Prediksi 10 Konflik Panas yang Patut Diperhatikan di 2018 (Bagian ke-1)


Ini bukan hanya tentang Donald Trump…

Kalimat tersebut adalah sebuah pernyataan yang lebih mudah ditulis daripada yang diyakini, mengingat kecenderungan perilaku yang berubah-ubah dari presiden AS di panggung dunia, lewat tweet dan ejekannya, kesombongannya mengabaikan kesepakatan internasional, kerelaannya untuk melemahkan diplomatnya sendiri, pilihan yang aneh untuk menempatkan musuh, dan keinginannya yang aneh dalam memilih teman.

Namun, Amerika Serikat yang lebih berfokus pada penyebaran kekuatan ke dunia internasional, kebijakan luar negeri yang semakin militeristik, dan ruang yang semakin menyusut untuk multilateralisme dan diplomasi adalah ciri tatanan internasional yang terlebih dahulu terbentuk, sebelum ia menghuni Gedung Putih, dan tampaknya akan bertahan lebih lama.

Tren pertama , fase penurunan kekuatan AS, telah berproses selama bertahun-tahun, yang dipercepat oleh Perang Irak 2003, yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan Amerika, tapi lebih banyak menunjukkan kelemahannya. Over-intervensi di luar negeri, kelelahan dalam urusan dalam negeri, dan tuntutan dunia untuk menyeimbangkan kembali kekuatan, setelah periode supremasi AS yang relatif singkat yang tidak terbantahkan pada 1990-an, membuat fase penurunan tersebut kemungkinan tidak dapat dihindari.

Kebijakan Trump “America First” menunjukkan pandangannya yang berbahaya, eksklusif, dan tidak toleran. Kegagalannya untuk menghargai nilai aliansi terhadap kepentingan AS dan penghinaannya terhadap sekutu abadinya terkadang sangat merugikan AS sendiri. Keluhannya tentang akibat dari intervensi luar negeri AS menunjukkan bahwa ia tidak berintrospeksi mengenai akibat yang harus dihadapi oleh orang-orang yang terkena intervensi tersebut. Sebaliknya, ia hanya memusatkan perhatian pada biaya yang dihabiskan oleh pihak yang melakukan intervensi itu.

(Baca juga: Konflik Yaman, Bukti Amerika Gagal Mengontrol Perang)

Tren kedua, meningkatnya penggunaan militerisasi dalam kebijakan luar negeri. Trump menunjukkan pujian bagi para jenderal dan penghinaan terhadap para diplomat; menteri luar negerinya memiliki kecenderungan yang lebih aneh lagi untuk mengoyak institusi tempat yang dia pimpin. Tapi mereka memperbesar pola yang lebih luas dan lebih tua. Ruang untuk diplomasi menyusut jauh. Sepanjang zona konflik, para pemimpin semakin cenderung lebih memilih untuk berperang lebih banyak daripada berdialog. Berperang dengan lebih banyak melanggar norma-norma internasional, daripada menaatinya.

Hal ini turut berperan banyak pada bagaimana retorika kontraterorisme telah mendominasi kebijakan luar negeri dalam teori dan praktik. Ini telah memberi lisensi kepada pemerintah untuk memberi label pertama kepada lawan bersenjata mereka sebagai teroris dan kemudian memperlakukan mereka seperti itu. Lebih dari satu dekade operasi militer Barat yang intensif telah memberi kontribusi pada lingkungan yang lebih permisif untuk penggunaan kekuatan militer. Banyak konflik baru-baru ini melibatkan kawasan geopolitik yang berharga, meningkatnya persaingan kekuatan besar regional, lebih banyak keterlibatan pihak luar di dalam konflik, dan muncul-berkembangbiaknya kelompok bersenjata.

Tren ketiga adalah erosi multilateralisme. Mantan Presiden Obama berusaha mencegah penurunan kekuatan Amerika dengan memperkuat kesepakatan internasional, seperti kesepakatan perdagangan, kesepakatan iklim di Paris, dan perundingan nuklir Iran, Presiden Trump mundur dari semua itu. Dimana Obama memilih pembagian beban, naluri Trump adalah untuk menumpahkan beban.

Bahkan dinamika ini pun memiliki akar yang lebih dalam. Dalam masalah keamanan dan perdamaian internasional khususnya, multilateralisme telah dilakukan selama bertahun-tahun. Permusuhan antara Rusia dan negara-negara Barat telah membuat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mandul pada penanganan konflik besar sejak intervensi di Libya pada tahun 2011.

Kemudian, tak dapat dihindari, sebagian besar adalah tentang Trump.

Ancaman yang paling mengerikan pada tahun 2018 adalah perang nuklir di Semenanjung Korea dan sebuah konfrontasi yang mengadu Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya melawan Iran. Hal ini dapat diperparah dengan tindakan, kelambanan, dan keanehan Trump. Tuntutan AS (dalam kasus denuklirisasi Korea Utara,; renegosiasi nuklir Iran atau renegosiasi regional unilateral) tidak realistis tanpa keterlibatan diplomatik serius atau kesepakatan timbal balik. Kemungkinan pertama, Washington bisa saja menghadapi provokasi perang nuklir untuk menghindarinya, dan yang kedua, ada kemungkinan Trump justru membahayakan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Titik api potensial ketiga yang tidak berhasil masuk ke dalam 10 besar – karena datang sangat terlambat dan sangat tak terduga  adalah soal Yerusalem. Pada saat penulisan, kasus ini belum meledak. Namun, keputusan administrasi Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel untuk alasan politik domestik semata, tanpa kemungkinan adanya kebijakan luar negeri, harus diberi peringkat utama sebagai contoh malpraktik proses diplomasi.

Ada banyak hal yang bisa dipicu oleh tren yang dominan. Orang-orang Eropa membela kesepakatan nuklir Iran dan mungkin akan memperdalam keamanan bersama dan independensi strategis mereka sendiri. Presiden Emmanuel Macron menguji jangkauan diplomasi Prancis, dan konsensus internasional tentang tindakan melawan perubahan iklim yang telah diadakan.

Mungkin negara-negara Afrika, yang sudah memimpin upaya untuk mengelola krisis di benua ini, akan melangkah lebih maju di Republik Demokratik Kongo atau di konflik besar lain di Afrika. Mungkin mereka atau bermacam-macam aktor lainnya dapat membuat banyak pihak terlibat dalam kasus ini dan berdialog, untuk meredakan krisis dan bukan memperburuknya.

 

Baca halaman selanjutnya: Inilah 10 Konflik potensial yang patut dicermati pada tahun 2018