2001, Al Qaeda telah menjadi organisasi yang sangat berbeda. Merekai telah mengalami kemunduran dan berada dalam periode pelemahan, namun juga mencatat keunggulan dan mampu beradaptasi dalam menghadapi upaya dunia internasional yang menentangnya. Berdasarkan acuan dari National Defense Authorization Act (NDAA), inilah temuan dari lembaga CNA tentang tinjauan terhadap kebijakan AS atas Al Qaeda:

  • Al-Qaeda masih mengejar tujuan utama yang digagas sejak tahun 2001. Di antaranya yang paling menonjol adalah pembentukan kekhalifahan global. Seiring berjalannya waktu, organisasi tersebut telah menambahkan tujuan dan menyesuaikan strateginya sebagai bagian dari adaptasi terhadap upaya kontraterorisme AS, dan juga sebagai respon atas perubahan lingkungan di tempat Al Qaeda beroperasi, namun tujuan utamanya tetap tidak berubah. Kepemimpinan Al Qaeda terus menggunakan upaya perlawanan jangka panjang dan penuh kesabaran yang memanfaatkan taktik teroris dan pemberontak melawan “musuh dekat” (rezim Muslim yang murtad) dan “musuh jauh” (Amerika Serikat dan Barat).
  • Al-Qaeda saat ini lebih besar, lebih lincah, dan lebih tangguh daripada tahun 2001. Enam belas tahun yang lalu, para pemimpin inti Al-Qaeda ada di Afghanistan dan organisasi tersebut juga memiliki perwakilan di beberapa negara lain. Hari ini, di samping inti Al Qaeda yang tersisa, ada lima afiliasi Al-Qaeda: Al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP), Al-Qaeda di Maghrib Islami (AQIM), Al-Qaeda di Suriah (AQS ), Al-Qaeda di subkontinen India (AQIS), dan al-Shabab (di Somalia). Sebagai tambahan, Al-Qaeda di Irak (AQI), yang merupakan cabang paling ganas dari afiliasi Al-Qaeda, berkembang menjadi apa yang sekarang kita kenal sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS).
  • Pada tahun 2001, Al-Qaeda adalah organisasi yang sangat hierarkis. Saat ini, Al-Qaeda adalah sebuah organisasi yang datar, terdesentralisasi, dan tersebar secara geografis. Fokus tentang “inti” Al-Qaeda yang berada di pusat afiliasi kelompok tersebut mulai berkurang, karena banyak anggota Al Qaeda dan pemimpin lainnya telah pindah dari wilayah Afghanistan-Pakistan dan melebur dengan beberapa kelompok afiliasinya (terutama AQAP dan AQS). Kelompok afiliasi Al Qaeda yang sekarang aktif di lebih dari 10 negara berpenduduk mayoritas Muslim, memiliki otonomi lebih banyak daripada di masa lalu, dan sebagian besar afiliasinya memiliki hubungan dengan afiliasi lain (kecuali AQIS).
  • Al-Qaeda adalah organisasi yang pembelajar dan adaptif, dan ini berkontribusi pada ketahanan kelompok tersebut. Al-Qaeda telah menunjukkan bahwa mereka dapat mengatasi kemunduran yang parah (misalnya kekalahan AQI di Irak), belajar dari kesalahannya, dan mengembangkan strateginya dari waktu ke waktu. Dalam beberapa tahun terakhir, Al-Qaeda telah mampu menyesuaikan pendekatannya untuk menghasilkan capaian baru. Secara khusus, kelompok afiliasi AL Qaeda telah menjadi lebih mahir dalam mengejar tujuan lokal melalui penyediaan tata pemerintahan selaras dengan konteks lokal.
  • Ancaman dari Al-Qaeda ke dalam negeri Amerika Serikat tetap ada, namun tampaknya tidak menjadi tujuan utama dari masing-masing afiliasi Al Qaeda. Di saat pimpinan Al Qaeda terus menganjurkan serangan terhadap Amerika Serikat secara langsung, beberapa afiliasinya (misalnya AQAP dan AQS) kadang-kadang bertindak sesuai dengan keinginan tersebut. Afiliasi Al-Qaeda hari ini tampaknya lebih fokus untuk mencapai kesuksesan di tingkat lokal dan konflik regional melawan “musuh dekat” organisasi tersebut.
  • Munculnya ISIS (sempalan Al-Qaeda), mendatangkan hambatan dan peluang bagi Al-Qaeda. ISIS juga mencitrakan diri berperan sebagai garda depan jihad global hari ini dan kelompok tersebut telah mengumpulkan sumber daya yang cukup mengesankan dan signifikan hanya dalam beberapa tahun. Namun, ISIS juga telah menarik sebagian besar perhatian dan sumber daya upaya kontraterorisme global yang dipimpin Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, yang telah mengurangi tekanan pada Al-Qaeda di wilayah lain.
  • Al-Qaeda mungkin akan menunggu waktunya untuk mensolidkan organisasinya kembali, meregenerasi, dan menggelorakan kembali jihad global. Sementara dunia berfokus pada ISIS dalam beberapa tahun terakhir, Al-Qaeda telah belajar, menyesuaikan pendekatannya, dan menumbuhkan kepemimpinan generasi berikutnya melalui jihad di Suriah, Yaman, dan lokasi lainnya. Salah satu di antara calon pemimpin berikutnya adalah Hamza Bin Laden, salah satu putra Osama Bin Laden.

 

Baca halaman selanjutnya: Target kebijakan AS atas Al-Qaeda

No Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *